• slide nav 1

    Salim Business Group

    Kehidupan terbaik yakni hidup sukses bahagia dan berkah ...
  • slide nav 2

    Ekselensia Training

    Membangun pelatihan yang terbaik dan terpercaya sebagai sarana percepatan dalam mencapai kehidupan terbaik...
  • slide nav 3

    Impian Hari Ini...

    Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok
  • slide nav 4

    Trainer

    Lima Level Trainer...
  • slide nav 5

    Alasan!

    Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan ...
  • slide nav 6

    Memulai Usaha

    Tiga Langkah Menuju Bisnis yang Sukses...

Selamat Datang di Website Salim Business Group

"Kita dibatasi bukan oleh kemampuan kita, tapi oleh visi kita.” Jonathan Swift (1667—1745), pengarang dan sastrawan Irlandia"

Delete this element to display blogger navbar

Tampilkan postingan dengan label Kabar Ekselensia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Ekselensia. Tampilkan semua postingan

0 Menakar Manfaat Training

Suatu ketika sebuah sekolah meminta kesediaan saya memberi training untuk para guru dari jenjang TK sampai SLTP. Ceritanya, salah satu guru di sekolah tersebut pernah mengikuti seminar saya, lalu menceritakan pengalamannya kepada rekan sejawat dan atasan. Dari cerita inilah lembaga tersebut tergerak untuk meminta saya memberi training. Training tentang apa? Pokoknya yang bagus untuk guru. Lalu disebutkan beberapa “kebutuhan mendesak” yang ingin diatasi melalui training. Persoalannya, apakah betul masalah tersebut merupakan masalah sesungguhnya? Dan apakah betul training yang dimaksud memang akan menyelesaikan masalah yang sedang meruyak lembaga pendidikan tersebut?

Dalam hal ini ada dua aspek yang perlu dicermati. Pertama, ketepatan memetakan masalah. Kerapkali yang hendak diselesaikan bukan akar masalah, melainkan gejala penyakitnya atau bahkan sekedar masalah ikutan yang kesekian. Jika gegabah memetakan masalah, puluhan kali training tidak akan memberi manfaat apa pun bagi para peserta dan khususnya lembaga (sekolah) yang mengundang, kecuali sekedar menambah wawasan. Bisa terjadi, tingginya frekuensi training hanya sekedar menambah pengalaman menikmati training sehingga bisa membandingkan mana trainer yang lebih menarik. Bukan meningkatkan keterlibatan emosi peserta untuk memperoleh manfaat training bagi kemajuan sekolah.

Kedua, ketepatan memilih bentuk training, termasuk menetapkan skala prioritas training mana yang perlu didahulukan. Kerap terjadi, sebuah lembaga mempunyai sejumlah masalah dan mediator menawarkan sejumlah paket tanpa melakukan asesmen kebutuhan terlebih dulu. Dalam hal ini mediator bisa manajer dari seorang trainer, broker training, atau training center. Berdasarkan tawaran ini, sekolah mengambil paket yang menarik. Umumnya yang diambil adalah paket training yang memperoleh reaksi paling antusias dari peserta di berbagai tempat atau kedekatan materi acara dengan masalah yang terjadi. Sekali lagi, dasar pengambilan keputusan adalah tingkat daya tarik acara. Bukan kesesuaian training dengan kebutuhan riil sekolah. Itu sebabnya sebuah training yang paling baik sekalipun bisa tidak membawa pengaruh apa-apa bagi sekolah, meskipun training dilaksanakan setiap minggu.

Sebelum menentukan jenis, bentuk dan materi training, sekolah perlu melakukan asesmen terlebih dulu untuk menentukan secara tepat kebutuhannya apa; peningkatan kinerja (improving current performance) atau penanganan defisiensi (correcting deficiency). Sekolah yang kinerjanya tidak sehat, potensial konflik dan secara organisasi bermasalah kerapkali menemui hambatan dalam menentukan kebutuhan organisasi karena terlanjur tidak mengenali standar kinerja atau bahkan tidak memilikinya lagi. Standar kinerja dirancukan dengan target yang hendak dicapai atau bahkan visi sekolah maupun yayasan sebagai organisasi induk. Letak kekeliruan itu adalah, training yang seharusnya dimaksudkan untuk menangani defisiensi, tetapi dirumuskan sebagai peningkatan kinerja. Padahal jika masih terjadi defisiensi, maka training peningkatan kinerja tidak akan efektif. Sesering apa pun dilakukan, training tetap saja cuma menjadi hiburan yang menyedot banyak biaya.

Training untuk memperbaiki defisiensi apabila kinerja sekolah tidak sesuai dengan standar yang ada saat ini. Jika sebuah sekolah belum memiliki standar, maka ini sudah menunjukkan bahwa sekolah tersebut memiliki masalah serius dalam defisiensi kinerja, sehingga apa pun trainingnya harus bertujuan mengoreksi defisiensi. Bukan meningkatkan kinerja. Sebab training yang dirancang untuk meningkatkan kinerja tidak akan membawa hasil yang sesuai. Bahkan boleh jadi tidak membawa perubahan apa pun selain pengalaman menikmati kegiatan ice breaking berupa game yang menarik.

