• slide nav 1

    Salim Business Group

    Kehidupan terbaik yakni hidup sukses bahagia dan berkah ...
  • slide nav 2

    Ekselensia Training

    Membangun pelatihan yang terbaik dan terpercaya sebagai sarana percepatan dalam mencapai kehidupan terbaik...
  • slide nav 3

    Impian Hari Ini...

    Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok
  • slide nav 4

    Trainer

    Lima Level Trainer...
  • slide nav 5

    Alasan!

    Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan ...
  • slide nav 6

    Memulai Usaha

    Tiga Langkah Menuju Bisnis yang Sukses...

Selamat Datang di Website Salim Business Group

"Kita dibatasi bukan oleh kemampuan kita, tapi oleh visi kita.” Jonathan Swift (1667—1745), pengarang dan sastrawan Irlandia"

Delete this element to display blogger navbar

Tampilkan postingan dengan label Kolom Fauzil Adhim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Fauzil Adhim. Tampilkan semua postingan

0 Kuat Memegang Prinsip

Oleh Mohammad Fauzil Adhim
FOTO: azansite.wordpress
Harus ada keyakinan kuat yang mereka pegangi agar bisa tegak kepalanya, mantap langkahnya, jelas tujuannya, dan ada alasan yang kuat untuk bertindak dan bekerja keras. Keyakinan kuat kepada Allah Yang Maha Menciptakan hampir tidak ada artinya jika tidak ada petunjuk yang pasti benarnya untuk hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada artinya pula jika petunjuk itu berubah-ubah tanpa kepastian. Ringkasnya, petunjuk itu harus pasti dan meyakinkan. Betul-betul petunjuk dari Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan rekaan. Dan al-Qur’an adalah kitab yang sempurna. Dan di bulan Ramadhan ini selalu di-taddarus dan amalkan.
Tak kalah pentingnya untuk diperhatikan, petunjuk itu haruslah menjadi pijakan dalam bertindak serta acuan dalam berpikir dan bersikap. Mengacu pada petunjuk, kita mengarahkan pikiran, sikap, keinginan dan tindakan kita. Berpijak pada petunjuk, kita membangkitkan mimpi-mimpi dalam diri kita untuk meraihnya sekaligus memperoleh kebaikan dari usaha maupun hasilnya. Petunjuk menjadi daya penggerak (driving force) untuk bertindak, berjuang, bersungguh-sungguh dan berkorban untuk menjalani serta mewujudkan cita-cita yang bersifat moralistik-idealistik.
Apakah petunjuk yang pasti benarnya itu? Al-Qur’an. Allah Ta’ala menjamin, “Alif Laam Miim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Al-Baqarah [2]: 1-4).
Tetapi…

Al-Qur’an tidak memberi manfaat jika kita menggunakannya sebagai pembenaran atas pendapat dan keinginan kita, bukan sebagai sumber kebenaran. Kita kehilangan petunjuk. Pada saat yang sama, sikap itu membuat anak-anak kehilangan kepercayaan terhadap al-Qur’an, meski secara kognitif mengakuinya sebagai kitab suci. Hilangnya kepercayaan itu secara pasti akan menyebabkan anak kehilangan rasa hormat terhadap kesucian agama sehingga hampir tidak mungkin menjadikannya sebagai pembentuk sikap hidup yang kokoh.
Maka, kita perlu menghidupkan budaya mengambil petunjuk dari al-Qur’an semenjak anak-anak masih amat belia. Kita mengakrabkan mereka dengan kebiasaan mengenali bagaimana kemauan al-Qur’an dalam setiap urusan sekaligus membuktikan kebenaran al-Qur’an. Kita membiasakan mereka untuk mencerna ayat al-Qur’an, lalu mengajak mereka menemukan apa yang harus mereka kerjakan berdasarkan ayat-ayat tersebut.
Ini berarti, kita memperkenalkan tradisi mendeduksikan pesan-pesan al-Qur’an dalam pemahaman. Artinya, bermula dari ayat al-Qur’an kita belajar merumuskan sikap dan tindakan. Bermula dari al-Qur’an, kita mengarahkan perasaan dan pikiran kita. Berpijak pada al-Qur’an, kita menilai segala sesuatu. Dalam hal ini, al-Qur’an menjadi penilai, penjelas dan pembeda.
Cara memperkenalkan al-Qur’an yang semacam ini akan lebih sempurna jika orangtua maupun guru memiliki kecakapan untuk memahami “maksud al-Qur’an yang sebenarnya,” sebelum mengeksplorasi lebih jauh. Hal ini kita lakukan dengan membiasakan anak memahami maksud tiap ayat berdasarkan tafsir yang otoritatif, yakni tafsir baku yang semua mufassir terpercaya menerimanya. Sebab tidak mungkin kita mengambil petunjuk dari sesuatu kecuali dengan memahami maksud yang sebenarnya. Tanpa memahami maksud yang sebenarnya, kita bukannya mengambil petunjuk dari al-Qur’an, tetapi menjadikan al-Qur’an sebagai penguat dari pendapat kita tanpa kita menyadari.
Ambillah contoh sederhana. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu WaTta’ala (SWT) berfirman, “….Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…..” (Ar-Ra’d [13]: 11).
Penggalan ayat ini sering menjadi argumentasi mereka yang sedang meyakinkan saudara-saudaranya untuk melakukan perubahan nasib. Padahal, ayat ini sebenarnya menunjukkan bahwa pada dasarnya Allah Ta’ala limpahkan kebaikan dan kemuliaan kepada kita sampai jiwa kita berubah. Jika iman sudah bertukar dengan kekufuran dan taat berganti dengan kemaksiatan, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencabut kenikmatan tersebut dari suatu kaum.
Nah.
Contoh sederhana ini menunjukkan betapa pentingnya kita menghidupkan budaya mengambil petunjuk secara tepat. Sebab, salah dalam mengambil petunjuk –meski sumber petunjuknya benar—akan salah pula tindakan yang kita ambil, sehingga akibat berikutnya pun akan salah.

