• slide nav 1

    Salim Business Group

    Kehidupan terbaik yakni hidup sukses bahagia dan berkah ...
  • slide nav 2

    Ekselensia Training

    Membangun pelatihan yang terbaik dan terpercaya sebagai sarana percepatan dalam mencapai kehidupan terbaik...
  • slide nav 3

    Impian Hari Ini...

    Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok
  • slide nav 4

    Trainer

    Lima Level Trainer...
  • slide nav 5

    Alasan!

    Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan ...
  • slide nav 6

    Memulai Usaha

    Tiga Langkah Menuju Bisnis yang Sukses...

Selamat Datang di Website Salim Business Group

"Kita dibatasi bukan oleh kemampuan kita, tapi oleh visi kita.” Jonathan Swift (1667—1745), pengarang dan sastrawan Irlandia"

Delete this element to display blogger navbar

Tampilkan postingan dengan label Kolom Keluarga Sakinah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Keluarga Sakinah. Tampilkan semua postingan

0 Setetes Darah Istri Tercinta

Setetes Darah Istri Tercinta

Subuh itu kami baru saja menikmati sahur pertama bulan Ramadhan, ketika tiba-tiba istri saya mengeluh sakit perutnya. Sempat muncul tanda tanya apakah istri saya akan melahirkan, tetapi kami sempat ragu karena HPL-nya masih 11 hari lagi. Agar tak salah penanganan, kami segera memeriksakan diri ke bidan terdekat di Tambak¬beras, Jombang. Ternyata, bidan Sri Subijanto melarang pulang. “Sudah bukaan lima,” kata Bu Sri.

Bu Sri mendampingi beberapa saat. Barangkali dirasa masih agak lama, Bu Sri meninggalkan ruangan bersalin. Meski hanya sebentar, tapi ternyata inilah saatnya bayi saya lahir. Dengan ditemani seorang pembantu bidan dan Bu Lik (tante), saya mendampingi istri melewati saat-saat yang mendebarkan. Di saat-saat terakhir, istri saya nyaris kehabisan tenaga. Tak berdaya. Ingin sekali saya mengusap keringat di keningnya, tetapi tak ada saputangan di saku saya. Lalu, saya coba menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan psikis. Saya tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi saya lihat ada semangat yang bangkit lagi. Sedangkan di matanya, kulihat airmata yang hampir menetes.

Saya ingin sekali rasanya berlari memanggil bidan, tapi tak tega meninggalkannya. Saya hanya berharap Allah akan memberi pertolongan. Alhamdulillah, hanya satu jam di ruang bersalin, anak saya lahir. Seorang laki-laki. 

Tidak sedih, tidak gembira. Hanya perasaan haru yang menyentuh ketika saya membersihkan kain yang penuh dengan darah dan kotoran istri. Setetes darah istriku telah mengalir untuk lahirnya anakku ini. Ia merelakan rasa sakitnya untuk melahirkan. Ia telah mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan anaknya. Maka, apakah aku akan membiarkan anak-anakku hanya tumbuh besar begitu saja tanpa pendidikan yang betul-betul baik dan terarah? Rasanya, terlalu berharga pengorbanan istriku jika aku tak serius membesarkan anak-anak yang dilahirkannya.

Diam-diam kupandangi anakku. Ingin kusentuh ia dengan tanganku. Tetapi aku harus bersabar dulu. Setelah asisten bidan selesai mengurusinya, kurengkuh ia dalam pelukanku. Lalu kuperdengarkan di telinganya azan dan iqamah yang kuucapkan dengan suara terbata-bata. Semoga ucapan awal ini membekas dalam hati dan jiwanya, sehingga kalimat ini memberi warna bagi kehidupannya. Konon ungkapan-ungkapan awal pada masa komunikasi pra-simbolik ini akan banyak menentukan anak di masa-masa beri¬kutnya. Begitu bunyi teori komunikasi anak yang pernah saya pinjam saat menulis buku Bersikap terhadap Anak (Titian Ilahi Press, Jakarta, 1996).

Sekali lagi kupandangi anakku. Tubuhnya yang masih sangat lemah, terbungkus kain yang saya bawa dari rumah. Hatiku terasa gemetar melihatnya. Saya teringat, ada satu peringatan Allah agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Allah Ta’ala meng¬gunakan perkataan, “… hendaklah kamu takut….” Tetapi saya dapati dalam diri saya, masih amat tipis rasa takut itu. Lalu dengan apa kujaminkan nasib mereka jika rasa ta¬kut ini masih belum menebal juga? Ya Allah, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, dan aku dapati diriku ini masih termasuk orang-orang yang zalim.

