• slide nav 1

    Salim Business Group

    Kehidupan terbaik yakni hidup sukses bahagia dan berkah ...
  • slide nav 2

    Ekselensia Training

    Membangun pelatihan yang terbaik dan terpercaya sebagai sarana percepatan dalam mencapai kehidupan terbaik...
  • slide nav 3

    Impian Hari Ini...

    Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok
  • slide nav 4

    Trainer

    Lima Level Trainer...
  • slide nav 5

    Alasan!

    Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan ...
  • slide nav 6

    Memulai Usaha

    Tiga Langkah Menuju Bisnis yang Sukses...

Selamat Datang di Website Salim Business Group

"Kita dibatasi bukan oleh kemampuan kita, tapi oleh visi kita.” Jonathan Swift (1667—1745), pengarang dan sastrawan Irlandia"

Delete this element to display blogger navbar

0 Sekolah yang Mendidik

Mengajarkan kepada anak untuk berpikir, bersikap dan berperilaku baik tidak cukup untuk melahirkan anak-anak yang baik. Apalagi sekedar membiasakan anak dengan kebaikan, tidak cukup untuk menjadikan sebuah sekolah dianggap sebagai sekolah yang baik. Ada hal lain yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah. Ada budaya sekolah, iklim kelas yang mendukung anak untuk senantiasa berpikir, bersikap dan berperilaku baik, guru-guru yang memiliki perhatian total serta kecintaan terhadap tugas mendidik, dan orangtua yang memiliki kepercayaan tinggi (trust) terhadap sekolah. Ini menuntut sekolah untuk mampu menjadi lembaga yang memiliki tingkat kelayakan untuk dipercaya (trustworthiness) yang sangat kuat. Tanpa itu, tidak bisa membangun kepercayaan dari orangtua meskipun sekolah sudah berkali-kali menyelenggarakan acara untuk meningkatkan reputasi sekolah di mata orangtua.

Sangat berbeda antara meningkatkan derajat kelayakan lembaga untuk dipercaya (trustworthiness)dengan meminta orangtua untuk percaya penuh. Yang pertama menuntut sekolah agar terus berbenah dan berusaha dengan sungguh-sungguh menjaga amanah yang diberikan oleh orangtua terhadap sekolah, yakni berusaha memberikan pendidikan terbaik, mengarahkan anak didik agar senantiasa lurus dalam berpikir dan benar dalam berkeyakinan, serta membuka diri untuk menerima masukan dari orangtua. Sekolah merasa senang terhadap niat baik orangtua meskipun boleh jadi apa yang disampaikan orangtua tidak tepat. Sekolah merasa senang karena melihat iktikad baik orangtua, sehingga sekolah tidak sibuk membela diri.

Sesungguhnya lembaga yang memiliki integritas sangat tinggi lebih mencintai kebaikan –termasuk di dalamnya niat baik orangtua—sekaligus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya di sekolah. Ia lebih suka untuk menambah kesempatan berbenah. Sebaliknya, sekolah yang kehilangan visi akan sibuk membangun reputasi. Caranya dengan menciptakan prestasi, pengakuan dan rekam jejak yang positif. Di luar itu, ada sekolah-sekolah yang buruk, meskipun di luar tampak sangat baik. Sekolah jenis ini bukan membangun reputasi, tetapi melakukan pencitraan melalui prestasi yang tampaknya memukau. Padahal prestasi tersebut bukan merupakan hasil jerih-payah sekolah, atau prestasi tersebut tidak menggambarkan kualitas inti sekolah, yakni pendidikan. Bukan tidak boleh berprestasi dalam bidang olahraga dan seni. Tetapi tanpa prestasi dalam bidang yang menjadi tugas pokok sekolah, berbagai gelar tersebut tak ada nilainya.

Pertanyaannya, apa yang bisa mengantarkan sekolah menjadi lembaga pendidikan yang baik dan memiliki integritas tinggi? Pertama, kualitas kepemimpinan kepala sekolah dan wakil-wakilnya(prinsipalship) beserta lembaga yang mengelola. Kedua, totalitas mendidik dari para pengajar. Ini tampak dari tinggi rendahnya passion (kegairahan mengajar yang sangat tinggi) dari para guru yang meliputi kecintaannya terhadap profesi sebagai guru, kecintaan yang sangat besar terhadap anak didik, obsesi yang sangat tinggi untuk mendidik para siswanya menjadi manusia ideal dan terikat secara emosi dengan cita-cita tersebut, memiliki kesediaan meluangkan waktu untuk memperhatikan para siswanya dan sekaligus memiliki kemauan belajar dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan kemampuan maupun kualitasnya sebagai guru. Sesungguhnya, unsur yang ada pada passion antara lain mencakup obsesi, entusiasme dan ikatan emosi yang kuat sehingga bersemangat (zeal) dengan apa yang digeluti. Jika tiga hal tersebut tidak ada, hampir pasti guru tidak memiliki kegairahan (passion)sebagai pendidik.

Tetapi, tanpa kesediaan untuk belajar, guru akan jumud atau bahkan frustasi meskipun ia memiliki obsesi, entusiasme dan semangat yang menyala-nyala (zeal) disebabkan adanya ikatan emosi yang kuat.

Masalahnya adalah, guru-guru semacam itu sulit sekali kita peroleh melalui proses rekrutmen terbuka. Yang paling memungkinkan adalah melalui proses pencarian dan pendekatan kepada orang-orang memenuhi kriteria agar mereka bersedia menjadi guru. Masing-masing membawa konsekuensi bagi sekolah.

Nah.

Kemitraan Sekolah dan Orangtua
Sekolah yang baik tidak bisa dibeli karena ia berdiri untuk sebuah prinsip. Ia memperjuangkan idealisme. Ia sedang ingin mewujudkan sebuah cita-cita mulia. Cukuplah kita merasa khawatir jika sekolah lebih banyak menonjolkan kegiatan-kegiatan populis untuk mengambil hati orangtua daripada melakukan upaya berkesinambungan agar orangtua turut memperjuangkan idealisme tersebut, sekurangnya bersikap hormat terhadap idealism sekolah serta prinsip-prinsip yang ditegakkan oleh lembaga. Sekolah yang mudah ikut arus, menuruti kemauan “pasar” dan larut dalam trend, hampir pasti merupakan lembaga yang missi ideologisnya lemah dan visinya tidak jelas.

Ini bukan berarti sekolah mengabaikan peran orangtua. Tanpa ada komitmen orangtua untuk berubah, maka pengajaran, pembiasaan dan pendidikan yang dilakukan oleh sekolah bisa mentah. Tetapi sekolah yang baik tetap bertumpu pada proses yang terencana di sekolah. Sekolah tidak bisa mengandalkan orangtua karena meskipun sama-sama memiliki komitmen yang sangat tinggi, wujud komitmen itu berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahaman dan kemampuan orangtua.

Disamping itu sekolah juga harus menyadari bahwa tidak mungkin menyamakan cara orangtua mengasuh anak secara total. Ada banyak hal yang menyebabkan para orangtua –termasuk guru—secara alamiah berbeda satu sama lain, bahkan di antara orang-orang yang memiliki cara pandang sama. Tak ada keraguan sedikit pun bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, ‘Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhum ajma’in merupakan sahabat utama yang penuh kemuliaan, dan khalifah yang mendapat petunjuk (khulafaur rasyidin). Tetapi mereka masing-masing memiliki kepribadian yang unik dan temperamen yang berbeda.

