• slide nav 1

    Salim Business Group

    Kehidupan terbaik yakni hidup sukses bahagia dan berkah ...
  • slide nav 2

    Ekselensia Training

    Membangun pelatihan yang terbaik dan terpercaya sebagai sarana percepatan dalam mencapai kehidupan terbaik...
  • slide nav 3

    Impian Hari Ini...

    Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok
  • slide nav 4

    Trainer

    Lima Level Trainer...
  • slide nav 5

    Alasan!

    Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan ...
  • slide nav 6

    Memulai Usaha

    Tiga Langkah Menuju Bisnis yang Sukses...

Selamat Datang di Website Salim Business Group

"Kita dibatasi bukan oleh kemampuan kita, tapi oleh visi kita.” Jonathan Swift (1667—1745), pengarang dan sastrawan Irlandia"

Delete this element to display blogger navbar

Tampilkan postingan dengan label Kolom Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Parenting. Tampilkan semua postingan

0 Segenggam Iman di Rumah Kita


FOTO: ALBAR
Oleh Mohammad Fauzil Adhim


Apa yang salah pada Nabi Nuh ‘Alaihissalam (AS)? Ia seorang Nabi sekaligus utusan Allah ‘Azza wa Jalla. Imannya jangan ditanya, sudah tentu sangat terjaga. Tidak mungkin ada Nabi yang imannya meragukan. Hidupnya selalu dalam petunjuk karena Allah Ta’ala sendiri yang membimbingnya. Akhlaknya? Pasti mulia.
Seorang Nabi sudah jelas amat kuat penjagaannya dari hal-hal yang meragukan (syubhat). Apalagi dari yang haram. Tetapi apakah semua kemuliaan itu menjadikan anaknya berada dalam barisan orang-orang yang beriman? Tidak. Justru sebaliknya, putra Nabi Nuh menjadi pendurhaka. Hingga detik-detik terakhir hidupnya, ia masih diseru oleh ayahnya –Nabi Nuh—untuk masuk dalam barisan orang beriman. Tetapi ia menolak.
Marilah kita kenang percakapan Nabi Nuh dengan putranya sebagaimana diabadikan dalam al-Qur’an:
“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’

“Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata: ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Huud [11]: 42-43).
Apa yang bisa kita renungkan dari ayat tersebut? Banyak hal. Salah satunya adalah pelajaran berharga betapa kita tidak kuasa untuk menggenggam jiwa anak-anak kita sendiri. Betapa pun amat besar keinginan kita untuk menjadikan anak-anak kita termasuk golongan orang beriman, tetapi kita tidak punya kekuatan untuk menggerakkan jiwa mereka. Kita hanya bisa mempengaruhi mereka, mendorong mereka dan menyeru mereka kepada kebaikan. Kita hanya dapat bermunajat kepada Allah Ta’ala yang jiwa mereka dalam genggaman-Nya.

Dari ayat ini kita juga belajar tentang tulusnya cinta seorang ayah kepada anak. Betapa pun anaknya telah melakukan kedurhakaan yang nyata, seorang ayah tetap masih memiliki tabungan harapan yang sangat besar agar anaknya kembali kepada jalan takwa. Betapa pun tampaknya sudah hampir tak mungkin, seorang ayah masih akan berusaha memanfaatkan detik-detik terakhir kesempatannya untuk mengingatkan, menasehati, dan menyelamatkan anaknya. Meskipun telah jelas kekufuran melekat kuat pada anaknya, masih ada harapan yang besar agar ia kembali ke jalan Allah. Masih ada doa-doa yang terucap untuk memohon pertolongan-Nya.
Ada yang perlu kita renungkan. Ada yang perlu kita telusuri untuk menemukan jawaban.