Jika training yang dilaksanakan sudah sesuai dengan kebutuhan lembaga (sekolah), berikutnya ada empat hal yang perlu diperhatikan sebagai bahan evaluasi pasca training. Apa saja itu? Pertama,reaksi peserta begitu training usai sampai beberapa saat berikutnya. Kedua, pembelajaran apa yang telah terjadi. Ini meliputi pengetahuan apa yang telah dipelajari, keterampilan apa yang dikembangkan atau ditingkatkan, serta sikap apa saja yang berhasil diubah melalui training. Ketiga, evaluasi terhadap perilaku pasca training. Evaluasi perilaku ini menitikberatkan pada perubahan perilaku yang terjadi beberapa hari atau beberapa minggu setelah training sampai pada kurun waktu tertentu. Apakah perubahan perilaku tersebut bersifat sesaat (immediate effect), jangka pendek (short term effect)ataukah membawa perubahan perilaku yang berkelanjutan. Keempat, evaluasi hasil. Ini berkait dengan peningkatan kualitas apa yang terjadi akibat training, seberapa besar produktivitas meningkat, apa keuntungan teraba (tangible benefits) dari training serta berbagai pertanyaan penting lainnya.

Satu hal lagi. Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa training yang dilaksanakan sekolah hanya memberi efek sesaat atau bahkan hiburan semata, maka ini merupakan peringatan agar Anda menghentikan atau meninjau kembali training yang Anda pilih. Tetapi jika hasilnya sangat positif, sebuah PR menanti Anda. Hasil yang bagus itu dalam waktu yang tidak lama akan hilang bekasnya jika tidak dikelola dengan baik. Perlu ada tindak-lanjut yang kongkret, positif dan berkelanjutan. Tidak lanjut ini bukan berarti menyelenggarakan training berikutnya, tetapi merumuskan langkah yang tepat dan mengimplementasikannya dengan baik. Boleh jadi, hasil dari salah satu rumusan itu adalah menyelenggarakan training lagi. Hanya saja, training yang seperti apa? Kembali lagi, Anda perlu melakukan asesmen kebutuhan training.

Nah, bagaimana dengan training di sekolah Anda

(oleh m. Fauzil Adhim)
Read more

0 Fokuslah jika ingin menjadi HEBAT !


Jika Anda ingin menjadi master di bidang tertentu ingatlah kata-kata ini: berfokuslah pada satu hal atau keterampilan dengan kesetiaan tanpa henti untuk terus melakukan perbaikan, dan berkeinginan kita menjadi yang terbaik. Fokus, perbaikan tiada henti dan keinginan kuat menjadi yang terbaik adalah bahan bakar utama untuk menjadi seorang spesialis. Dan sebagian mayoritas orang besar berasal dari seorang spesialis.

B.J. Habibie adalah seorang spesialis di bidang pesawat terbang. Apakah kesuksesannya murni merupakan karunia alam? Tentu saja jawabannya tidak. Ia mengambil apa yang diberikan alam kepadanya dan menjalankan formula tadi; fokus ditambah perbaikan terus tiada henti dan keinginan kuat untuk menjadi yang terbaik. Lelaki kelahiran Pare-Pare ini tidak ingin menjadi yang terbaik di lima bidang yang berbeda. Misalnya, ia tidak ingin ahli di bidang kereta api atau kendaraan berida empat. Mantan Presiden RI ke tiga ini hanya ingin hebat pada bidang pesawat terbang. Dan ia berhasil.

Michael Jordan fokus pada basket. Cristiano Ronaldo fokus pada sepakbola. Muhamad Yunus fokus pada microfinance. Bill Gates fokus pada software development computer, Dedi Mizwar fokus pada film. Yusuf Mansur fokus pada ilmu sedekah. Hermawan Kertajaya fokus pada dunia marketing. Mereka dan banyak orang lainnya tidak memecah fokus yang ditekuninya. Dan mereka berhasil.
Thomas A Edison mendaftarkan 1.093 paten. Ia juga menemukan bola lampu hingga gramofon. Lelaki yang pernah dicap idiot oleh gurunya ini tidak mencoba untuk menjadi pedagang besar, penyair terkenal, dan musisi ternama. Ia hanya berfokus pada penemuan-penemuannya. Ia juga memperbaikinya setiap hari. Dan selalu terdorong untuk menjadi penemu hebat dan memberi manfaat bagi dunia. Selanjutnya, ia membiarkan waktu yang menciptakan keajaiban. Dan ternyata, keberhasilan mengetuk pintu bagi orang-orang yang memang fokus pada bidangnya. Mereka para spesialis.

Mungkin Anda ingat akan kisah Pablo Picasso. Suatu hari, seorang wanita melihatnya di pasar dan ia mengambil secarik kertas. ”Tuan Picasso, saya adalah penggemar Anda. Maukah Anda menggambar sedikit untuk saya?” Picasso dengan gembira memenuhi permintaan itu dan menggoreskan sebentuk seni di atas kertas yang diberikan. Sambil tersenyum ia mengembalikan kertas itu sambil berkata, ”Nilai kertas ini bisa jutaan dolar lho.” Wanita itu bingung dan berkata,”Tapi tuan Anda hanya perlu waktu 30 detik untuk menghasilkan mahakarya ini.”Sambil tertawa Picasso menjawab, ”saya membutuhkan waktu 30 tahun agar dapat menghasilkan mahakarya dalam waktu 30 detik.”