Itu sahabat utama radhiyallahu ‘anhum!! Mereka jauh lebih utama dibanding kita yang hidup sekarang ini. Maka, bagaimana mungkin kita secara total menyamakan cara orangtua murid mengasuh anak dengan cara guru mendidik (atau mengajar?) di sekolah. Jenjang pendidikan berbeda-beda, kemampuan memahami bertingkat-tingkat dan latar belakang sekolah sangat beragam. Padahal, sudah paham sangat berbeda dengan mampu menerapkan dengan baik. Selain itu, mereka menjadi orangtua bukan karena menempuh pendidikan khusus tentang bagaimana menjadi orangtua, tetapi karena mereka sudah punya anak.

Orangtua tidak memiliki persiapan khusus dalam mendidik anak, kecuali orang-orang tertentu saja. Gurulah yang memang sedari awal –seharusnya—mempersiapkan diri bagaimana mendidik para siswa, termasuk menghadapi mereka yang bermasalah perilakunya. Apalagi jika kita perhatikan bahwa waktu efektif anak di sekolah jauh lebih banyak dibanding di rumah, maka seharusnya sekolah menjadi koreksi atas apa yang terjadi di rumah.

Lalu apa harus sama antara sekolah dan rumah? Nilai-nilai dasar yang harus ditegakkan. Ini merupakan tugas sekolah untuk secara berkesinambungan melaksanakan pendidikan bagi orangtua agar bersama-sama anak menghormati, memuliakan dan merasa bangga dengan nilai-nilai itu sehingga amat besar keinginan dari setiap pihak untuk mewujudkan nilai tersebut dimana pun mereka berada. Sekedar paham tak akan membuat mereka bangga.

Wallahu a’lam bish-shawab.

*** Note ini saya kirimkan di majalah Hidayatullah dan akan dimuat di edisi September 2011Berbagai tulisan lain dimuat di majalah Hidayatullah dan bisa diakses online di www.hidayatullah.com (M. Fauzil Adhim
Read more

0 Memilih Sekolah untuk Anak

Memilih Sekolah untuk Anak
Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Apa pun yang Anda harapkan sebelum memasukkan anak ke sebuah sekolah, perhatikan siapa gurunya. Mereka inilah yang paling mempengaruhi perkembangan anak di masa-masa berikutnya, terlebih jika yang Anda inginkan merupakan sekolah sehari penuh (full day school) atau sekolah berasrama (boarding school), baik yang memakai label pondok pesantren atau pun tidak. Semakin efektif seorang guru, semakin besar pengaruhnya terhadap siswa sehingga ia menjadi sosok yang dominan. Kata-katanya didengar, nasehatnya dipatuhi dan larangannya dihormati. Jika ia akrab dengan siswa, keakrabannya tidak membuatnya kehilangan kehormatan. Jika ia tidak akrab dengan siswa, ketidakrabannya bukan menjadi sebab kuatnya rasa takut dalam hati siswa. Sesungguhnya wibawa yang kuat menjadikan siswa merasa segan, sementara rasa takut menimbulkan rasa enggan untuk mendekat.

Jadi, pertanda apakah jika guru banyak berkeluh-kesah tentang betapa sulitnya menasehati siswa? Ini menunjukkan bahwa ia termasuk guru yang tidak efektif. Jika keluhan semacam itu merata pada hampir semua guru, langkah berikutnya yang perlu Anda lakukan hanya satu: memeriksa siapakah yang mendaftarkan diri sebagai siswa di sekolah tersebut? Jika anak-anak yang masuk sebagai siswa baru memang sedari awal sudah bermasalah, berarti Anda sedang berada di sekolah yang tidak efektif. Mereka lemah dalam strategi pengelolaan siswa dan tidak memiliki visi pengasuhan yang jelas. Tetapi Anda masih mempunyai harapan jika sekolah memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mengubah siswanya. Begitu pula guru-gurunya, sangat besar perhatiannya terhadap perbaikan dan kemajuan siswanya. Jika rata-rata siswa yang masuk sekolah tersebut sebenarnya bukan anak bermasalah, berarti Anda sedang berada di sekolah yang sakit. Manajemen sekolah buruk dan guru-guru tidak memiliki kompetensi pengelolaan siswa maupun pengelolaan kelas. Keadaan semacam ini akan berpengaruh besar baik terhadap sikap siswa, perilaku maupun prestasi akademik mereka.

Tentu saja guru yang baik dan sekolah yang efektif bukan tidak pernah membicarakan masalah siswa. Justru sekolah efektif kerapkali secara sengaja meluangkan waktu khusus setiap minggunya untuk membicarakan berbagai masalah yang mereka hadapi dan boleh jadi apa yang dianggap masalah di sekolah tersebut sama sekali tidak dianggap masalah di sekolah lain. Sekolah efektif dan guru-guru hebat bersemangat membicarakan masalah siswa dalam rangka meningkatkan kualitas anak didiknya ke tingkat yang lebih tinggi. Jika pun masalah yang mereka bicarakan merupakan ketidakpatutan (perilaku bolos, melecehkan teman dan sejenisnya), guru yang hebat akan fokus pada upaya menemukan jalan keluar. Solusi. Bukan sibuk dengan masalah itu sendiri. Apalagi sampai asyik menggunjingkan anak tersebut.

Yang terakhir ini, yakni perilaku guru yang senang membicarakan masalah siswa untuk menemukan keasyikan menggunjing siswa atau pun berkeluh-kesah, merupakan tanda bahaya sangat serius terutama di jenjang pendidikan anak usia dini. Pastikan, Anda segera memindahkan anak ke sekolah yang lebih positif bagi perkembangan anak jika guru-guru semacam itu masih tetap bertahan. Mereka tidak mau berubah, tetapi tidak bersedia untuk berhenti menjadi guru.

Di jenjang pendidikan apa pun, anak-anak kita memerlukan guru yang hebat. Mereka bukan saja mampu menyampaikan materi pelajaran dengan baik sehingga anak mudah memahami. Lebih penting dari itu mereka mampu mempengaruhi pikiran, perasaan dan sikap siswa. Mereka menginspirasikan kebaikan, nilai-nilai luhur dan karakter yang mulia. Bukan hanya menjelaskan dan memberi serangkaian instruksi.

Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebelum memasukkan anak ke sebuah sekolah. Pertama, integritas pribadi para pendidiknya. Mereka yang sangat kuat integritasnya akan mendahulukan nilai yang mereka pegangi, aqidah yang mereka yakini. Mereka juga sangat peka terhadap prinsip-prinsip yang harus ditegakkan dalam hidup. Mereka mampu memilih hal yang kurang menyenangkan bagi dirinya, meski ada pilihan yang lebih menggembirakan, dikarenakan pilihan yang kurang menyenangkan tersebut lebih bersesuaian dengan keyakinan yang dipeganginya. Kedua,motivasi dan kecintaannya terhadap profesi sebagai guru. Ketiga, kompetensi yang berkait dengan bidang keahlian yang diajarkan maupun kecakapan mengajarkan kepada siswa.