Siapkan Calon Ibu Saleh
Lalu apa sebabnya iman tercerabut dari rumah utusan Allah ini? Istri yang tidak memiliki kendali iman dalam dirinya. Allah Ta’ala jadikan istri Nabi Nuh (juga istri Nabi Luth) sebagai contoh bahwa iman tak bisa ditegakkan, anak-anak tak bisa diharapkan, kebaikan tak bisa hadir di rumah kita jika istri rapuh imannya dan lemah pendiriannya. Segigih apa pun kita mendidik anak, awalnya harus menyiapkan istri kita untuk mampu menjadi ibu yang belaian tangannya dipenuhi pengharapan terhadap pahala dari Allah Ta’ala; yang tutur katanya dipenuhi keinginan untuk menjadikan anak-anak mencintai dien; yang doanya menembus kegelapan malam demi mengharap pertolongan Allah Ta’ala agar hati anak-anaknya diterangi oleh iman yang kuat di atas akidah yang lurus.

Karenanya, kunci pertama melahirkan anak-anak saleh adalah menyiapkan calon ibu bagi anak-anak kita. Kunci untuk mencetak generasi yang beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah dengan mencintai istri kita sepenuh hati. Sebab dialah yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita. Bukan sekadar sebagai ibu kandung yang melahirkan dan sesudah itu orang lain yang mengurus anak-anaknya.
Sesungguhnya, setiap anak kita memerlukan ‘tiga ibu’. Setiap bapak harus menjamin bahwa anak-anaknya memiliki tiga ibu, yakni ibu kandung, ibu susu yang memberi makan kepada bayinya dengan air susunya sendiri (bukan susu sapi), dan ibu asuh yang menjadi madrasah pertama bagi anak kita. Seyogyanya, tiga fungsi ibu ini berada dalam satu pribadi, yakni istri yang melahirkan anak-anak kita. Tetapi sekiranya tidak bisa, masih ada jalan yang Allah Ta’ala berikan, yakni mengangkat ibu susuan dengan segala kehormatannya. Adapun pengasuhan, ada berbagai kewajiban yang harus kita tunaikan.
‘Alaa kulli haal, mari kita renungkan kembali bahwa berpayah-payah dalam berdakwah tidak cukup untuk mengantarkan anak-anak kita agar memiliki iman yang kuat dan Akidah yang lurus. Khusyuknya doa kita tidak cukup untuk menjadikan anak kita ahli ibadah. Penuhnya luka di sekujur badan karena memperjuangkan agama Allah ‘Azza wa Jalla, yakni al-Islam ini, tidak cukup untuk melahirkan generasi mujahid yang siap mengorbankan hidup dan hartanya untuk menolong agama Allah. Begitu pula banyaknya ilmu yang kita dapat melalui usaha sungguh-sungguh, tidak cukup untuk membawa anak kita dekat dengan agama. Apalagi jika bekal kita sekedar power point. Bukan ilmu yang dikejar dengan penuh kesungguhan.

Lalu apa yang menjadikan cukup? Istri kita; apakah hatinya dipenuhi iman atau disesaki keinginan mengejar dunia? Istri kita; apakah orientasi hidupnya untuk mengejar akhirat ataukah mendesak-desak kita untuk bersibuk mendakwahkan agama demi merebut dunia? Jika hidup kita dipenuhi kegelisahan untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi, tetapi istri terlepas dari iman, maka sulit bagi kita untuk berharap akan lahirnya anak-anak saleh yang mendoakan sesudah kita tiada. Mungkin ada yang mengundang orang untuk mendoakan kita, tetapi mereka tidak ikut berdoa. Sementara kesalehan tidak melekat dalam diri mereka. Na’udzubillahi min dzaalik.
Mari kita ingat firman Allah Ta’ala tentang istri yang durhaka, “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (At-Tahriim [66]: 10)

Dalam keadaan berselisih iman, bisa saja istri tetap cinta sepenuh hati. Bukankah sudah banyak contoh seorang istri yang tetap setia kepada suami meskipun telah nyata durhakanya kepada Allah? Ini berarti cinta saja tidak cukup.
Nah, sudahkah Anda memberi nasehat kepada istri Anda hari ini?* SUARA HIDAYATULLAH, 
Read more

0 Harapan Sederhana untuk Anak


Aku tapaki jalan ini penuh pinta, anakku. Kesenangan adalah impian yang kusimpan untuk kuminta pada Tuhan ketika tubuh ini sudah menjadi tulang belulang, sebab dunia terlalu pahit untuk diperebutkan. Tak ada yang abadi dari permainan dunia, sebagaimana hidup ini juga tidak abadi. Banyak sudah manusia yang mati. Dan kita hanya menunggu kematian dipergilirkan.