Ketahuilah apa kelebihan Anda. Temukan talenta Anda, lalu berusaha keraslah sekuat tenaga untuk memoles talenta Anda. Ketahuilah apa yang menjadi bagian terbaik dalam hidup Anda. Anda sangat ahli dan menyenangi hal itu. Bahkan Anda terkadang gelisah ketika Anda tidak melakukan hal itu. Mungkin Anda seorang komunikator yang jago dalam bergaul. Mungkin Anda ahli dalam hal memperlancar keadaan. Mungkin Anda seorang inovator yang mampu melahirkan sesuatu yang baru. Mungkin Anda orang yang tekun menjalankan bisnis walau hasilnya kecil namun volumenya besar. Atau Anda seorang yang ahli memberikan nilai tambah sehingga Anda mampu menjual produk yang sama namun dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Temukan kelebihan Anda, lalu kembangkan. Fokuslah pada kelebihan Anda dan terus menerus diasah, lakukan perbaikan terus menerus, dan berkomitmenlah untuk menjadi yang terbaik di bidang Anda. Saya yakin tak lebih sepuluh tahun dari sekarang Anda akan menjadi orang yang hebat di bidang Anda. Mungkin orang akan membicarakan atau menulis tentang Anda.

Mari bertaruh dengan saya. Jika Anda sudah menemukan talenta Anda dan mencurahkan waktu setiap hari untuk mengasah talenta itu dan terus menerus memperbaikinya serta berkomitmenlah untuk menjadi yang terbaik di bidang itu, tak lebih dari 10 tahun yang akan datang Anda telah menjadi seorang yang hebat. Ketika itu bawalah hadiah kepada saya, karena saya telah memenangkan pertaruhan ini. Bila Anda gagal, itu karena Anda ingin hebat disemua hal sehingga fokus Anda pecah. Akhirnya Andapun tak mendapatkan semua hal itu.

sumber: (jamil.niriah.com)
Read more

1 My BIG Dream : Hidup Sukses Bahagia Berkah















Mission Statement  :

"Mewujudkan kesuksesan, kebahagiaan dan keberkahan hidup bersama  di dunia, apalagi/terutama di akhirat'

1. Founder & CEO SALIM Business Group :
    a. (Kampung Religius) : Ekselensia Training & Learning Center
    b. (Kampung Sehat) :  Rumah Sehat Alami "MEDIKA Natura"
    c. (Kampung Mandiri) : MusliMart FC
    d. (Kampung Cerdas) : TK IT & SD IT Ekselensia  

2. Trainer Tingkat Dunia "Spiritual Leadership Trainer" 2025
    (Karena di Akhirat tidak ada training !)

Dunia di tangan, Surga jadi Tujuan !

‎"...dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami..."
InsyaAllah....

Kaboki, 20-11- 2011


AHMAD RIFAI, SIP

Read more

0 Alasan

Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan, begitu kata George Washington Carver. Daripada mencari jalan keluar, mereka memilih untuk membuat 1001 dalih mengenai kegagalan mereka. Alhasil, kesempatan belajar pun terlewatkan begitu saja.

Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menjelaskan mengenai penyakit pikiran yang mematikan alias penyakit dalih (excuisitis). Orang-orang gagal senantiasa berdalih mengenai kegagalan mereka. Penyakit dalih tersebut biasanya muncul 4 bentuk, yaitu: dalih kesehatan, dalih inteligensi, dalih usia dan dalih nasib.

Dalih kesehatan biasanya ditandai dengan ucapan, "Kondisi fisik saya tidak sempurna", "Saya tidak enak badan", "Jantung saya lemah", dan sejenisnya. Orang sukses tidak pernah menganggap cacatnya itu sebagai hambatan. Saya punya sahabat dekat yang menderita polio namun dikenal sebagai dokter spesialis ginjal sukses dan murah hati. Sejumlah besar tokoh-tokoh dunia bahkan punya cacat fisik. Presiden Amerika ke-32 Franklin Delano Roosevelt menderita polio, Shakespeare lumpuh, Beethoven tuli, Napoleon Bonaparte memiliki postur tubuh yang sangat pendek.

Dalih inteligensi ditandai dengan ucapan, "Saya kan tidak pintar", "Saya kan bukan rangking teratas", "Dia lebih pandai", dan sejenisnya. Inilah dalih yang paling umum ditemukan. Tanpa bermaksud mengecilkan arti sekolah, saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa tidak perlu jadi profesor agar Anda bisa sukses.

Selanjutnya, dalih usia yang ditandai dengan ucapan, "Saya terlalu tua", "Saya masih terlalu muda", "Biarkan yang lebih tua yang duluan", dan sejenisnya. Padahal tidak ada batasan usia dalam meraih sukses. Kolonel Sanders memulai usahanya di usia 65 tahun.