Ketiga aspek tersebut harus ada pada diri guru. Tetapi jika kita harus memilih, maka yang paling penting adalah aspek integritas. Inilah yang paling sulit dibentuk dan sekaligus sangat menentukan kualitas pribadi seorang guru. Tingginya jenjang pendidikan dan ungulnya kompetensi tidak akan bernilai apa-apa jika guru tidak memiliki integritas yang kuat.
Seorang guru harus memiliki kredibilitas yang tinggi. Sekali rusak, kredibilitas itu sulit dipulihkan. Tetapi kredibilitas masih lebih mudah dibangun kembali daripada integritas. Begitu pula motivasi. Meskipun membangun motivasi jauh lebih sulit daripada membangun kompetensi, tetapi masih lebih mudah dibanding membangun integritas. Menyemangati guru melalui training motivasi memang mudah, tetapi membangun pribadi yang memiliki motivasi intrinsik sangat kuat memerlukan perencanaan serta kesediaan untuk bersabar dan bersungguh-sungguh.

Jadi, perhatikan integritas guru dan lembaganya lebih dulu. Baru motivasi guru selaku pengajar, lalu kompetensinya baik dalam bidang yang diajarkan maupun dalam kemampuannya mengajar. Guru yang kurang kompeten, akan mudah mencapai tingkat kemampuan yang diharapkan melalui serangkaian training, proses pendidikan melalui kursus singkat maupun kuliah atau kegiatan belajar otodidak jika mereka memiliki motivasi yang sangat kuat.

Nah, apa yang sudah Anda persiapkan untuk memastikan anak-anak memperoleh pendidikan terbaik?
Selebihnya, ada yang perlu kita perhatikan. Jika sekolah dasar berkewajiban meletakkan dasar-dasar pengetahuan agar anak mampu mengembangkan keterampilan belajar di masa-masa berikutnya serta menguasai konsep dasar yang sangat menentukan bagi upaya untuk menguasai ilmu pengetahuan yang lebih lanjut, maka jenjang pendidikan SLTP merupakan masa dimana anak-anak perlu mengembangkan diri serta memiliki orientasi belajar yang kuat. Pada masa ini, anak memerlukan figur yang kuat. Anak-anak juga memerlukan dasar-dasar berpengetahuan sehingga mereka memiliki kecintaan yang kuat terhadap belajar dan kecenderungan yang besar terhadap ilmu. Ini merupakan tugas guru-guru SD yang perlu memperoleh penguatan di SLTP, sebelum kelak akhirnya mereka mengembangkan kompetensi akademik maupun kecakapan profesional pada jenjang pendidikan SLTA.

Yang Khas Pada Remaja Awal
Satu lagi yang harus kita ingat. Pada masa remaja awal, anak memiliki dorongan kuat dalam beberapa segi. Pertama, mereka mulai menyukai lawan jenis. Ada ketertarikan secara seksual yang sekaligus menandai peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa transisi ini mereka memerlukan orientasi seks yang baik, misal melalui pendidikan yang membangun wawasan keluarga sembari pada saat yang sama mereka belajar tentang etika dan aturan mengenai pergaulan dengan lawan jenis. Jika ini tidak kita perhatikan, mereka akan menyibukkan diri dengan hasrat mereka terhadap lawan jenis.

Kedua, mereka sedang ingin menunjukkan siapa dirinya. Mereka memerlukan kepercayaan untuk bertanggung-jawab sekaligus kesempatan untuk unjuk prestasi. Jika mereka tidak mampu secara akademik, mereka perlu prestasi yang membanggakan di bidang lain. Jika dua-duanya tidak mampu, sementara tidak ada figur yang mereka hormati, maka mereka akan mencari pengakuan melalui kegiatan-kegiatan negatif seperti tawuran.

Ketiga, mereka sedang mempertanyakan nilai-nilai dasar. Pada saat yang sama, mereka sedang berada pada situasi yang sangat bersemangat untuk menjadi manusia idealis. Inilah masa ketika mereka mulai berani menunjukkan pemberontakan. Dan ini merupakan potensi besar jika ada figur kuat yang berpengaruh pada diri mereka. Di sekolah, gurulah yang harus menjadi figur berpengaruh tersebut!

Nah, siapakah guru yang akan mempengaruhi anak Anda
Read more

0 Sekolah yang Aneh

Bagaimana mungkin kita bicara cara, tetapi tidak jelas apa tujuannya. Sangat mengherankan kalau kita sibuk berbicara tentang metode pembelajaran, tetapi belum merumuskan apa yang ingin kita hasilkan dari pembelajaran itu. Sama anehnya dengan pembicaraan yang riuh rendah tentang kurikulum, tetapi tidak ada pembicaraan tentang lulusan seperti apa yang ingin kita hasilkan dan mengapa itu kita perlukan. Serupa dengan itu, sering guru bertanya bagaimana cara efektif menangani kenakalan siswa, tetapi mengabaikan apa sebabnya siswa melakukan kenakalan yang ia keluhkan. Mereka ingin menjadi guru yang disegani, tetapi tidak memahami siapa yang dihadapi.

Banyak guru yang terbiasa menuliskan tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus dari materi yang diajarkan, tetapi sedikit sekali yang mampu merumuskan sendiri. Padahal, sangat berbeda antara menuliskan dengan merumuskan. Seorang guru yang hanya menuliskan, hampir pasti hanya mengajarkan materi yang ada tanpa mampu mengantarkan peserta untuk untuk benar-benar memahami. Atau mereka memahami yang sepotong, tetapi sulit melihat gambarannya secara keseluruhan. Akibatnya, pembelajaran di kelas hanya menyiapkan siswa untuk mampu menjawab pertanyaan, mengerjakan soal dan menyebutkan kembali apa yang telah diterima. Mereka memiliki kemampuan (ability) untuk mengerjakan soal-soal, tetapi tidak memiliki kompetensi. Sepintas sama, tetapi sangat berbeda antara keduanya.

Tanpa memahami yang umum (mujmal) dari yang rinci, sebagaimana memahami yang pokok (ushul) dan yang cabang (furu’), maka proses pembelajaran akan cenderung terjebak pada cara. Tidak ada kreativitas, tidak ada inovasi. Yang lebih parah, pengajar bahkan bisa menolak ide-ide unik siswa dalam menyelesaikan masalah. Sebabnya, pengajar tidak memahami arah pembelajaran. Atau pengajar bisa merespon dengan baik ide-ide unik siswa, tetapi tidak mampu menautkan dengan tujuan pendidikan.

Sulit membayangkan, tetapi inilah yang terjadi dalam pendidikan kita. Bukan hal yang aneh jika Anda bertanya kepada guru tentang tujuan pendidikan, arah pembelajaran atau yang serupa dengan itu, lalu memperoleh jawaban yang indah tapi tidak jelas gambarannya. Jangan kaget juga jika Anda bahkan tidak memperoleh jawaban minimal yang memuaskan. Sebabnya, banyak guru yang menjalani pekerjaan tanpa memiliki missi yang kuat, visi yang jelas dan kecintaan yang tinggi (passion) terhadap profesi. Lebih parah lagi, jangankan guru, sekolah pun tidak memiliki impian yang jelas karena mereka memang tidak memiliki alasan mendasar yang kuat mengapa harus mendirikan lembaga pendidikan. Padahal, alasan mendasar inilah yang seharusnya senantiasa mengawal sekaligus memandu proses pembelajaran dan pendidikan agar tidak kehilangan “ruh”.