Mengenangkan orang-orang tercinta, anakku, adalah rasa hina karena tak sanggup membalaskan kebaikan-kebaikan mereka semua. Betapa mudah hati lupa oleh kenikmatan yang tak seberapa ini. Lupa asal-usul, lupa tempat kembali sesudah mati, dan lupa pada tujuan penciptaan ini. Maka aku pesankan, anakku, arahkanlah pandangan mata hatimu kepada hidup sesudah mati. Dan bahwa sesungguhnya kehidupan ini hanyalah saat untuk bersiap-siap….

Aku tapaki jalan ini penuh airmata, anakku. Aku pernah sakit berbulan-bulan dengan jantung yang sedikit bermasalah. Aku akhirnya bisa bangkit ketika aku belajar melupakan rasa sakit dan tidak sibuk meratap dengan apa yang dikatakan oleh dokter tentang harapan sehat bagi diriku. Kudidik diriku untuk tidak diam terpaku menanti waktu habis di pembaringan. Aku akhirnya bisa duduk dengan tegak tanpa penyakit jantung yang membuat nafas bapakmu megap-megap, ketika bapakmu belajar untuk memberi manfaat bagi manusia. Sesungguhnya keindahan hidup sebagai orang yang beriman kepada-Nya adalah ketika kita bisa memberi manfaat, atau ketika belum sanggup kita mengambil manfaat dari sesama.

Aku namakan dirimu Muhammad Hibatillah Hasanin karena ingin sekali bapakmu ini menjadikan dirimu sebagai hamba-Nya yang memberi manfaat kebaikan sangat besar bagi ummat. Tidaklah aku namakan dirimu dengan main-main. Ada do’a yang kuharap dengan sungguh-sungguh melalui nama yang kuberikan itu, anakku. Ada harapan yang kutanam dengan membaguskan namamu, sebagaimana Nabi Saw. pernah berpesan kepada kita. Mudah-mudahan dengan membaguskan namamu, Allah ‘Azza wa Jalla meninggikan derajatmu di antara manusia yang ada di muka bumi ini.

Nama itu aku berikan kepadamu, Nak karena engkau adalah anugerah yang amat berharga dari Allah ‘Azza wa Jalla. Engkau lahir di bulan Maret tanggal 18, ketika bapakmu sedang belajar mendakwahkan agama ini dengan ilmu yang tak seberapa. Malam ketika bapak tiba di penginapan, ibumu memberi kabar masuk rumah sakit untuk bersalin. Ingin rasanya bapakmu segera pulang agar bisa menunggui persalinan itu. Tetapi ada tugas yang harus dituntaskan. Gelisah rasanya bapakmu untuk segera kembali karena tahu bahwa di saat-saat seperti ini, tentu ibumu sangat butuh pertolongan. Tetapi andaikan pun bapakmu segera bergegas pulang, perjalanan terlalu jauh untuk bisa ditempuh dengan waktu singkat.

Maka, kemanakah bapakmu harus berlari kalau bukan kepada Allah? Kemanakah harus meminta pertolongan kalau bukan kepada Allah? Kemanakah harus meminta keselamatan kalau bukan kepada Allah? Kemanakah harus mengeluh di saat manusia sudah terlelap tidur, kalau bukan kepada Allah? Bukankah kalau kita mendekat kepada-Nya dengan berjalan, Ia akan menyambut kita dengan berlari? Bukankah kalau kita berjalan kepada-Nya selangkah, Ia akan mendekati kita beberapa langkah?