Diam-diam kupandangi anakku sekali lagi. Kuusap-usap kepalanya. Kukecup keningnya, seraya dalam hati aku mohonkan kepada Allah keselamatan dan kemuliaan hidupnya. Pengalaman menemani istri di detik-detik persalinannya telah mengajarkan kepadaku sesuatu yang sangat berharga, “Anak yang dilahirkan dengan darah dan air¬mata ini, jangan pernah disia-siakan. Ibu yang melahirkan anak ini, jangan pernah dinis¬takan.” Mereka adalah amanat yang telah kuambil dengan kalimat Allah, dan semoga Allah memampukanku untuk mempertanggungjawabkannya di hari kiamat kelak.

Setelah merasakan pengalaman mendampingi detik-detik persalinan istri, saya merasa sangat heran terhadap para suami yang masih tega menampar istri atau menyia-nyiakan anaknya. Saya juga merasa sangat heran terhadap sebagian rumah sakit yang masih saja melarang suami terlibat langsung dalam proses persalinan istrinya, sebagaimana ketika istri saya melahirkan anak pertama saya di Kendari. Padahal keterlibatan suami dalam proses persalinan dari awal sampai akhir, sangat besar manfaatnya. Baik bagi istri maupun bagi hubungan ayah dengan anak.

Kedekatan psikis (attachment) antara ayah dengan anak akan lebih mudah terben¬tuk apabila ayah berkesempatan menyaksikan secara langsung detik-detik persalinan itu. Di sisi lain, saya kira seorang istri akan merasa sangat berbahagia kalau suaminya bersedia men¬dampinginya di saat ia sangat membutuhkan dukungan psikis dan kehangatan perhatian.

Saya tidak tahu apakah istri saya lebih bahagia dengan kehadiran saya mendampinginya. Tetapi saya kira Anda –para ummahat— akan lebih senang jika suami Anda bersedia mendampingi persalinan Anda. Bagaimana?

Oleh M. Fauzil Adhim
Read more
Apa yang paling banyak menyebakan konflik dalam rumah-tangga? Bukan persoalan-persoalan prinsip. Juga bukan masalah-masalah besar. Sebab semua itu biasanya sudah “selesai” ketika seseorang memutuskan menikah. Di luar soal niat, penyebab konflik rumah-tangga yang bahkan berakhir dengan perceraian, paling banyak justru komunikasi. Cara kita menyampaikan maksud, pikiran dan perasaan itulah yang kerap menjadi sebab bertikainya suami-isteri yang saling mencintai. Sekali lagi, komunikasi. Bukan perbedaan suku. Alhamdulillah, saya sendiri nikah beda suku. Saya orang Jawa dan istri saya orang Bugis yang besar di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Beda jenjang pendidikan? Tak masalah. Banyak pernikahan yang suami-isteri memiliki perbedaan jenjang pendidikan amat jauh, tetapi tetap bahagia tanpa masalah. Tentu saja tak ada pernikahan yang tak pernah diwarnai perselisihan, meskipun amat kecil. Tetapi persoalannya bukan apakah kita akan menghadapi riak-riak kecil, melainkan bagaimana menghadapinya agar tetap berada dalam kebaikan dan kebenaran. Bukan sekedar bahagia yang kita ingin. Ada barakah yang patut kita harapkan & pinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla seraya bersungguh-sungguh menempuh jalan menuju pernikahan penuh barakah. Kita menempuh jalan itu ketika mau memasuki pernikahan, saat mengawali hingga masa-masa berikutnya. Semoga kelak Allah Ta’ala masukkan kita ke dalam golongan yang diseru oleh para malaikat:

ادخلوا الجنة أنتم وأزواجكم تحبرون

“Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan istri-istri kamu digembirakan." (QS. Az-Zukhruf, 43: 70).