Lemahnya missi dan miskinnya pemahaman yang utuh terhadap konsep pendidikan yang dijalankan, menyebabkan guru sulit melihat jauh ke depan dari setiap hal yang ia terapkan. Guru lebih banyak memperhatikan efek seketika, paling jauh efek jangka pendek dari proses pembelajaran. Kadang guru bahkan tidak peduli dengan apa yang terjadi selagi peserta didik masih menunjukkan kemampuan menyerap pelajaran dengan “relatif” baik.Yang lebih parah, guru bahkan tidak peduli apa yang terjadi. Ia berdiri di depan kelas bukan untuk mengajar dan mengelola kelas. Ia berdiri di depan kelas hanya karena ia dibayar untuk itu. Berbicara panjang lebar tentang materi yang diajarkan, tetapi tidak peduli apa yang terjadi pada peserta didik. Mendengarkan atau tidak, menyimak atau acuh, ia tidak peduli. Ia tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memecahkan masalah. Kalau kemudian merasa terganggu, jurus yang paling mudah adalah mengadukan kepada orangtua agar mendidik anaknya dengan baik. Padahal orangtua tidak menempuh pendidikan keguruan.

Rasanya aneh, tetapi orang-orang yang tak layak menjadi guru –atau bahkan sekedar pengajar—agaknya semakin banyak menyesaki ruang-ruang kelas anak kita.

Jika guru tidak memiliki missi ideologis yang kuat mengapa memilih profesi sebagai pendidik dan pada saat yang sama miskin konsep, hampir pasti ia hanya memperhatikan efektivitas pembelajaran. Bentuknya bisa berupa perhatian besar terhadap metode-metode paling praktis yang memudahkan pembelajaran hingga yang mencari jalan pintas agar anak-anak bisa jenius secara instant. Bisa juga berupa upaya sungguh-sungguh agar anak mengerti apa yang diajarkan, tetapi tidak jarang yang hanya mencari segala cara agar siswa mampu mengerjakan soal meskipun ia tahu bahwa siswa sebenarnya tidak memiliki penguasaan materi yang matang. Sikap yang pertama, yakni kesungguhan agar anak mengerti apa yang diajarkan, merupakan hal yang baik dan sepatutnya dimiliki setiap guru. Tetapi sekali lagi, tanpa penguasaan konsep yang matang, guru mengajar hanya sebatas agar siswa mampu memahami pelajaran. Tidak lebih dari itu. Siswa tidak mampu melihat hubungan antara apa yang ia pelajari dengan kehidupan sehari-hari maupun dengan pelajaran-pelajaran lain.

Sementara tidak adanya missi ideologis pada diri guru menyebabkan tidak mungkin ada proses integrasi antara nilai-nilai dengan materi pelajaran. Boleh jadi ada penggabungan antara agama dengan materi pelajaran, tetapi itu bukan integrasi. Bukan terpadu. Penggabungan itu hanya menempelkan saja.

Nah.

Keharusan untuk Berbeda
Ada pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh setiap guru sekolah Islam, terlebih untuk sekolah yang mengklaim sebagai sekolah Islam terpadu –apa pun istilahnya. Pertanyaan mendasar ini jika benar-benar dijawab secara serius, maka harus melahirkan perbedaan yang juga sangat mendasar dibanding sekolah yang ada. Pertanyaan itu sangat sederhana, yakni mengapa sekolah ini harus berdiri. Jika sekedar untuk mencerdaskan, sesungguhnya telah banyak sekolah yang melahirkan para juara. Dan setiap sekolah juga merasa mencerdaskan peserta didiknya.

Ini berarti, harus ada jawaban yang lebih mendasar dan kemudian melahirkan perbedaan signifikan. Jika sekolah Islam terpadu (atau integral) hanya bertujuan mencetak siswa cerdas, terampil dan memiliki pemahaman Islam yang baik, maka kita bisa berkata bahwa telah banyak madrasah ibtidaiyah di mana-mana. Begitu juga sekolah yang berbasis pondok pesantren atau pun sekolah yang dilengkapi dengan pondok pesantren maupun sekedar asrama yang dilengkapi dengan kegiatan dieniyah. Mungkin agak membingungkan, tetapi tiga jenis sekolah – asrama ini sangat berbeda arah dan kebijakannya.

Jika pertanyaan mendasar ini mampu dijawab dengan baik oleh guru maupun sekolah, maka dengan sendirinya akan tercermin pada bagaimana mereka berkomunikasi, lebih-lebih dalam masalah kebijakan.

Secara sederhana, ada tiga jenis perbedaan. Pertama, sekolah menciptakan perbedaan dibanding sekolah lain semata-mata karena ingin berbeda, tetapi tidak ada pijakan ideologis yang kuat. Serupa dengan itu adalah perbedaan yang muncul secara alamiah. Keduanya termasuk perbedaan yang “asal beda”. Kedua, sekolah secara serius melakukan pembedaan, berusaha mencari dan menemukan hal-hal berbeda yang unik dan bisa menjadi nilai lebih agar memiliki daya tarik yang tinggi. Sekolah sengaja memunculkan perbedaan sebagai strategi pemasaran. Inilah yang biasa disebut diferensiasi. Ketiga,sekolah secara sadar berbeda dan menjaga perbedaan tersebut secara serius karena terikat dengan alasan mendasar mengapa sekolah itu berdiri dan terobsesi oleh apa yang menjadi tujuan besar sekolah yang bersifat khas. Inilah perbedaan yang seharusnya dimiliki oleh setiap sekolah Islam, terlebih bagi sekolah yang telah memberi julukan “wah” untuk dirinya sendiri.

Pertanyaannya, dimana kita bisa menjumpai sekolah semacam ini? Hari ini banyak sekolah Islam yang lebih suka berbicara dan menulis di brosurnya tentang hal-hal menarik, tetapi tidak menunjukkan ruh Islam di dalamnya. Sekolah Islam lebih fasih berbicara tentang moving class, quantum learning dan sejenisnya daripada tarbiyah atau syakhsiyah. Bukan tidak boleh mempelajari itu semua. Tetapi seharusnya pertanyaan mendasar tersebut sudah dijawab dengan tuntas dan dijabarkan dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran sehari-hari.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Oeh Mohammad Fauzil Adhim
Read more

0 Hari-hari Mendatang Anak Kita

Apakah tantangan yang kita hadapi berbeda dengan tantangan yang dihadapi orang-orang sebelum kita? Sekilas mungkin ya, tetapi jika kita mau mencermati lebih jauh, rasanya tak ada perubahan yang bersifat prinsip. Hari ini sebagian orangtua mungkin sedang resah oleh hiruk-pikuk pornografi yang beredar melalui perangkat elektronik di sekitar kita. Tetapi jika kita mau jujur, generasi sebelum kita juga menghadapi tantangan serupa dalam mendidik anak-anak mereka. Hanya saja bentuknya beda. Sekarang sebagian anak menyaksikan pornografi melalui HP, sedangkan dulu melihat di sungai-sungai atau pemandian umum.