Berikutnya adalah dalih nasib, misalnya dengan mengatakan , "Aduh, nasib saya memang selalu jelek", "Itu sudah nasibku", "Itu memang takdir" Memang amat mudah untuk selalu menyalahkan nasib. Padahal nasib kita ditentukan oleh kita sendiri. Tuhan telah memberikan hidup dengan sejumlah pilihan. Lihatlah betapa banyaknya orang yang memilih berdiam diri daripada melakukan apa yang bisa mereka perbuat. Padahal apapun yang layak diraih layak diupayakan dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Sayangnya, potensi diri ini kerap hanya terkubur karena kebiasan kita membuat dalih jika apa yang kita kerjakan tidak berjalan sesuai harapan kita atau hasilnya tidak segera kelihatan.

Gaya hidup modern yang serba instant secara tidak langsung membuat kita sering mengharapkan hasil yang instant pula. Kita kepengen sekali makan durian tanpa mau menanam, menyiram, memupuki dan merawat pohonnya. Saya sendiri sempat terkejut membaca cerita tentang ilmuwan besar seperti Albert Einstein yang pernah diusir dari sekolah karena dianggap lamban.

Ia bahkan mendapat nilai buruk dalam pelajaran bahasa Yunani karena ingatannya yang lemah. "Tak peduli apa pun yang kamu lakukan, kamu takkan dapat melakukan apa-apa," kata gurunya. Saya juga teringat kepada Thomas Alva Edison yang hanya bersekolah beberapa bulan namun tercatat sebagai pencipta terbesar sepanjang jaman dengan lebih dari 1.000 hak paten. "Saya mempunyai banyak ide tapi hanya sedikit waktu," ujarnya. Edison gagal di sekolah. Gurunya merasa Edison tidak punya minat belajar, pemimpi dan mudah sekali terpecah konsentrasinya. Yang sungguh membuat saya terharu adalah sikap Ibu Edison terhadap putranya. Ia terus mengajari Edison di rumah dan setiap kali Edison gagal, ibunya memberi harapan dan mendorongnya untuk terus berusaha. Kalau orang gagal senantiasa berkata "itu tidak mungkin berhasil" maka orang sukses lebih suka berkata "mengapa tidak mencobanya dulu ?"

Daripada membuat alasan, orang sukses memilih untuk mencari cara mewujudkan impian mereka. Daripada berdiam diri dan menunggu datangnya kesempatan, mereka memilih pergi keluar dan menemukan kesempatan itu. Bahkan mereka mampu menciptakan kesempatan dalam kesempitan. E.M. Gray menegaskan, orang-orang sukses mempunyai kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak suka dilakukan orang gagal. Jika saat ini Anda masih suka membuat dalih, buatlah komitmen untuk mengubah kebiasaan itu. Jangan biarkan potensi diri Anda dibelenggu oleh dalih-dalih Anda. Ingat selalu nasihat Theodore Roosevelt, "Lakukan apa yang Anda bisa, dengan apa yang Anda miliki, di mana pun Anda berada." Sebagai akhir, ijinkanlah saya membagikan kepada Anda sebuah syair dari Afrika berjudul Perlombaan Saat Matahari Terbit.

Setiap pagi di Afrika, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada singa tercepat. Jika tidak, ia akan terbunuh. Setiap pagi seekor singa bangun, ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada rusa terlamban. Jika tidak, ia akan mati kelaparan. Tidak penting apakah Anda adalah sang rusa atau sang singa. Saat matahari terbit, Anda sebaiknya mulai berlari.
Read more

0 Lima Level Trainer


Sebagai seorang Trainer Coach yang banyak mengajar para internal trainer di perusahaan (corporate trainer) maupun mereka yang tertarik untuk menekuni profesi mandiri sebagai trainerpreneur, saya membedakan orang-orang yang hadir dikelas—atau berkonsultansi dengan—saya dalam lima level kemungkinan. Pelevelan ini tidak disusun berdasarkan studi dan riset yang mendalam, tetapi juga tidak turun dari langit seperti wangsit paranormal. Dasar pelevelan ini secara hipotesis mencerminkan pengalaman dan pengamatan saya sendiri selama hampir 20 tahun berkecimpung di industri pelatihan (saya memperoleh sertifikasi formal pertama tahun 1991 dari Dale Carnegie Training dengan nilai terbaik untuk angkatan tersebut).

Trainer Level 0 (TL-0) adalah mereka baru menjadi peserta program pelatihan tertentu, dan tertarik untuk suatu hari nanti menjadi trainer yang membawakan materi yang sama. Mereka belum memiliki pengalaman sedikitnya pun mengenai materi pelatihan dan baru terbuka mata budinya ketika mengikuti pelatihan untuk pertama kalinya. Umumnya minat menjadi trainer tumbuh karena mereka merasakan dampak yang luar biasa dari proses pelatihan yang diikutinya. Pelatihan itu telah mengubah hidup mereka, sekali untuk selamanya. Umumnya TL-0 ini disebut trainee.

Trainer Level 1 (TL-1) adalah mereka yang sudah pernah mengikuti pelatihan tertentu—misalnya pelatihan Teknik Presentasi Efektif atau Selling Skill—dan kemudian ikut lagi sebagai alumni sekaligus asisten trainer yang bertugas. Peran mereka terbatas sebagai orang yang sudah tahu materi lebih dulu dan bisa menjelaskan apa yang akan dialami peserta dalam sesi-sesi pelatihan. Memimpin diskusi kelompok atau melakukan energizer adalah dua peran yang galib mereka lakukan. Di lembaga pelatihan seperti Dale Carnegie Training, TL-1 ini disebut sebagai graduate assistant. Umumnya kehadiran mereka bersifat sukarela dan mereka tidak mendapatkan imbalan finansial atas keterlibatannya itu.