Secara ringkas, suami-isteri sepatutnya menghidupkan perkataan yang baik (qaulan ma’rufan) di antara mereka. Awal pernikahan merupakan masa yang sangat penting –sekaligus sensitif—bagi proses pembentukan pola komunikasi keluarga. Inilah masa-masa yang sangat menentukan. Jika suami-isteri memiliki pola komunikasi (communication pattern) yang baik, maka modal awal untuk menyelesaikan masalah jika sewaktu-waktu muncul, telah mereka miliki. Pola komunikasi yang baik ini penting untuk menghindari timbulnya gaya komunikasi memaksa (coercive communication), terlebih jika berkembang menjadi kebiasaan. Komunikasi memaksa cenderung mengakibatkan terjadinya kegagalan komunikasi (communication breakdown) dan merupakan penyebab umum perceraian.Na’udzubillahi min dzaalik.
Banyak hal-hal kecil yang besar sekali manfaatnya, besar pula pengaruhnya bagi kebahagiaan perkawinan. Mari kita ingat sejenak bagaimana Rasulullah saw. memberi contoh dalam perkara menjuluki istri. Rasulullah saw. memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhadengan sebutan humaira’ (yang pipinya merah jambu) atau muwaffaqah (wanita yang diberi petunjuk) atau ‘Aisy atau pun ‘Aisyah. Inilah sebutan yang mesra saat memanggil. Tampaknya sepele, tetapi berawal dari sebutan yang mesra, tutur kata selanjutnya akan terasa lebih berharga. Sebaliknya, kita jumpai bagaimana Rasulullah saw. menegur seorang lelaki yang memanggil isterinya dengan sebutan ukhty (saudariku).

Rasulullah saw. pernah mendengar seseorang mengatakan kepada isterinya, “Ya Ukhtiy.” Rasulullah saw. lalu berkata, “Ukhtuka hiya? Saudaramukah dia?” (HR. Abu Dawud).

Ya, tampaknya sepele, tetapi besar maknanya.

Banyak hal lagi yang bisa kita reguk dari teladan serta petunjuk Rasulullah saw. dalam membangun rumah-tangga kita. Tetapi betapa sedikitnya kesempatan dan betapa sempitnya ruang untuk bertutur, selain keterbatasan ilmu dari saudaramu ini. Semoga yang sedikit ini bermanfaat untuk menegakkan qaulan ma’rufan di rumah kita. Selebihnya kita perlu berusaha dengan sungguh-sungguh agar dapat mempergauli isteri dengan makruf. Ingatlah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

يا أيها الذين آمنوا لا يحل لكم أن ترثوا النساء كرها ولا تعضلوهن لتذهبوا ببعض ما آتيتموهن إلا أن يأتين بفاحشة مبينة وعاشروهن بالمعروف فإن كرهتموهن فعسى أن تكرهوا شيئا ويجعل الله فيه خيرا كثيرا

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’, 4: 19).

Satu hal yang perlu kita ingat tatkala ingin menegakkan mu’asyarah bil ma’ruf(mempergauli secara makruf) bahwa kita menikah dengan orang yang pasti memiliki banyak perbedaan dengan kita. Jenis kelamin sudah jelas beda, orangtua juga pasti berbeda (sebab tidak halal menikahi saudara sekandung), masa kecil berbeda serta sejumlah perbedaan lain. Maka salah satu yang perlu kita tumbuhkan dalam diri kita adalah kesediaan untuk menenggang perbedaan dan tidak meributkannya sejauh bukan masalah yang prinsip. Inilah jalan untuk memetik kemesraan.

Tetapi ini tidak cukup. Sama sekali tidak cukup. Perhatikan olehmu bagaimana cara memperoleh rezeki. Segala usaha yang gigih untuk menumbuhkan kemesraan agar cinta bersemi indah, akan sia-sia jika rezeki kita tidak barakah.

Wallahu a’lam bishawab.
oleh : M. Fauzil Adhim
(Penerbangan GA 608, Jakarta - Makassar),
Read more

0 Mendurhakai Istri

Mendurhakai Istri

Ada yang sering kita lupa, sehingga tanpa sadar jatuh kepada dosa yang disegerakan siksanya oleh Allah di dunia ini. Sebagian diberi tangguh sesaat, sampai kemudian mereka tersentak karena hampir-hampir tak ada lagi yang bisa diharapkan, kecuali kalau mereka menemukan detik-detik keinsafan. Sebagian lainnya tak memerlukan waktu lama untuk meneteskan airmata, tetapi semuanya sudah terlambat.

Telah berlalu orang-orang sebelum kita; yang meninggalkan catatan mengesankan dan mengharukan, ataupun yang membekaskan kenangan yang menjengkelkan dan menyedihkan. Mereka tak bisa lagi bangkit dari kuburnya untuk memberi nasihat bagi hidup kita. Tetapi, sebaik-baik nasihat adalah kematian itu sendiri. 
Bercermin pada mereka yang telah pergi, ada yang bisa kita petik untuk memperbaiki arah hidup kita. Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua dosa yang akan disegerakan Allah siksanya di dunia ini juga, yaitu al-baghyu dan durhaka kepada orangtua” (H.r. Tirmidzi, Bukhari dan Thabrani).