Apakah situasi zaman kita benar-benar sangat berbeda dibanding zaman-zaman terdahulu? Jika benar zaman kita sangat berbeda, niscaya tak ada lagi gunanya kitab suci. Begitu pula berbagai pedoman pendidikan yang ditulis orang-orang terdahulu, tak ada satu pun yang dapat kita ambil sebagai petunjuk. Kita benar-benar menghadapi situasi yang tak dapat kita rumuskan dan karena itu tidak dapat kita duga apa yang akan terjadi. Kita harus memiliki acuan yang sama sekali baru. Tetapi apa yang menjadi dasar dari acuan yang sama sekali baru tersebut? Jika kita mendasarkan pada teori-teori yang telah ada, berarti kita meyakini bahwa ada prinsip-prinsip dasar yang berlaku untuk berbagai zaman yang berbeda.

Jadi, apakah zaman kita sekarang ini benar-benar berbeda? Jika kita meyakini agama ini berlaku hingga akhir zaman, maka kita harus menemukan bahwa sesungguhnya tak ada perubahan yang benar-benar berbeda. Prinsip-prinsip dasar tidak mengalami perubahan. Tetap. Bentuk-bentuk tantangannya saja yang berbeda. Prinsip-prinsip dasar inilah yang perlu kita ketahui, kita pegangi dengan sungguh-sungguh dan kita jadikan pedoman dalam menyiapkan bekal bagi masa depan anak.

Kita mencatat bahwa di setiap zaman, di satu tempat yang sama lahir orang-orang baik maupun orang-orang buruk. Ini berarti, betapa pun lingkungan sangat berpengaruh, tetapi yang paling berperan adalah bagaimana orangtua membekalkan nilai-nilai hidup kepada anak. Bukan lingkungan. Bukan zaman saat ia dibesarkan.
Masalahnya adalah, banyak orangtua yang hanya bersibuk membangun keterampilan dan kemampuan kognitif. Itu pun terkadang lebih dangkal lagi, yakni sekedar prestasi akademik yang kerapkali tidak menunjukkan kompetensi anak, melainkan sekedar kemampuan mengerjakan soal.

Jika anak-anak kita besarkan dengan keterampilan, kemampuan kognitif dan fasilitas semata, mereka akan kehilangan arah begitu menginjak usia remaja atau bahkan sebelum itu. Anak-anak itu tidak bisa mengarahkan dirinya sendiri karena tidak memiliki prinsip-prinsip hidup yang kuat, orientasi hidup yang baik dan nilai hidup yang benar-benar berpengaruh. Tentu saja bukan berarti kita mengabaikan kemampuan kognitif. Tetapi menyibukkan diri dengan aspek kognitif tanpa memperhatikan bagaimana menanamkan nilai-nilai kepada anak, akan membuat mereka kehilangan arah. Tak punya pegangan. Mereka akan menjadi orang yang sangat mudah dipengaruhi oleh trend. Apa yang sedang hangat diperbincangkan, itulah yang menyita perhatian.

Saya teringat dengan tulisan David Shenk dalam bukunya yang bertajuk Data Smog. Sebagaimana tergambar dalam judulnya, Shenk secara khusus membahas tentang apa yang terjadi jika pikiran kita banyak dijejali dengan data-data yang tidak kita perlukan. Semakin banyak kotoran data (data smog), semakin mudah kita kehilangan arah, semakin mudah pula kita bersikap reaktif terhadap apa-apa yang sedang terjadi. Pikiran kita dibentuk dan ditentukan oleh media. Sebegitu kuatnya media massa mempengaruhi sehingga seakan-akan telah menjadi tuhan, atau kita bahkan telah mempertuhankan media massa tanpa kita sadari. Lihat saja, apa yang terjadi ketika media massa menyerukan untuk bangun malam menyaksikan siaran langsung sepak bola.

Lalu apa yang bisa kita petik? Dalam situasi ketika banjir informasi sedang mengepung kita, justru orangtua perlu lebih serius membekali anak-anak dengan orientasi hidup yang jelas. Akar dari orientasi hidup itu adalah keimanan kepada Allah Ta’ala. Bukan sekedar pengetahuan tentang agama. Masalahnya adalah, anak-anak kita semakin kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan beragama. Yang disebut dengan PAI (pendidikan agama Islam) seringkali hanya berarti pengetahuan umum tentang agama atau bahkan pelajaran menghafal materi-materi agama. Lagi-lagi, kita lebih mengedepankan pendekatan kognitif. Padahal, penguasaan secara kognitif tidak banyak berpengaruh terhadap sikap dan perilaku.

Berakar pada keimanan, kita harus membangun keyakinan yang kuat dalam diri anak terhadap syari’at Allah. Tak ada keraguan sedikit pun. Kita belajar bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia dan penjelas dari petunjuk-petunjuk tersebut. Tetapi apakah setiap manusia dapat mengambil petunjuk darinya? Tidak. Yang dapat mengambil petunjuk hanyalah mereka yang yakin dan tidak ada keraguan dalam dirinya.

Sekali lagi, ini bukan soal kemampuan kognitif. Ini adalah soal keyakinan. Penjelasan panjang lebar tidak member manfaat apa-apa selain hanya menambah pengetahuan jika mereka tidak yakin. Tetapi jika kita memiliki keyakinan yang kuat, maka bertambahnya pengetahuan akan menambah kuatnya keyakinan.

Satu lagi yang harus kita bangun dalam diri anak: budaya belajar. Pilarnya adalah membaca, khususnya membaca yang bertujuan (purposive reading). Bukan menonton

(oleh M Fauzil Adhim)
Read more

0 Nyanyian Anak Kita?

Anak-anak yang keras itu, dengan apakah kita melembutkan hatinya?
Dulu saya percaya seni bisa melunakkannya. Tetapi tak ada satu pun jaminan ilmiah, tidak juga jaminan dari Allah Ta’ala bahwa seni akan melembutkan jiwa, menghaluskan budi, mengasah kepekaan anak-anak maupun orang dewasa untuk lebih hidup empatinya kepada sesama. Tak ada satu pun bukti ilmiah bahwa musik dengan sendirinya, secara pasti akan membuat anak-anak lebih cerdas, perkembangan emosinya lebih baik dan jiwanya lebih hidup. Sebagaimana bukan seni yang bisa membahagiakan manusia.

Musik memang bisa menghibur, tetapi bukan membahagiakan. Sejumlah riset memang menunjukkan bahwa rangsangan musik klasik merangsang kecerdasan anak, terutama yang masih bayi. Tetapi tidak dengan sendirinya setiap musik klasik mencerdaskan. Musik klasik yang variasi ritmenya dinamis memberi rangsang otak yang lebih kaya dibanding musik klasik yang tenang. Ini senada dengan riset Bradley & Caldwell bahwa ibu yang “ramai”, banyak mengajak bayinya bicara, akan mampu meningkatkan kecerdasan si bayi secara mengesankan. Paul Madaule, penulis buku Earobics, memperkuat hal ini. Ia menunjukkan bahwa suara ibu merupakan gizi terbaik untuk jiwa dan pikiran bayi.