Trainer Level 2 (TL-2) adalah mereka yang sudah memutuskan untuk menjadi full-time trainer, menjadi professional trainer. Mereka umumnya sudah masuk dalam suatu proses pembelajaran khusus untuk mendapatkan lisensi atau sertifikasi dari lembaga yang kredibel. Sebagian di antara mereka mungkin ada yang sudah lulus sertifikasi. Namun baik mereka yang belum lulus maupun yang sudah lulus, saya masukkan ke dalam kategori TL-2 karena mereka melaksanakan pelatihan yang bersifat standar, ketat mengikuti instructor manual. Modul atau pun program pelatihan yang mereka bawakan bersifat standar dan mereka belum memiliki kemampuan untuk menyesuaikan materi guna kebutuhan spesifik klien (customizing). Dengan lain perkataan, mereka melaksanakan pelatihan sesuai dengan text-book atau instruction guide dari lembaga pelatihan yang memberikan sertifikasi atau lisensi kepada mereka. Sebagian besar internal trainers di perusahaan-perusahaan terkemuka adalah TL-2 ini. Sebagian trainerpreneur pemula yang masih dalam tahap perjuangan juga masuk dalam kategori ini. Dengan modal lisensi atau sertifikasi yang baru mereka peroleh, dari dalam atau pun luar negeri, mereka mencoba menawarkan jasanya ke masyarakat luas. Mereka masih sangat sering menggunakan istilah-istilah teknis yang memerlukan penjelasan bertele-tele, tetapi tidak memiliki manfaat praktis bagi peserta pelatihan.

Trainer Level 3 (TL-3) adalah trainer dengan jam terbang yang cukup untuk bisa melakukan berbagai proses customization sesuai kebutuhan klien atau peserta program pelatihan. Mereka bukan hanya mampu melakukan customization di dalam proses mengajar (in-class customization) untuk memenuhi kebutuhan spesifik peserta, tetapi juga bisa membuang dan menambahkan materi dari suatu program pelatihan (programme customization) untuk memenuhi kebutuhan mental-emosional pihak manajemen perusahaan—yang biasanya bukan peserta pelatihan, tetapi memiliki otoritas untuk menentukan jalan tidaknya sebuah pelatihan di perusahaan terkait. Artinya, TL-3 ini memiliki conceptual thinking yang cukup kuat dan mampu menyeimbangkan antara sistimatic thinking process dengan creative thinking process. Pada level ini berkumpul dua kelompok: pertama, para trainer-senior-gajian (internal trainers); dan kedua, trainerpreneur madya yang mulai mantap dengan pilihannya.

Trainer Level 4 (TL-4) adalah trainer dengan kemampuan merancang modul dan program pelatihan secara mandiri. Mereka tidak lagi sekadar mampu melakukan penyesuaian (customization), melainkan bisa merancang suatu program pelatihan yang baru secara lengkap (creating a new training programme). Artinya TL-4 bukan hanya mampu membuat modul pelatihan, tetapi juga mampu membuat instructor guide/manual agar pelatihan itu bisa dilakukan oleh pihak lain. Umumnya TL-4 juga telah memiliki karya tulis populer atau buku-buku berkualitas yang membuktikan kemampuan mereka berpikir secara mendalam dan konseptual. Mereka tidak lagi sekadar orang yang bisa mengutip pendapat dan pandangan pakar tertentu, tetapi juga sudah memiliki pandangan sendiri yang didasarkan pada argumen-argumen rasional yang tak mudah dipatahkan.

Kawan-kawan yang masuk kategori TL-4 adalah trainerpreneur dalam pengertian yang sesungguhnya. Mereka bukan trainer-gajian, tetapi entrepreneur dibidang pelatihan. Sebagian di antara mereka bahkan sudah berkolaborasi membangun tim kerja atau jejaring yang saling mendukung satu sama lain. Mereka secara relatif telah menemukan gaya dan metodenya yang unik untuk dikembangkan lebih lanjut.

Trainer level 5 adalah trainer dengan kemampuan melakukan standarisasi proses berpikir mereka, sehingga dapat mulai melakukan duplikasi secara sistematik untuk menjadi franchising business. Karakteristik utama mereka adalah kemampuan melakukan duplikasi diri tanpa mengorbankan kualitas pelatihan itu sendiri; dan kemampuan manajemen pemasaran yang juga terstandarisasi dengan baik. Dalam sejumlah kasus, TL-5 ini telah berhasil membangun tim kerja yang handal untuk melakukan proses penciptaan program baru dan proses pemasarannya sekaligus. TL-5 adalah trainerpreneur yang tidak saja menjadi kaya, tetapi kaya raya. Almarhum Dale Carnegie (1888-1955), Zig Ziglar, Stephen R. Covey, Anthony Robbins, Robert T. Kiyosaki, hanyalah sekadar contoh yang paling mudah disebut untuk menunjukkan sosok TL-5 ini.