Di sini kita perlu berhati-hati. Pemahaman, perasaan, sikap, keyakinan dan tidak terkecuali tindakan, banyak berawal dari perkataan. Cara kita mengungkapkan, sangat berpengaruh terhadap pemahaman, penghayatan dan keyakinan. Sangat berbeda akibatnya bagi keyakinan anak terhadap al-Qur’an. Salah cara kita berbicara, salah pula sikap anak terhadap al-Qur’an sebagai petunjuk untuk masa-masa selanjutnya.
Sangat berbeda pengaruhnya bagi pikiran ketika kita berkata, “Begitulah Allah Ta’ala berfirman. Karena itu…, kita perlu berusaha dengan sungguh-sungguh agar bisa lebih banyak bersedekah.” Kalimat ini mengisyaratkan bahwa al-Qur’an adalah sumber petunjuk dan inspirasi tindakan. Sedangkan kalimat berikut, melemahkan keyakinan anak terhadap al-Qur’an karena terasa sebagai pembenaran. Bukan sumber kebenaran. Sainslah yang menjadi sumber kebenaran manakala kalimat kita berbunyi, “Berdasarkan penemuan mutakhir tadi kita bisa melihat bahwa sikap kita bisa mempengaruhi alam semesta, meskipun kelihatannya tidak merusak. Karena itu…, tidak heran kalau Allah Ta’ala berfirman….”
Agar anak semakin percaya kepada al-Qur’an, suasana yang menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk dan acuan dalam bertindak perlu dihidupkan. Ini menuntut budaya pembelajaran yang kontekstual. Seorang guru al-Qur’an adalah guru yang kemana pun ia pergi, ia akan menunjukkan kepada murid-muridnya bagaimana al-Qur’an berbicara. Melalui cara ini anak memperoleh pengalaman mental bahwa al-Qur’an melingkupi seluruh aspek kehidupan, sehingga anak semakin dekat hatinya kepada petunjuk. Selengkapnya, pembicaraan tentang ini akan kita lanjutkan pada edisi mendatang.
Anak-anak juga perlu memperoleh pengalaman iman dan sekaligus intelektual bahwa al-Qur’an merupakan penimbang, penilai dan pemberi kata putus tentang benar tidaknya sebuah pendapat, bahkan penemuan yang dianggap ilmiah sekalipun. Bukan sebaliknya, menakar kebenaran al-Qur’an dari sains. Untuk itu, seorang guru perlu memiliki wawasan luas, meski yang diajarkan di sekolah hanya satu mata pelajaran: tahfidz. Menghafal al-Qur’an. Tujuannya, agar murid tidak hanya hafal di otak, tetapi lebih penting lagi meyakini di hati.
Selebihnya, tidak bisa tidak, modal yakin dan tidak ragu sama sekali terhadap al-Qur’an adalah dengan mengenal dan mengimani sumber al-Qur’an, yakni Allah Ta’ala dan proses turunnya.
Ringkasnya, ternyata untuk mengajak anak-anak meyakini al-Qur’an, guru tidak cukup sekedar bisa membaca. Hanya dengan meyakini secara total sehingga tidak ada keraguan di dalamnya, al-Qur’an bisa menjadi daya penggerak untuk bertindak. Dengan demikian, mereka tidak sekedar hafal. Lebih dari itu, hidup jiwanya dan kuat keyakinannya dalam memegangi prinsip. SUARA HIDAYATULLAH SEPTEMBER 2008
Wallahu a’lam bish-shawab.
Read more