Merujuk catatan Bradley & Caldwell, sering-seringlah mengajak bayi Anda ngobrol, dan berbicaralah kepadanya dengan “meriah” jika Anda ingin punya anak cerdas. Banyak-banyaklah menyempatkan waktu untuk berbincang-bincang, ceritakan kepadanya apa yang sedang Anda lakukan dan tunjukkanlah apa yang ada di sekelilingnya agar otaknya berkembang pesat. Sampaikan kepadanya pesan-pesan Anda karena masa komunikasi pra-simbolik (sebelum anak bisa berbicara) sangat mempengaruhi perkembangan pikiran dan emosi anak di waktu-waktu berikutnya.
Jika ini Anda lakukan, manfaatnya akan jauh lebih besar dibanding musik klasik yang Anda perdengarkan kepadanya. Apalagi yang sekedar senandung tanpa makna, meskipun itu lagu anak-anak. Sebab banyak lagu anak-anak yang tidak bergizi bagi jiwa anak.

Saya bukan mengatakan bahwa seni tidak bisa memberi manfaat. Tetapi harus kita perhatikan bahwa tidak dengan sendirinya setiap seni, setiap musik dan bahkan setiap lagu anak-anak bermanfaat untuk memberi rangsangan kecerdasan yang memadai serta sentuhan emosi yang positif. Sebagian lagu anak-anak justru merusak kemampuan berpikir logis matematis mereka. Lagu berikut ini contohnya:

“Anak monyet di atas pohon. Anak kelinci di bawah tanah.
Anak burung di dalam sangkar. Anak pintar di meja belajar.
Panjang leher namanya Zebra. Panjang hidung namanya gajah.
Panjang tangan itu pencuri. Panjang sabar, kekasih Ilahi.”

Ini berarti bahwa kita selaku orangtua maupun guru harus memperhatikan apa yang kita berikan pada anak-anak kita. Perlu ilmu untuk menjadi orangtua, sebagaimana untuk menjadi seorang guru kita juga harus memiliki ilmu yang memadai agar tidak cuma mengaminkan apa yang dikatakan orang tentang bagaimana harus mendidik anak. Atas pendapat yang tampaknya benar, kita perlu tahu dasar ilmunya agar tidak bertindak gegabah.

Hari ini saya merasakan hal itu!

Kita merasa “keliru” hanya karena tidak mengikuti apa yang “umum” dan yang “umumnya dianggap benar”. Padahal tak ada ilmu yang kita miliki. Salah satu contohnya ya tentang seni tadi. Banyak dari kita mengangguk-anggukkan kepala begitu saja, menganggap benar bahwa menyanyi dengan sendirinya akan melembutkan jiwa, menghaluskan perasaan dan membaguskan budi. Padahal sudah banyak pelajaran di sekeliling kita tentang bagaimana seorang penyanyi harus mengakhiri hidupnya karena tak kuat menahan beban mental. Stress.
Banyak pula yang terlalu menyederhanakan persoalan bahwa gejolak remaja akan terselesaikan apabila mereka menyalurkan energinya dengan olah raga. Padahal sebagian jenis olah raga justru memperkuat syahwat.

Tampaknya kita perlu lebih cerdas menjadi orangtua. Tentu saja bukan dengan menolak apa saja tanpa ilmu, sebab ini sama buruknya dengan menerima apa saja karena ikut-ikutan. Di antara bentuk kesenian, juga ada yang bermanfaat untuk melembutkan jiwa. Sebagaimana olahraga juga banyak manfaatnya. Bukankah Rasulullah saw. menganjurkan kita untuk mengajari anak-anak kita berenang, memanah dan berkuda?

Wallahu a'lam bishawab
M. Fauzil Adhim
Read more

0 Saling Mendekati

Pernah berselisih dengan isteri? Alhamdulillah, saya pernah. Sebuah perselisihan yang membuat rumah berkurang keindahannya. Bukan karena terjadi pertengkaran besar, tetapi perselisihan “kecil” (adakah perselisihan yang bisa kita sebut kecil?) membuat apa yang indah dan menyenangkan, terasa hambar dan menegangkan. Penghujung malam yang seharusnya mengantarkan kita pada tidur yang tenang, kali ini menyisakan ganjalan perasaan yang membuat tidur kita seakan terjaga. Mata terpejam, tapi hati gelisah. Ingin memicingkan mata, tetapi daya tahan untuk terjaga sudah melemah.

Apa yang ingin saya ceritakan kepada Anda? Bukan perselisihan itu, tetapi pelajaran besar yang ada di baliknya. Ketika kita menginginkan rumah-tangga kembali dipenuhi kehangatan, maka kita berusaha untuk mendekatinya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Sebab tanpa ketulusan, api yang mulai tersulut tak akan bisa padam, meski api itu masih sangat kecil. Tanpa ketulusan saat mendekati, hati kita akan mudah gerah oleh percikan api perselisihan yang tak seberapa itu, sehingga bisa menyebabkan terjadinya konflik yang lebih besar. Awalnya cuma salah paham, atau ngambek karena tidak terpenuhinya keinginan, ujungnya bisa pertengkaran dan perpecahan yang besar.

Selain ketulusan, kita juga harus bersungguh-sungguh mengupayakan perbaikan. Kita berusaha keras agar gesekan tidak berubah menjadi benturan keras. Sebaliknya, melalui upaya yang sungguh-sungguh, hati kita akan luluh. Cair kembali dari kebekuan.

Agar ketulusan dan kesungguhan itu benar-benar membuahkan hasil yang baik dan kesudahan yang indah, perlu ilmu yang menuntun kita pada tindakan yang benar dan tepat. Kesungguhan tanpa ilmu bisa mengantarkan kita pada keinginan untuk menyelesaikan masalah sesegera mungkin, sehingga justru menyebabkan guncangan kecil itu justru membesar. Masing-masing bersikukuh dengan pendapatnya sendiri. Tak ada waktu untuk berhenti sejenak, merenungi diri dan mengambil jarak dari masalah.

Alhasil, ada ketulusan, ada kesungguhan dan ada ilmu. Berkumpulnya tiga hal ini di atas niat yang mulia insya-Allah meringankan hati kita meneladani Rasulullah saw. dan para sahabat dalam meredam perselisihan rumah-tangga. Kita ikhlas mendengar omelan istri –meski sejauh ini saya tidak pernah dimarahi dengan omelan panjang lebar—karena kita tahu Rasulullah saw. maupun Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pun pernah dimarahi istri, dan beliau berdua diam tidak membantah sembari mendengarkan. Dengan cara inilah api akan padam dan kesejukan hadir kembali dalam rumah-tangga.

Masih tentang mendekati istri. Ada pelajaran lain yang saya petik dari apa yang pernah saya alami serta beberapa kasus yang saya tangani. Konflik sebesar apa pun bisa terselesaikan ketika ada keinginan untuk saling mendekati secara tulus, sungguh-sungguh, disertai ilmu dan berpijak di atas niat yang mulia. Keinginan untuk saling mendekati membuat konflik besar yang seakan sudah diambang bubar, bisa terselesaikan dengan indah. Awalnya saling memendam api amarah, ujungnya hasrat untuk bercumbu mesra.