Apakah al-baghyu itu? Ah, terlalu sedikit ilmu saya untuk menjelaskan. Sejauh yang saya pahami, al-baghyu adalah berbuat sewenang-wenang, berbuat zalim, menindas dan menganiaya orang lain. Dan al-baghyu yang paling dimurkai Allah ialah berbuat zalim terhadap istri sendiri. Termasuk al-baghyu ialah menelantarkan istri, menyakiti hatinya, merampas kehangatan cintanya, merendahkan kehormatannya, mengabaikannya dalam mengambil keputusan, dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama kita. 

Seorang suami boleh jadi jatuh ke dalam al-baghyu apabila ia secara sengaja mengabaikan kebutuhan istrinya untuk memperoleh kehangatan dari suaminya. Ia bisa bisa digolongkan ke dalam kelompok orang-orang yang berbuat aniaya apabila secara sengaja membiarkan istrinya menderita dan meneteskan airmata, karena tak pernah mendapat sentuhan hangat sebagai istri.

Teringat saya pada Muhammad Abdul Halim Hamid. Ia pernah mengingatkan, “Setiap amal yang diwajibkan Allah pasti mengandung kebajikan yang banyak. Barang siapa menyia-nyiakannya, maka akan datanglah berbagai musibah.”

“Oleh karena itu,” kata Muhammad Abdul Halim Hamid lebih jauh, “barang siapa yang mengabaikan kewajiban jima’ akibatnya berbahaya bagi istri. Ia akan merasa tertekan dan gelisah. Dengan demikian berarti tak dapat merasakan kenikmatan dan kebahagiaan.”

Penjelasan Abdul Halim Hamid ini mengingatkan kita bahwa atas setiap hak, ada kewajiban yang harus dipenuhi. Dan bahwa atas setiap kewajiban, ada kebaikan yang menyertai apabila ditunaikan. Segala sesuatu yang menyangkut hidup kita dengan diri sendiri, atau apalagi yang berhubungan dengan orang lain, tak pernah lepas dari pengaturan mengenai hak, kewajiban, kebajikan dan kebaikan. Semua ini kita perlukan karena perasaan memiliki pasang surutnya. Demikian pula cinta tak selalu bersemi di saat kita mengharapkannya. Di saat seperti ini, maka tak ada pegangan yang lebih kokoh kecuali tegasnya peraturan dan terangnya pengaturan.
Pada akhirnya, kembalinya memang pada kita. Terlebih ketika tidak ada sistem yang mendukung untuk tegaknya penghormatan kepada setiap hamba-Nya, hatta itu adalah istri kita sendiri. Catatan sederhana hanyalah ikhtiar untuk sama-sama mengingatkan agar tak terjatuh pada keburukan yang sama. Keburukan yang telah membinasakan orang-orang sebelum kita dikarenakan mereka menistakan istrinya sendiri.

Ah, diam-diam saya teringat dengan perkataan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pernah mengatakan, “Tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan wanita kecuali laki-laki yang rendah juga.”

Agaknya, hadis ini dapat menjadi cerminan kita, termasuk suami macam apakah kita ini? Kalau kita masih termasuk orang-orang yang rendah, semoga Allah memberi kesempatan kita untuk berbenah sehingga kita kelak pulang ke hadapan Allah dalam keadaan mulia dan diridhai-Nya. Bukan dalam keadaan nista dan rendah.

Semoga Allah menolong kita. Semoga Allah menghindarkan kita dari perbuatan-perbuatan rendah, termasuk di dalamnya perbuatan mendurhakai istri.


Sumber : Muhammad fauzil Adhim
Read more

0 Saling Mendekati

Pernah berselisih dengan isteri? Alhamdulillah, saya pernah. Sebuah perselisihan yang membuat rumah berkurang keindahannya. Bukan karena terjadi pertengkaran besar, tetapi perselisihan “kecil” (adakah perselisihan yang bisa kita sebut kecil?) membuat apa yang indah dan menyenangkan, terasa hambar dan menegangkan. Penghujung malam yang seharusnya mengantarkan kita pada tidur yang tenang, kali ini menyisakan ganjalan perasaan yang membuat tidur kita seakan terjaga. Mata terpejam, tapi hati gelisah. Ingin memicingkan mata, tetapi daya tahan untuk terjaga sudah melemah.