Di saat bapakmu sedang dalam kegelisahan, ada kabar yang datang dari ibumu bahwa bayi yang akan dilahirkannya sungsang. Petugas mengatakan, kemungkinan baru bisa bersalin siang hari dan kemungkinan besar harus melalui operasi. Padahal waktu itu baru melewati tengah malam. Sangat panjang waktu yang harus dilalui untuk sampai ke siang hari, andaikata perkiraan itu benar.
Maka aku bersihkan diri dan bersuci. Aku serahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sendirian di malam itu aku bermunajat kepada Allah, menyungkurkan kening yang hina ini untuk berdo’a kepada-Nya. Di sujud yang terakhir, kumohon dengan sangat agar Ia berkenan memberi keajaiban –ah, rasanya bapakmu belum santun dalam berdo’a. Kumohon dengan sangat agar Ia memberi pertolongan.

Dan engkau tahu, anakku, Allah Ta’ala adalah sebaik-baik tempat meminta dan sebaik-baik pemberi. Ia lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Sesungguhnya, Tuhanmu Maha Pemurah. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman, “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaaq: 1-5).

Seusai shalat dua raka’at dan memanjatkan do’a, anakku, segera bapakmu ini mencari kabar tentang dirimu. Kutelepon ibumu dengan harap-harap cemas. Nyaris tak percaya, anakku, Allah Ta’ala benar-benar memberi keajaiban. Seorang sahabat bapak, Mohammad Rozi namanya, yang istrinya menunggui ibumu bersalin, mengabarkan bahwa engkau telah lahir dengan mudah dan lancar. Kelahiranmu, rasanya, anugerah yang tak ternilai harganya. Banyak pelajaran yang bapak renungkan dari peristiwa itu dan ingin kubagi denganmu beserta saudara-saudaramu. Rasanya, setiap kelahiran dari kalian adalah pelajaran berharga tentang kekuasaan, kasih-sayang dan kemahapemurahan Allah. Sesungguhnya, Allah adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Sesungguhnya Ia adalah sebaik-baik tempat meminta. Sesungguhnya Ia adalah sebaik-baik penjaga.

Teringat aku pada sebuah ungkapan, “Sometimes accident is not accident at all.” Kadangkala kecelakaan itu sama sekali bukan kecelakaan. Kesulitan itu sama sekali bukan kesulitan. Kata Umar bin Khaththab ra., “Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku.”

Keajaiban yang mengiringi kelahiranmu, mengingatkan bapak agar meyakini janji Allah tanpa ragu. Telah berfirman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, pasti Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7).

Apakah Allah butuh pertolongan? Tidak. Sama sekali tidak, Nak. Maha Suci Allah dari membutuhkan pertolongan. Tetapi seruan Allah Ta’ala ini bermakna agar engkau mengingati tugas yang dipikulkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada kita semua. Sesungguhnya tidaklah jin dan manusia diciptakan kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah. Tugas kita sebagai khalifatuLlah di muka bumi ini, anakku, juga di atas pijakan pengabdian kepada-Nya. Kernanya, makmurkanlah bumi ini sehingga engkau menjadi hadiah Allah bagi ummat dengan menghidupkan tauhid di dalam dadamu dan langkah-langkahmu. Mudah-mudahan dengan demikian, kesucian agama ini memancar dari setiap langkah yang engkau kerjakan.