Ya, saling mendekati. Apa yang membuat masa pengantin baru begitu indah? Karena kita sama-sama saling mendekati. Dari tidak saling kenal, berusaha dengan sungguh-sungguh agar bisa memahaminya dengan benar. Kita berusaha melakukan yang terbaik, mendekati dengan penuh semangat sekaligus berusaha agar kita tidak melakukan kesalahan, menunjukkan perhatian dan menampakkan kerinduan serta hasrat yang menyala-nyala. Inilah yang membuat kita saling jatuh cinta. Inilah yang membuat pernikahan –dalam hal ini masa pengantin baru—terasa begitu hangat.

Agar pernikahan kita senantiasa memberi kehangatan dan membangkitkan semangat hidup yang menyala-nyala, kita perlu sering jatuh cinta. Kita jatuh cinta berkali-kali kepada orang yang sama, yakni istri atau suami kita. Semakin sering kita jatuh cinta lagi kepada istri, semakin besar arti perkawinan itu bagi kita. Kecuali jika cinta kita bertepuk sebelah tangan. Suami jatuh cinta lagi kepada istrinya, tetapi istri masih berbekal cinta yang dulu, cinta di awal pengantin baru.
Jika suami-istri saling jatuh cinta berkali-berkali, dan berupaya agar masih akan ada peristiwa-peristiwa yang membuat mereka saling jatuh cinta, maka bertambahnya usia pernikahan berarti bertambahnya kekayaan cinta pada diri mereka. Bukan karena seringnya bercinta –sebab kadang orang bercinta tanpa cinta—tetapi karena keduanya terus-menerus berusaha untuk saling mendekati.

***
Ada beberapa hal yang kadang membuat kita lupa untuk saling mendekati. Pertama, merasa sudah banyak berbuat sehingga menuntut istri untuk lebih banyak bersikap pro-aktif. Boleh jadi yang kita rasakan benar, tetapi upaya untuk terus-menerus mendekati tak akan terhenti kalau kita menyadari bahwa upaya kita masih terlalu sedikit. Di sisi lain, ini menunjukkan bahwa kita perlu berusaha mengimbangi apa yang dilakukan oleh istri agar ia tidak sampai putus asa karena merasa sudah berbuat banyak tanpa hasil.

Kedua, ingin menjadi pemenang dalam perselisihan. Mungkin kita tidak menunjukkan kemarahan yang berlebihan, tetapi kadang muncul bentuk lain yang tidak kalah buruknya. Kita ingin membuktikan kepada istri bahwa kitalah yang benar. Keinginan ini menjadikan suasana damai yang sudah mulai tumbuh dalam rumah-tangga, kembali dipenuhi perasaan saling jengkel dan bahkan saling dendam. Padahal dalam rumah-tangga yang sehat, tak ada pemenang dan pecundang. Perselisihan harus diselesaikan sehingga membesarkan hati semua pihak, melegakan perasaan masing-masing dan membawa suami-istri pada keinginan untuk terus berbenah menata rumah-tangga.

Ketiga, berkurangnya keterikatan antara suami dan istri karena hadirnya fasilitas yang memudahkan kehidupan. Tanpa sadar, kerap adanya fasilitas membuat kita lupa bahwa ada yang tak bisa tergantikan. Secobek sambal sederhana buatan istri, rasanya mungkin tidak selezat bikinan koki restoran. Tetapi kesediaan untuk menyiapkan dan menghidangkan –atau setidaknya menemani makan—memberi arti yang lebih pada pernikahan.

Apa artinya?

Agar keterikatan hati antara suami dan istri senantiasa terjaga, perlu ada kesediaan untuk memberi sentuhan emosi pada peristiwa rumah-tangga yang bersifat rutin. Kita boleh memiliki beragam fasilitas dalam rumah –dan seharusnya demikian jika kita mampu—tetapi bertambahnya fasilitas harus diiringi dengan semakin eratnya ikatan hati antara suami dan istri.

Di antara fasilitas yang berpotensi merenggangkan ikatan emosi adalah televisi. Suami-istri yang sedang berdua menikmati tayangan televisi, ternyata lebih jarang melakukan komunikasi interpersonal yang hangat dibanding suami-istri yang sedang berada di dapur. Meningkatnya aktivitas menonton televisi, ternyata menurunkan kualitas komunikasi perkawinan (marital communication) antara keduanya, yakni komunikasi yang bermanfaat untuk menghangatkan hubungan dalam perkawinan.

Bertambahnya waktu untuk menonton TV juga membuat “kebutuhan” terhadap hiburan semakin meningkat. Sebaliknya daya tahan untuk melakukan aktivitas produktif menurun. Kita juga semakin cenderung untuk memperoleh hiburan yang bersifat instant. Tanpa usaha yang berarti.

Ini tampaknya sepele. Tetapi jika tidak disadari akan membuat ikatan emosi antara suami dan istri melemah. Tak ada lagi upaya untuk saling mendekati. Tak ada lagi kebutuhan untuk senantiasa bertemu dan bercanda. Kehadiran istri tak lagi menghibur dan menghadirkan kedamaian. Sementara istri juga tenggelam dengan dunianya sendiri.

Jika sudah tidak ada ikatan emosi yang kuat antaranya keduanya, apa lagi yang bisa membuat mereka punya alasan untuk mempertahankan, meningkatkan kehangatan dan membangkitkan kemesraan antar mereka berdua?

Tentu saja, hiburan tidak tabu bagi kita. Bukankah ‘Ali bin Abi Thalib ra. pernah mengingatkan agar kita berhibur sekali waktu? Dengan berhibur, hati tidak akan beku. Tetapi berhibur yang bagaimana? Berhibur yang membuat kehadiran masing-masing semakin berarti. Misalnya, bepergian keluar kota dan makan bersama di atas hamparan tikar sembari menikmati terpaan angin yang sejuk. Atau berhibur yang menantang aktivitas fisik dan mental kita.

Wallahu a’lam bishawab. Semoga pernikahan Anda semakin mesra penuh barakah

sumber : fanpage M. Fauzil Adhim
Read more

0 Sekolah yang Menggairahkan

Perkembangan otak yang paling pesat terjadi pada rentang usia 0-8 tahun, baik secara fisik maupun intelektual. Delapan puluh persen perkembangan otak terjadi antara usia nol sampai dengan enam tahun. Selama rentang waktu tersebut, IQ anak dapat melonjak secara drastis jika memperoleh rangsangan yang tepat dari orangtua maupun pengasuh di day-care -kita menyebutnya TPA-dan play-group. Selanjutnya, peran strategis tersebut dipegang oleh guru TK dan SD kelas bawah, yakni kelas satu sampai dengan kelas tiga (itu sebabnya, perencanaan kurikulum TK perlu dikerjakan bersama dalam satu kesatuan dengan penyusunan kurikulum SD). Inilah masa paling penting untuk membangun budaya belajar. Jika pada masa ini anak sudah memiliki budaya belajar yang tinggi, anak akan mudah mempelajari kecakapan belajar (learning skills) pada periode berikutnya, yakni orientation stage, termasuk membangun orientasi hidup maupun orientasi akademiknya.