Apa yang ingin saya ceritakan kepada Anda? Bukan perselisihan itu, tetapi pelajaran besar yang ada di baliknya. Ketika kita menginginkan rumah-tangga kembali dipenuhi kehangatan, maka kita berusaha untuk mendekatinya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Sebab tanpa ketulusan, api yang mulai tersulut tak akan bisa padam, meski api itu masih sangat kecil. Tanpa ketulusan saat mendekati, hati kita akan mudah gerah oleh percikan api perselisihan yang tak seberapa itu, sehingga bisa menyebabkan terjadinya konflik yang lebih besar. Awalnya cuma salah paham, atau ngambek karena tidak terpenuhinya keinginan, ujungnya bisa pertengkaran dan perpecahan yang besar.

Selain ketulusan, kita juga harus bersungguh-sungguh mengupayakan perbaikan. Kita berusaha keras agar gesekan tidak berubah menjadi benturan keras. Sebaliknya, melalui upaya yang sungguh-sungguh, hati kita akan luluh. Cair kembali dari kebekuan.

Agar ketulusan dan kesungguhan itu benar-benar membuahkan hasil yang baik dan kesudahan yang indah, perlu ilmu yang menuntun kita pada tindakan yang benar dan tepat. Kesungguhan tanpa ilmu bisa mengantarkan kita pada keinginan untuk menyelesaikan masalah sesegera mungkin, sehingga justru menyebabkan guncangan kecil itu justru membesar. Masing-masing bersikukuh dengan pendapatnya sendiri. Tak ada waktu untuk berhenti sejenak, merenungi diri dan mengambil jarak dari masalah.

Alhasil, ada ketulusan, ada kesungguhan dan ada ilmu. Berkumpulnya tiga hal ini di atas niat yang mulia insya-Allah meringankan hati kita meneladani Rasulullah saw. dan para sahabat dalam meredam perselisihan rumah-tangga. Kita ikhlas mendengar omelan istri –meski sejauh ini saya tidak pernah dimarahi dengan omelan panjang lebar—karena kita tahu Rasulullah saw. maupun Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pun pernah dimarahi istri, dan beliau berdua diam tidak membantah sembari mendengarkan. Dengan cara inilah api akan padam dan kesejukan hadir kembali dalam rumah-tangga.

Masih tentang mendekati istri. Ada pelajaran lain yang saya petik dari apa yang pernah saya alami serta beberapa kasus yang saya tangani. Konflik sebesar apa pun bisa terselesaikan ketika ada keinginan untuk saling mendekati secara tulus, sungguh-sungguh, disertai ilmu dan berpijak di atas niat yang mulia. Keinginan untuk saling mendekati membuat konflik besar yang seakan sudah diambang bubar, bisa terselesaikan dengan indah. Awalnya saling memendam api amarah, ujungnya hasrat untuk bercumbu mesra.

Ya, saling mendekati. Apa yang membuat masa pengantin baru begitu indah? Karena kita sama-sama saling mendekati. Dari tidak saling kenal, berusaha dengan sungguh-sungguh agar bisa memahaminya dengan benar. Kita berusaha melakukan yang terbaik, mendekati dengan penuh semangat sekaligus berusaha agar kita tidak melakukan kesalahan, menunjukkan perhatian dan menampakkan kerinduan serta hasrat yang menyala-nyala. Inilah yang membuat kita saling jatuh cinta. Inilah yang membuat pernikahan –dalam hal ini masa pengantin baru—terasa begitu hangat.

Agar pernikahan kita senantiasa memberi kehangatan dan membangkitkan semangat hidup yang menyala-nyala, kita perlu sering jatuh cinta. Kita jatuh cinta berkali-kali kepada orang yang sama, yakni istri atau suami kita. Semakin sering kita jatuh cinta lagi kepada istri, semakin besar arti perkawinan itu bagi kita. Kecuali jika cinta kita bertepuk sebelah tangan. Suami jatuh cinta lagi kepada istrinya, tetapi istri masih berbekal cinta yang dulu, cinta di awal pengantin baru.
Jika suami-istri saling jatuh cinta berkali-berkali, dan berupaya agar masih akan ada peristiwa-peristiwa yang membuat mereka saling jatuh cinta, maka bertambahnya usia pernikahan berarti bertambahnya kekayaan cinta pada diri mereka. Bukan karena seringnya bercinta –sebab kadang orang bercinta tanpa cinta—tetapi karena keduanya terus-menerus berusaha untuk saling mendekati.