Aku tulis pesan ini dengan sesungguh hati, Anakku. Meski jiwa bapakmu masih rapuh dan iman ini masih sangat menyedihkan, tetapi sembari memohon pertolongan kepada Allah Yang Menciptakan, izinkan bapakmu berpesan. Ingatlah, wahai Anakku, jangan pernah engkau lepaskan Allah Ta’ala dari hatimu. Genggamlah kesucian tauhid dalam ‘aqidahmu sekuat-kuatnya. Cengkeramlah dengan gigi gerahammu sehingga menjiwai setiap kata dan tindakanmu.
Belajarlah mencintai Tuhanmu menurut cara yang dikehendaki oleh-Nya. Betapa banyak orang yang melakukan perjalanan menuju Allah (suluk), tetapi mereka melalui jalan yang tidak disukai-Nya. Mereka mencipta sendiri jalan yang akan dilewati. Mereka mengira sedang memuja Allah, padahal sesungguhnya sedang mencari keasyikan diri untuk menemukan saat-saat yang “memabokkan” (isyiq). Melalui cara ini, kepenatan jiwa memang pergi, Anakku. Tetapi bukan itu yang harus engkau lalui. Bukan itu jalan yang akan membawamu pada ketenangan dan kedamaian. Ia hanya membuatmu lupa sejenak dengan beban-beban duniamu. Sesudahnya, engkau akan segera kembali dalam kepenatan yang melelahkan. Kernanya, ada yang kemudian benar-benar bukan saja lupa pada beban dunianya untuk sementara, tetapi bahkan sampai lupa tanggung-jawab dan lupa pada diri sendiri.

Sesungguhnya, ketenangan dan kedamaian jiwa yang sebenar-benarnya ada bersama dengan kebenaran. Sesungguhnya ketenangan itu karena engkau menghadapkan wajahmu kepada Allah untuk mencari ridha-Nya. Engkau kembali dan senantiasa berusaha kembali kepada-Nya, atas setiap khilaf yang terjadi setiap hari kerna manusia memang tempat salah dan lupa. Semoga dengan demikian kita termasuk orang-orang yang diseru oleh Allah ‘Azza wa Jalla dengan seruan, “Wahai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Artinya, bukan ketenangan itu yang menjadi tujuan dari wirid-wirid panjangmu, Anakku. Tetapi ketenangan itu muncul sebagai akibat dari kokohnya keyakinanmu pada Tuhanmu. Sungguh, jangan jadikan agama ini sebagai candu sehingga hatimu jadi beku. Tetapi berjalanlah di atasnya sesuai dengan tuntunan wahyu. Bukan ra’yu. Semoga dengan demikian jiwamu akan terang, hatimu akan tenang dan di akhirat nanti engkau akan meraih kemenangan. Semoga pula kelak engkau akan aku banggakan di hadapan Tuhanmu.

Aku ingin pesankan satu lagi, Anakku. Atas apa-apa yang Allah Ta’ala tidak menjaminkannya bagimu, mintalah kepada-Nya dan berusahalah untuk meraihnya. Iman dan kemenangan di Hari Akhir, termasuk di antaranya. Atas apa-apa yang Allah Ta’ala telah jaminkan bagimu dan bagi seluruh makhluknya, ketahuilah kunci-kuncinya. Rezeki termasuk di dalamnya.

Gunakanlah rezeki yang dikaruniakan Allah kepadamu untuk meraih akhirat dan menjaga iman. Jangan mengorbankan akhirat untuk dunia yang cuma segenggam. Dan apabila engkau mampu, kejarlah akhirat dan sekaligus membuka pintu-pintu dunia. Gunakanlah dunia untuk “membeli” akhirat.

Wallahu a’lam bishawab. Sesungguhnya, tak ada ilmu pada bapakmu ini kecuali sangat sedikit saja.

(M. Fauzil Adhim)
Read more

0 Pesan Nabi Saw kepada Anak

Pesan Nabi Saw kepada Anak

Inilah pesan Nabi Saw kepada Ibnu Abbas r.a., seorang sahabat Nabi Saw. Ketika itu Ibnu Abbas masih kecil dan sedang beranjak besar. Tetapi Nabi Saw mengajarkan kepadanya nasihat-nasihat yang apabila kita memeganginya dengan kokoh, meski kita sudah bukan anak-anak lagi, niscaya akan tumbuh penjagaan dalam diri kita sendiri. Kita berhati-hati dalam bertindak bukan karena khawatir terhadap mata yang memandang dan telinga yang mendengar dari manusia yang ada di sekeliling kita, melainkan karena yakin bahwa ke mana pun menghadapkan wajah, di sanalah ada Wajah Allah.