Jadi, yang perlu kita bangun pada masa awal perkembangan anak di sekolah adalah budaya belajar(learning culture). Bukan sekedar kebiasaan belajar (learning habit) dimana anak belajar karena sekolah memang menciptakan lingkungan akademik yang menuntut anak belajar, termasuk di dalamnya memberikan tugas-tugas. Setingkat lebih baik adalah munculnya kebiasaan belajar karena lingkungan akademik yang merangsang gairah anak belajar. Anak bersemangat di sekolah sehingga kegiatan belajar terasa menyenangkan.

Apakah sebenarnya semangat itu? Keterlibatan emosi saat melakukan suatu kegiatan sehingga kita merasakan situasi yang mengalir. Keadaan ini bisa terjadi karena hati kita yang gembira, peristiwa sebelumnya yang meluapkan perasaan positif, suasana yang menyenangkan, guru-guru yang mengajar dengan antusiasme yang menyala-nyala, rancangan lingkungan fisik sekolah yang menggugah, dan berbagai aspek lain yang mempengaruhi emosi saat belajar. Semakin tinggi keterlibatan emosi saat belajar, semakin efektif otak kita bekerja. Belajar seharian penuh, tetapi anak merasakannya seperti bermain. Asyik dan menyenangkan.

Sekolah yang menerapkan model belajar sehari penuh (full day), harus memperhatikan ini. Sekolah harus merancang kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, antusias dan positif agar anak memiliki semangat menyala-nyala saat belajar. Jika tidak, anak bisa mengalami stress karena beban belajar yang melampaui "ambang kesanggupan mental". Stress yang berlangsung secara terus-menerus bukan saja melemahkan kemampuan anak. Lebih dari itu, stress berkelanjutan merusak mental dan kepribadian.

Nah.

'Alaa kulli hal, ada hal lain yang perlu kita perhatikan. Suasana belajar yang menyenangkan, guru-guru yang mengajar dengan penuh antusiasme dan rangsangan fisik sekolah yang menggugah memang mempengaruhi emosi anak. Mereka belajar dengan penuh semangat. Tetapi semangat yang meluap-luap hanyalah bekal awal. Perlu ada upaya terencana membangun motivasi anak -tidak terkecuali guru-sehingga melahirkan budaya belajar yang kuat.

Istilah motivasi sering jumbuh dengan semangat. Saya sendiri kadang menggunakan dua istilah tersebut secara tidak tepat. Jika semangat adalah keterlibatan emosi saat melakukan aktivitas, maka motivasi adalah alasan yang menggerakkan seseorang untuk bertindak. Semakin kuat motivasi seseorang, semakin menyala semangatnya. Artinya, motivasi merupakan salah satu faktor pemacu semangat anak. Semakin kuat motivasi, semakin menyala-nyala semangat dalam diri anak.

Budaya belajar (learning culture) sangat dipengaruhi oleh kekuatan motivasi. Jika anak memiliki alasan yang kuat untuk bertindak, dan alasan itu mengakar dalam dirinya, maka ia akan memiliki energi untuk terus belajar. Semakin kuat ia membentuk budaya belajar dalam dirinya, semakin tangguh semangatnya menggali ilmu meskipun lingkungan sekeliling tak sebaik dulu. Ini berarti, kuatnya budaya belajar menjamin berlangsungnya kebiasaan belajar (learning habit) hingga jenjang pendidikan berikutnya, meskipun suasana belajar di jenjang tersebut tak sebaiknya jenjang sebelumnya.

Inilah yang perlu kita sadari ketika ingin mengembangkan budaya belajar. Lingkungan yang mendukung memang sangat perlu. Guru-guru yang ramah, hangat dan bersahabat juga tak dapat ditawar-tawar. Begitu pula lingkungan fisik sekolah yang merangsang minat belajar, betapa pun sederhananya, sangat diperlukan.

Tetapi…

Tanpa membangun motivasi intrinsik yang kuat, anak-anak itu bisa kehilangan gairah belajarnya -bahkan perilaku positifnya-begitu mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ketika masih berada di jenjang sekolah dasar, semangat belajarnya sangat tinggi dan prestasi akademiknya menakjubkan. Begitu memasuki jenjang pendidikan berikutnya, minat belajar ambruk dan perilakunya kurang terarah karena -misalnya-anak kecewa dengan sekolah barunya.

Pada kasus seperti ini, kita bisa menyalahkan jenjang pendidikan berikutnya. Tetapi sekolah sebelumnya, yakni SD, tetap ikut bertanggung-jawab atas kegagalannya membangun motivasi siswa. Keadaan ini bisa terjadi, antara lain karena pihak SD tidak bisa membedakan -atau sengaja tidak membedakan-antara kebiasaan belajar dan budaya belajar. Mirip sekali wujudnya, lain sekali hakekatnya.

Apa yang diperlukan untuk membangun motivasi intrinsik anak? Banyak hal. Yang sangat pokok adalah menanamkan keimanan yang aktif. Maksud saya, sekolah mengajarkan 'aqidah kepada anak bukan hanya sebagai pengetahuan kognitif. Lebih dari itu, sebagaimana sifat ayat-ayat yang pertama diturunkan -secara umum ayat-ayat Makkiyah-menggerakkan mereka untuk bertindak karena Allah dan untuk Allah Yang Menciptakan. Sekolah menggerakkan jiwa anak-anak untuk meneguhkan diri bahwa shalatnya, 'ibadahnya, hidupnya dan matinya hanya karena dan untuk Allah 'Azza wa Jalla semata.

Artinya, 'aqidah yang kuat menjadi daya penggerak (driving force) bagi anak untuk bertindak dan menentukan arah hidup.

Agar guru mampu menanamkan keimanan yang aktif dengan 'aqidah shahihah, tak dapat ditawar-tawar lagi 'aqidah mereka juga harus kuat. Sedemikian kuatnya sehingga ketika berbicara, yang berkelebat dalam benaknya bukan sekedar teknik berbicara, tetapi sudah menyatu dalam dirinya kata-kata bertenaga yang menggelorakan motivasi anak-anak dan membakar semangat mereka untuk melakukan yang terbaik. Kata-kata ini mengalir setiap saat karena memang sudah menyatu dalam diri guru.

Di luar itu, secara terencana sekolah dapat mengadakan kegiatan yang secara khusus dimaksudkan untuk membangun motivasi anak, baik yang bersifat harian, mingguan, bulanan, tahunan atau berdasar rencana kegiatan insidentil. Motivasi harian misalnya diwujudkan dalam bentuk kegiatan apel motivasi setiap pagi.

Selebihnya, guru perlu memberi tantangan yang cukup agar motivasi tersebut tertanam lebih kuat. Tanpa tantangan, anak tidak belajar hidup dalam "dunia nyata". Apalagi jika mereka hanya kita besarkan dengan fasilitas, tanpa tantangan akan membuat mereka seperti ayam sayur. Bukan ayam kampung yang tak jatuh oleh panas dan tak tersungkur oleh hujan.

Artinya, harus ada keseimbangan antara fasilitas dan tantangan. Awalnya tantangan sederhana yang bersifat fisik, lalu secara berangsur kita hadapkan pada tantangan yang lebih memeras pikiran dan tenaga. Pada akhirnya, kita tumbuhkan pada diri mereka kepekaan untuk membaca tantangan bagi keyakinan dan ummat ini.

Wallahu a'lam bishawab.

sumber ; Fanpage M. Fauzil Adhim
Read more
 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More