***
Ada beberapa hal yang kadang membuat kita lupa untuk saling mendekati. Pertama, merasa sudah banyak berbuat sehingga menuntut istri untuk lebih banyak bersikap pro-aktif. Boleh jadi yang kita rasakan benar, tetapi upaya untuk terus-menerus mendekati tak akan terhenti kalau kita menyadari bahwa upaya kita masih terlalu sedikit. Di sisi lain, ini menunjukkan bahwa kita perlu berusaha mengimbangi apa yang dilakukan oleh istri agar ia tidak sampai putus asa karena merasa sudah berbuat banyak tanpa hasil.

Kedua, ingin menjadi pemenang dalam perselisihan. Mungkin kita tidak menunjukkan kemarahan yang berlebihan, tetapi kadang muncul bentuk lain yang tidak kalah buruknya. Kita ingin membuktikan kepada istri bahwa kitalah yang benar. Keinginan ini menjadikan suasana damai yang sudah mulai tumbuh dalam rumah-tangga, kembali dipenuhi perasaan saling jengkel dan bahkan saling dendam. Padahal dalam rumah-tangga yang sehat, tak ada pemenang dan pecundang. Perselisihan harus diselesaikan sehingga membesarkan hati semua pihak, melegakan perasaan masing-masing dan membawa suami-istri pada keinginan untuk terus berbenah menata rumah-tangga.

Ketiga, berkurangnya keterikatan antara suami dan istri karena hadirnya fasilitas yang memudahkan kehidupan. Tanpa sadar, kerap adanya fasilitas membuat kita lupa bahwa ada yang tak bisa tergantikan. Secobek sambal sederhana buatan istri, rasanya mungkin tidak selezat bikinan koki restoran. Tetapi kesediaan untuk menyiapkan dan menghidangkan –atau setidaknya menemani makan—memberi arti yang lebih pada pernikahan.

Apa artinya?

Agar keterikatan hati antara suami dan istri senantiasa terjaga, perlu ada kesediaan untuk memberi sentuhan emosi pada peristiwa rumah-tangga yang bersifat rutin. Kita boleh memiliki beragam fasilitas dalam rumah –dan seharusnya demikian jika kita mampu—tetapi bertambahnya fasilitas harus diiringi dengan semakin eratnya ikatan hati antara suami dan istri.

Di antara fasilitas yang berpotensi merenggangkan ikatan emosi adalah televisi. Suami-istri yang sedang berdua menikmati tayangan televisi, ternyata lebih jarang melakukan komunikasi interpersonal yang hangat dibanding suami-istri yang sedang berada di dapur. Meningkatnya aktivitas menonton televisi, ternyata menurunkan kualitas komunikasi perkawinan (marital communication) antara keduanya, yakni komunikasi yang bermanfaat untuk menghangatkan hubungan dalam perkawinan.

Bertambahnya waktu untuk menonton TV juga membuat “kebutuhan” terhadap hiburan semakin meningkat. Sebaliknya daya tahan untuk melakukan aktivitas produktif menurun. Kita juga semakin cenderung untuk memperoleh hiburan yang bersifat instant. Tanpa usaha yang berarti.

Ini tampaknya sepele. Tetapi jika tidak disadari akan membuat ikatan emosi antara suami dan istri melemah. Tak ada lagi upaya untuk saling mendekati. Tak ada lagi kebutuhan untuk senantiasa bertemu dan bercanda. Kehadiran istri tak lagi menghibur dan menghadirkan kedamaian. Sementara istri juga tenggelam dengan dunianya sendiri.

Jika sudah tidak ada ikatan emosi yang kuat antaranya keduanya, apa lagi yang bisa membuat mereka punya alasan untuk mempertahankan, meningkatkan kehangatan dan membangkitkan kemesraan antar mereka berdua?

Tentu saja, hiburan tidak tabu bagi kita. Bukankah ‘Ali bin Abi Thalib ra. pernah mengingatkan agar kita berhibur sekali waktu? Dengan berhibur, hati tidak akan beku. Tetapi berhibur yang bagaimana? Berhibur yang membuat kehadiran masing-masing semakin berarti. Misalnya, bepergian keluar kota dan makan bersama di atas hamparan tikar sembari menikmati terpaan angin yang sejuk. Atau berhibur yang menantang aktivitas fisik dan mental kita.

Wallahu a’lam bishawab. Semoga pernikahan Anda semakin mesra penuh barakah

sumber : fanpage M. Fauzil Adhim
Read more
 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More