Agar dapat merasakan bagaimana pesan Nabi Saw kepada anak kecil, mari sejenak kita perhatikan dengan saksama pesan yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi berikut ini. Nabi Saw bersabda:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (H.r. at-Tirmidzi)

Dalam riwayat lain, Nabi Saw bersabda:

“Jagalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Dia ada di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika engkau berada dalam kelapangan, niscaya Allah pun akan mengingatmu ketika engkau berada dalam kesempitan. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang salah dalam dirimu tidak mesti engkau langsung mendapatkan hukuman-Nya. Dan juga apa-apa yang menimpa dirimu dalam bentuk musibah atau hukuman tidak berarti disebabkan oleh kesalahanmu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu akan datang ketika engkau berada dalam kesabaran, dan bersama kesempitan akan ada kelapangan. Juga bersama kesulitan akan ada kemudahan.”

Ibnu Rajab al-Hanbali menulis secara khusus syarah (ulasan komentar) atas hadis ini dalam satu buku khusus. Saya tidak menceritakan panjang lebar pada kesempatan kali ini. Saya hanya ingin menyampaikan tentang betapa perasaan bertauhid yang dengan itu membangkitkan muraqabah (perasaan diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) akan tumbuh dengan kuat apabila kita memulainya dari awal. Kita bangkitkan pada diri mereka keyakinan bahwa setiap perbuatan baik, sekecil apa pun, akan dihitung oleh Allah sebagaimana tak ada perbuatan buruk yang luput dari pencatatan. 

Keyakinan ini kalau kita tanamkan dengan kokoh sedari kecil, akan melahirkan semangat untuk berbuat baik tanpa menunggu tepuk tangan dan kata-kata sanjungan yang membanggakan hati. Sayangnya, kita sering lupa menyampaikan nasihat ini, bahkan terhadap diri kita sendiri. Sementara, ketika mengingatkan, pesan itu kerap kita sampaikan dengan cara yang kering dari makna dan penghayatan, sehingga hanya menjadi bahan hafalan.

Hari ini, betapa sering kita mengobarkan kebanggaan pada diri betapa hebat mereka seraya memberi tepuk-tangan setiap kali mereka melakukan sesuatu yang tampak mengesankan. Sesaat bisa menggelorakan semangat, tetapi secara jangka panjang justru melemahkan daya tahan mereka untuk memperjuangkan iman tatkala manusia tak memberi dukungan. Mereka tak siap menghadapi celaan karena kita tidak menyiapkan mereka untuk berjuang. Mereka mendahulukan ridha manusia daripada ridha Allah 'Azza wa Jalla.

Astaghfirullahal 'adziim. Orangtua seperti apakah kita ini...? Ataukah kaki kita lebih dekat ke neraka daripada ke surga-Nya? Na'udzubillahi min dzaalik.

Ingatkanlah saya.

sumber : Pages M. Fauzil Adhim
Read more

0 Memilih Sekolah untuk Anak

Memilih Sekolah untuk Anak
Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Apa pun yang Anda harapkan sebelum memasukkan anak ke sebuah sekolah, perhatikan siapa gurunya. Mereka inilah yang paling mempengaruhi perkembangan anak di masa-masa berikutnya, terlebih jika yang Anda inginkan merupakan sekolah sehari penuh (full day school) atau sekolah berasrama (boarding school), baik yang memakai label pondok pesantren atau pun tidak. Semakin efektif seorang guru, semakin besar pengaruhnya terhadap siswa sehingga ia menjadi sosok yang dominan. Kata-katanya didengar, nasehatnya dipatuhi dan larangannya dihormati. Jika ia akrab dengan siswa, keakrabannya tidak membuatnya kehilangan kehormatan. Jika ia tidak akrab dengan siswa, ketidakrabannya bukan menjadi sebab kuatnya rasa takut dalam hati siswa. Sesungguhnya wibawa yang kuat menjadikan siswa merasa segan, sementara rasa takut menimbulkan rasa enggan untuk mendekat.