Menjadi TL-5, itulah cita-cita yang pantas bagi setiap trainerpreneur di negeri ini. Cita-cita ini perlu dipancangkan dan kemudian diperjuangkan dengan gigih agar Indonesia tidak hanya menjadi ajang tempat penjualan jasa pelatihan asing. Sudah waktunya trainerpreneur-trainerpreneur yang berbakat besar untuk unjuk gigi memajukan negeri. Ary Ginanjar sudah merintisnya dengan pelatihan ESQ yang berkembang sampai ke mancanegara.

Siapakah yang siap untuk menyusul?

***

* Artikel ini merupakan bagian dari konsep materi yang disampaikan dalam pelatihan CARA CERDAS DAN PASTI: MENJADI TRAINER ANDALAN
(Sumber : Andrias Harefa)
Read more

0 Memulai Bisnis

Tiga Langkah Menuju Bisnis yang Sukses
Sebuah survey oleh lembaga penelitian internasional beberapa waktu yang lalu mengungkapkan bahwa sebagian besar karyawan perusahaan tidak “happy” dengan alasan mereka tidak puas dengan gajinya dan khawatir akan masa depan mereka setelah pensiun. Kenapa?

Baik. Kita langsung ke topik utama saja yaitu soal uang, yang bagi kebanyakan orang merupakan salah satu parameter ketentraman hidup. Ada tiga cara untuk memperoleh uang banyak dalam waktu singkat. Pertama, menang undian berhadiah. Kedua, dapat warisan dan yang ketiga menikahi orang kaya.

Meskipun ketiga cara itu singkat tapi kalau kita perhatikan ada satu faktor utama yang membuat ketiga hal agak sulit direalisasikan. Faktor ini adalah kontrol. Anda tidak punya kontrol kapan Anda dapat warisan atau menang undian. Nikah dengan orang kaya pun saingannya pasti berat dan butuh keberuntungan besar.

Harusnya ada cara efektif dan Anda punya kontrol disitu.

Betul – Anda perlu memulai bisnis. Cara ini lebih efektif bahkan dibandingkan dengan menyimpan uang di bank dan menyerahkan uang Anda untuk dimain-mainkan oleh fund manager.

Ada dua mentalitas dalam dunia kerja. Anda bekerja untuk orang lain atau Anda mempekerjakan orang lain. Anda bekerja untuk bisnis orang lain atau Anda memiliki bisnis sendiri.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa bekerja untuk orang lain itu adalah buruk. Banyak sekali alasan bagus untuk menjadi karyawan orang lain. Misalnya, bekerja untuk suatu perusahaan membuat Anda belajar bagaimana suatu bisnis berjalan sehingga Anda bisa membuka bisnis sendiri. Faktanya, saya pernah menjadi karyawan di beberapa perusahaan selama kurang lebih 10 tahun.

Dengan kata lain, Anda bekerja untuk orang lain sambil belajar dan dibayar untuk pendidikan Anda. Banyak orang-orang sukses yang berangkat dari bawah dengan belajar bekerja dari orang lain. Pengalaman ini yang tidak bisa dibeli. Bayangkan ketika Anda sekolah Anda harus membayar pendidikan. Dengan menjadi pekerja, boss Anda membayar biaya belajar Anda. Deal yang jauh lebih bagus kan?

Nah, sekarang kita asumsikan bahwa Anda sudah membuat keputusan untuk memulai sebuah bisnis. Anda sudah belajar dari pengalaman orang-orang lain di dunia bisnis. Sekarang Anda punya cita-cita untuk menjadi……istilahnya: pengusaha atau entrepreneur.

Definisi pengusaha adalah:

* Orang yang menjalankan bisnis dengan sukses
* Dia menggunakan bisnisnya untuk menghasilkan pendapatan pasif (passive income)
* Dia berekspansi atau menjual bisnisnya

Menurut kamus, definisi “pengusaha” mengikutsertakan kata “risiko”. Ini penting karena untuk menjalankan bisnis Anda harus menginvestasikan uang dan waktu. Ada kemungkinan Anda tidak memperoleh apapun dan bisnis Anda jatuh. Ini bagian dari permainan dan ada tiga hal yang harus Anda sadari sebelum memulai sebuah bisnis.

Pertama, buat intensi. Ini penting karena kebanyakan dari kita hanya ingin menikmati hasil akhir tanpa mau menjalani proses step-by-step. Intensi diperlukan untuk memelihara semangat Anda, terutama ditahap-tahap awal yang berat. Kesempatan Anda untuk menjadi sukses bisa naik 80% dengan kekuatan intensi ini. Anda lebih yakin melangkah dan tidak bingung untuk memulai bisnis.

Kedua, menetapkan tujuan (goals). Alokasikan waktu untuk menuliskan apa saja tujuan Anda berbisnis. Tulis diatas kertas dan letakkan di tempat-tempat yang Anda bisa lihat. Misalnya kaca kamar mandi.

Tujuan diperlukan sehinga Anda konsisten dalam perjalanan bisnis Anda. Kenapa? Karena jalan menuju sukses akan penuh dengan rintangan. Pengusaha sukses meraih kesuksesannya dengan jatuh bangun melewati banyak hambatan di perjalanan. Anda jatuh, Anda bangun lagi. Dua hal yang akan terjadi: Anda akhirnya sukses atau Anda selesai. Kalaupun Anda selesai orang lain akan angkat topi dan menghargai perjuangan Anda. Pengalaman Anda pun semakin kaya.