0 Di Mata Kita Ada Nikmat-Nya

Ada peristiwa tentang seorang anak kecil di sebuah rumah sakit yang sangat besar. Beberapa minggu yang silam, ibunya terbaring karena melahirkan. Seorang bayi yang sehat dan lucu. Hari ini, anak kecil itu yang terbaring di sana. Beberapa dokter berdiri mengelilinginya; mengangkat kedua bola mata anak itu. Ada penyakit yang membuat para dokter tidak punya pilihan lain kecuali operasi.

Ketika anak itu siuman dari pengaruh obat bius, ia segera meraba-raba mencari bapaknya. Ia berkata, “Bapak, kapan kita pulang?”

Bapaknya terdiam. Hening sejenak, kemudian berkata, “Tunggulah, Nak sampai kamu sembuh.”

“Bapak, kenapa lama sekali?” kata anak itu, “aku sudah ingin pulang. Aku ingin lihat adik lho, Pak.”

Bapak itu terdiam. Ia hanya dapat menahan tangis dan perasaan yang bercampur adik. Ia ingin sembunyikan wajahnya, meski anaknya sudah tidak bisa melihat lagi.
Peristiwa ini—sebagaimana juga peristiwa-peristiwa lain—datang dan pergi begitu saja. Banyak pelajaran hadir di hadapan kita, tetapi lebih banyak yang hikmahnya hanya yang kita rasakan saat bercanda. Kita tak menemukan pelajaran apa-apa, karena amat sedikit yang kita renungkan. Padahal, betapa banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil kalau nurani kita masih bersih; atau kalau kita mau berhenti sejenak untuk merenung.

Maha Suci Allah. Alangkah banyak nikmat yang kita rasakan, tetapi alangkah sedikit yang kita syukuri. Alangkah banyak anugerah yang kita nikmati, tetapi alangkah seringnya kita lambat menyadari. Kita ingin mensyukuri dan mempergunakannya untuk kebajikan di jalan Allah, hanya ketika nikmat itu sudah tidak ada lagi bersama kita.

Masya-Allah, alangkah banyak nikmat yang tak sanggup kita syukuri. Bahkan menyadari pun tidak. Allah memberi kita tanpa menghitung-hitung, sementara untuk memuji-Nya sekali lagi, kita sudah sibuk menghitung pahala atas amal-amal kita yang tak seberapa. Padahal, di sisi Allah nikmat yang lebih besar. Jauh lebih besar.

Ingatlah ketika Rasulullah Saw Bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt memiliki seratus rahmat. Kemudian Ia turunkan hanya satu rahmat kepada jin, manusia, hewan, dan serangga di dalamnya. Dengan rahmat itulah mereka saling menyayangi dan kasih-mengasihi. Dengan rahmat itu pula, perempuan jahat pun menyayangi anaknya. Allah Swt menunda sembilan puluh sembilan rahmat-Nya, yang akan dikaruniakan bagi hamba-Nya pada hari Kiamat” (H.r. Bukhari & Muslim).

Hanya dengan satu rahmat inilah Allah beri kita nikmat berupa mata dan seluruh yang membuat kita mampu merasakan betapa nikmatnya garam. Kalau sedikit saja ujung lidah kita yang terluka, betapa berbeda dunia yang kita rasakan sekarang. Kalau sedikit saja alat penciuman kita rusak, betapa bunga-bunga itu tak lagi mewangi. Kalau sebentar saja kelenjar air liur tak berproduksi, betapa tak menariknya setiap masakan yang lezat.

Tetapi…

Alangkah sedikit yang kita syukuri. Padahal, dengan syukur itu, Allah akan berikan 99 rahmat yang masih tersimpan di sisi-Nya. Di dalamnya ada kasih yang abadi; kasih yang tak berbatas dari-Nya.