Ketiga, keberuntungan. Mereka yang sukses tidak bisa bilang mereka tidak beruntung. Keberuntungan sangatlah penting. Tetapi keberuntungan tidak akan datang kalau kita tidak mencoba. Anda harus mencoba sekali, dua kali, dan seterusnya hingga pintu keberuntungan terbuka. Mereka yang sukses diberkahi keberuntungan. Triknya adalah jangan berhenti mencoba sampai akhirnya keberuntungan menghampiri Anda.

Dengan mencoba terus menerus Anda akhirnya menjadi mahir dan mengerti cara paling efektif dalam berbisnis. Okay, banyak orang bilang, “9 dari 10 orang dalam bisnis akan gagal”. Tidak perlu khawatir karena Anda masih punya kemungkinan 10% untuk sukses. Bandingkan dengan kemungkinan menang undian berhadiah. 10% adalah angka yang realistis dan terbuka untuk keberhasilan.

Sekarang bagaimana memulai langkah awal berbisnis. Bisnis adalah tindakan dan tindakan adalah kepanjangan dari pemikiran. Pemikiran sendiri timbul setelah ide turun. Jadi langkah pertama adalah mencari ide tentang bisnis apa yang paling cocok untuk Anda.

Saya memiliki filosofi bahwa ide muncul dari ketenangan didalam. Coba observasi diri Anda dan lihat apa yang Anda punya yang bisa Anda tawarkan ke dunia. Lihat keahlian dan ketrampilan Anda. Kemudian perhatikan sekeliling dan amati kegiatan-kegiatan yang mungkin cocok dengan apa yang Anda punya dan Anda yakin Anda bisa mengerjakannya lebih baik.

Anda bisa memulai dari hal yang Anda suka atau apapun yang Anda biasa lakukan tetapi kali ini buatlah dalam konteks bisnis untuk menghasilkan uang. Ide tidak harus kompleks. Rumah makan Padang ada dimana-mana. Yang ditawarkan adalah makanan cepat saji dari Tanah Minang. Sederhana saja kan? Gunakan kreatifitas Anda untuk membuat itu lebih baik dan jangan terjebak ke mentalitas pekerja yang mengharapkan penghasilan tetap dan aman.

Satu hal lagi adalah faktor waktu. Anda perlu kompromi dengan waktu dan menyadari bahwa waktu adalah teman, bukan pesaing. Proses membutuhkan waktu dan kesabaran. Semakin Anda berlatih Anda menjadi semakin ahli. Satu saat hari yang Anda nanti-nantikan akan datang. Di hari itu Anda mengatakan bahwa Anda tidak menyesal melakukan ini semua. Hari dimana Anda merasakan kesuksesan dari usaha Anda sendiri. (www.pengembangandiri.com)
Read more

0 Aki dan Dinamo Motivasi

Setidaknya sekali waktu dalam hidup, pasti anda pernah mengalami suatu peristiwa yang begitu memotivasi. Misalnya ketika mengikuti seminar Andrie Wongso, anda merasa termotivasi untuk mengikuti jejaknya yang sukses karena SDTT TBS (Sekolah Dasar Tidak Tamat Tapi Bisa Sukses). Setelah mengikuti ceramah Aa’ Gym, anda seperti tersentuh dan ingin mengubah perilaku menjadi lebih baik.


Ada penyesalan mendalam terhadap berbagai perbuatan buruk yang pernah anda lakukan, ketika anda ikut zikir bersama ustadz Arifin Ilham. Atau anda merasa tersentak ketika suatu ketika kawan dekat anda divonis dokter terkena kanker paru-paru akibat kebiasaan merokok. Anda mungkin merasa, sebagai perokok, anda juga punya potensi yang sama untuk terserang kanker paru-paru. Ketika itu, niat anda bulat untuk berhenti merokok. Motivasi anda untuk meraih apa yang anda inginkan tengah berada pada titik kulminasi atas.

Manusia memang bisa termotivasi oleh berbagai peristiwa yang dialaminya. Ia berkeinginan sembuh dari kecanduan narkotika, terinspirasi oleh para penceramah atau seminaris. Ia mau bekerja keras, karena motivasinya dipompa dalam sebuah seminar. Ketika tersentuh, motivasinya tinggi sekali. Semangat menggelegak. Tapi biasanya, efeknya hanya sementara, karena sebagian besar kembali lagi ke selera asal. Ia kembali ke kebiasaan semula. Perasaan termotivasi itu lambat laun menurun kadarnya, dan akhirnya ia kembali tidak peduli.

Kasus kecanduan rokok, pelatihan yang tidak berpengaruh secara permanen, atau nasihat para pemuka agama yang tidak berhasil diimplementasikan, bermuara pada satu hal, yaitu sumber motivasi.

Ada analogi menarik dari dunia otomotif tentang sumber motivasi. Untuk menghidupkan sebuah mobil, dibutuhkan kekuatan aki. Setelah mobil sudah hidup, maka kekuatan aki sudah tidak dibutuhkan lagi, karena kekuatan sudah berpindah ke dinamo. Apabila dinamo berfungsi dengan baik, tanpa aki pun, mobil masih tetap bisa dijalankan. Mengapa harus ‘switch’ dari aki ke dinamo? Karena aki memiliki daya simpan yang relatif rendah dibanding dinamo.