Astaghfirullah… alangkah sering kita lupa atas nikmat-nikmat yang diberikan-Nya. Kita lupa pada nikmat-Nya, lupa menggunakan nikmat-Nya dan bahkan lupa kepada Ia Yang Memberi Nikmat. Begitu banyak yang kita lupa, sampai-sampai kita lupa pada diri sendiri. Kita terasing di tengah keramaian karena ada yang sakit pada jiwa kita; dan ada yang gelap pada hati kita.

Kutulis ini di sini dengan satu harapan yang sederhana: semoga kita lebih ingat kepada-Nya sesudah banyak dosa kita perbuat. Kutuliskan ini bukan karena sudah mampu mengingat-Nya dengan sempurna, tetapi karena berharap semoga catatan sederhana ini terhitung sebagai langkah untuk mendekati-Nya.
Read more

0 Hasil Pendidikan Karakter?

Inikah hasil pendidikan karakter di negeri ini? Kita berbuih-buih bicara budi pekerti, tetapi keteladanan sulit dicari, integritas apalagi, nyaris tak dapat ditemui. Maka karakter yang seharusnya diinspirasikan, terjatuh pada soal kognitif semata. Karakter diajarkan, sehingga mungkin diketahui dan bahkan dimengerti, tetapi tidak menggerakkan diri untuk menjalaninya. Padahal sebagaimana ditulis dalam buku The Biggest Job We'll Ever Have yang secara khusus mengupas tentang bagaimana melaksanakan pendidikan karakter, ada satu hal penting yang perlu kita catat: "Character is inspired. It is not imparted." Kita tidak bisa mendiktekan karakter. Yang harus kita lakukan adalah menginspirasi mereka. Di sinilah kita perlu mengilmui agar tidak asal-asalan bikin program. Tanpa ilmu yang memadai, maka kita bisa bikin Kantin Kejujuran yang lebih banyak menciptakan maling daripada mendidikkan kebaikan. Akibatnya, sangat banyak kantin kejujuran yang tutup tanpa salam perpisahan.

Ada yang merisaukan dari pendidikan di negeri ini. Bukan hanya bicara tentang pendidikan secara umum, tetapi juga pendidikan Islam. Para pendidik muslim kerap kali dengan sangat genit serta merta mengklaim sebuah konsep atau teori baru yang tampak hebat sebagai Islami. Bahkan tak sedikit yang secara norak mengatakan, "Ini sebenarnya konsep Islam, cuma bukan kita yang menggalinya. Sebenarnya dalam Islam sudah ada. Sejak lama." Akibatnya, kita kehilangan sikap kritis. Sesuatu yang sekilas tampak mirip, bisa jadi sangat bertolak-belakang dengan Islam. 

Atau kita mudah terperangah ketika menjumpai suatu pendekatan yang sekilas tampaknya sangat bermanfaat. Bahkan ada yang telah secara keji (atau secara ceroboh) mencari-carikan dalil pembenar untuk sesuatu itu. Maka muncullah Islamic The Secret, atau Qur'anic Law of Attraction, dan lain-lain yang kalau kita mau belajar Islam dengan sungguh-sungguh, niscaya kita tidak menjumpainya. Hal serupa juga terjadi pada hypnotherapy. Di sejumlah tempat saya melihat ada yang mulai lancang memasuk-masukkan dalil sehingga tampak Islami. Sangat berbeda berdalil Qur'an dengan berdalih Qur'an. Lalu membanggakan bahwa hypnotherapy itu Islami. Sungguh, sampai hari ini saya tidak menemukan petunjuk yang dapat menjadi pegangan shahih bahwa hypnosis itu Islami. Justru yang saya dapati, semakin menguatkan diri saya untuk menolak hypnosis tersebut karena alasan aqidah.

Maka terhadap acara workshop hypnotherapy di Payakumbuh yang dinisbahkan kepada saya, 23 November 2011 lalu serta acara serupa di Padang Panjang, 24 November 2011 saya berlepas diri. Sikap saya semenjak awal telah jelas: saya menolak karena alasan aqidah. Di Padang Panjang memang tidak sampai ada workshop karena saya telah menyatakan penolakan sebelum berangkat ke lokasi acara. Tetapi di Payakumbuh, workshop itu ada tanpa memberi konfirmasi terlebih dulu sehingga sebagian memiliki kesan bahwa saya menyampaikan teorinya, sedangkan prakteknya adalah workshop hypnotherapy.

Ya Allah, aku berlepas diri dari apa-apa yang mereka nisbahkan kepadaku yang aku tidak melakukannya.

(M.Fauzil Adhim)
Read more
 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More