Aki, adalah sumber motivasi dari luar. Dalam kehidupan manusia, aki bisa berwujud ceramah, zikir, tontonan atau kejadian, yang secara langsung membuat manusia ‘tersentuh’. Karena daya simpannya lemah, kekuatannya mudah menurun atau bahkan habis. Dinamo, adalah sumber motivasi dari dalam. Dalam kehidupan manusia, dinamo analog dengan ketetapan hati untuk meraih tujuan hidup.

Ini yang menarik. Ketika seseorang merasa termotivasi karena seminar, ceramah atau mengalami kejadian menarik, orang itu telah menggunakan ‘aki’ dalam tubuhnya. Sayangnya, ia tidak mengubah ‘switch’ motivasinya ke ‘dinamo’. Karena daya simpannya rendah, maka lama-kelamaan motivasi itu habis, dan ia membutuhkan ‘aki’ baru.

Bandingkan jika ia mengubah sumber energinya ke dinamo. Apapun yang terjadi, sumber motivasi dari dalam itu akan terus bertahan. Ketetapan hatilah yang membuat seorang Muhammad SAW teguh dengan Islamnya, sekalipun dalam beberapa tahun periode awal dakwah, pengikutnya masih sedikit jumlahnya. Ketetapan hatilah yang membuat Edison tahan menguji hampir 10.000 bahan pembuat bola lampu. Pertanyaannya, sudahkah anda menswitch sumber motivasi anda ke dinamo pribadi bernama ketetapan hati?

(jay Terorist_Dimuat di Majalah KHAlifah, Edisi Agustus 2009)
Read more

0 Sukses Walaupun Latarbelakang Pendidikan Berbeda

Anwar Ibrahim adalah salah seorang yang disebut sebagai menteri keuangan terbaik di Malaysia. Ketika ia menjabat sebagai Menteri keuangan beberapa pengusaha kelas kakap Malaysia memberikan hadiah berupa jam tangan emas. ANwar Ibrahim menolak hadiah itu.

Ia mengatakan, “Hadiah ini pasti ada hubungannya dengan jabatan saya karena waktu saya belum menjabat sebagai menteri keuangan tidak ada yang memberikan hadiah seperti ini! Ini sama saja dengan suap!”.

Inilah sebabnya mengapa Anwar disebut sebagai salah satu menteri keuangan terbaik di Malaysia, karena ia jujur. Sebagai menteri keuangan terbaik apakah latar belakang pendidikannya adalah ekonomi seperti Sri Mulyani? Bukan! Latar belakang pendidikan ANwar Ibrahim adalah Sastra Arab!

Teten Masduki adalah ikon perjuangan anti korupsi di Indonesia. Di masa AKhir Orde Baru ia mendirikan Indonesia Corruption Watch yang menjadi LSM terdepan dalam pemberantasan korupsi. Sekarang Teten aktif di TI (Transparency International) APakah latar belakang pendidikan Teten adalah Fakultas Hukum? Bukan! Latar Belakang pendidikan Teten adalan IKIP jurusan Kimia.

Margareth Thatcher adalah perempuan pertama yang menjadi Perdana Menteri di Inggris. Ia dijuluki perempuan besi karena ketegasannya dalam mengambil keputusan. Ia berhasil menembus dominasi laki-laki dalam politik di Inggris dan Eropa. Ia juga menginspirasi Angela Merkel untuk maju sebagai kanselir Jerman dan akhirnya terpilih. APakah Latar belakang pendidikan Thatcher adalah politik? Bukan! Latar Belakang pendidikannya adalah jurusan kimia!

Terkadang kita menolak sebuah peluang yang bagus ke arah kesuksesan kita tapi kita menolak dengan alasan latar belakan pendidikan kita berbeda. Padahal kalau kita berniat sukses kita harus membuka mata lebar-lebar untuk semua peluang yang ada.


Nah ! apakah juga akan terjadi padaku?
(Sumber : BISA!)
Read more

0 Ekselensia Training & Learning Center

 Mission Statement

“Mewujudkan kesuksesan, kebahagiaan dan keberkahan hidup baik didunia, apalagi/terutama di akhirat”
Visi :

Membangun pelatihan  yang terbaik dan terpercaya sebagai  sarana percepatan  dalam mencapai kehidupan  terbaik yakni kehidupan yang sukses bahagia dan berkah (SBB) baik didunia, apalagi/terutama di akhirat”
7  Pelatihan Utama Ekselensia
Training/Seminar/Workshop Ekselensia :
  1. Life Planning for Success & Happiness (Merencanakan Hidup Sukses & Bahagia)
  2. Quantum Learning  & Teaching (Kiat Dahsyat Teknik Belajar dan Mengajar)
  3. Get  Ur DREAM- Inspiring Seminar (Seminar "Get Ur Dream")
  4. Pelatihan “Sukses Ujian Sekolah” (Kiat Jitu Sukses Ujian Nasional)
  5. Spiritual Motivation Training- (IESQ Training) 
  6. Financial Planning (Cerdas dan Sukses Mengelola Keuangaan)
  7. smartEntrepreunership Training (Pelatihan jadi JURAGAN bukan BAWAHAN)
Read more
 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More