Jadi, pertanda apakah jika guru banyak berkeluh-kesah tentang betapa sulitnya menasehati siswa? Ini menunjukkan bahwa ia termasuk guru yang tidak efektif. Jika keluhan semacam itu merata pada hampir semua guru, langkah berikutnya yang perlu Anda lakukan hanya satu: memeriksa siapakah yang mendaftarkan diri sebagai siswa di sekolah tersebut? Jika anak-anak yang masuk sebagai siswa baru memang sedari awal sudah bermasalah, berarti Anda sedang berada di sekolah yang tidak efektif. Mereka lemah dalam strategi pengelolaan siswa dan tidak memiliki visi pengasuhan yang jelas. Tetapi Anda masih mempunyai harapan jika sekolah memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mengubah siswanya. Begitu pula guru-gurunya, sangat besar perhatiannya terhadap perbaikan dan kemajuan siswanya. Jika rata-rata siswa yang masuk sekolah tersebut sebenarnya bukan anak bermasalah, berarti Anda sedang berada di sekolah yang sakit. Manajemen sekolah buruk dan guru-guru tidak memiliki kompetensi pengelolaan siswa maupun pengelolaan kelas. Keadaan semacam ini akan berpengaruh besar baik terhadap sikap siswa, perilaku maupun prestasi akademik mereka.

Tentu saja guru yang baik dan sekolah yang efektif bukan tidak pernah membicarakan masalah siswa. Justru sekolah efektif kerapkali secara sengaja meluangkan waktu khusus setiap minggunya untuk membicarakan berbagai masalah yang mereka hadapi dan boleh jadi apa yang dianggap masalah di sekolah tersebut sama sekali tidak dianggap masalah di sekolah lain. Sekolah efektif dan guru-guru hebat bersemangat membicarakan masalah siswa dalam rangka meningkatkan kualitas anak didiknya ke tingkat yang lebih tinggi. Jika pun masalah yang mereka bicarakan merupakan ketidakpatutan (perilaku bolos, melecehkan teman dan sejenisnya), guru yang hebat akan fokus pada upaya menemukan jalan keluar. Solusi. Bukan sibuk dengan masalah itu sendiri. Apalagi sampai asyik menggunjingkan anak tersebut.

Yang terakhir ini, yakni perilaku guru yang senang membicarakan masalah siswa untuk menemukan keasyikan menggunjing siswa atau pun berkeluh-kesah, merupakan tanda bahaya sangat serius terutama di jenjang pendidikan anak usia dini. Pastikan, Anda segera memindahkan anak ke sekolah yang lebih positif bagi perkembangan anak jika guru-guru semacam itu masih tetap bertahan. Mereka tidak mau berubah, tetapi tidak bersedia untuk berhenti menjadi guru.

Di jenjang pendidikan apa pun, anak-anak kita memerlukan guru yang hebat. Mereka bukan saja mampu menyampaikan materi pelajaran dengan baik sehingga anak mudah memahami. Lebih penting dari itu mereka mampu mempengaruhi pikiran, perasaan dan sikap siswa. Mereka menginspirasikan kebaikan, nilai-nilai luhur dan karakter yang mulia. Bukan hanya menjelaskan dan memberi serangkaian instruksi.

Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebelum memasukkan anak ke sebuah sekolah. Pertama, integritas pribadi para pendidiknya. Mereka yang sangat kuat integritasnya akan mendahulukan nilai yang mereka pegangi, aqidah yang mereka yakini. Mereka juga sangat peka terhadap prinsip-prinsip yang harus ditegakkan dalam hidup. Mereka mampu memilih hal yang kurang menyenangkan bagi dirinya, meski ada pilihan yang lebih menggembirakan, dikarenakan pilihan yang kurang menyenangkan tersebut lebih bersesuaian dengan keyakinan yang dipeganginya. Kedua,motivasi dan kecintaannya terhadap profesi sebagai guru. Ketiga, kompetensi yang berkait dengan bidang keahlian yang diajarkan maupun kecakapan mengajarkan kepada siswa.

Ketiga aspek tersebut harus ada pada diri guru. Tetapi jika kita harus memilih, maka yang paling penting adalah aspek integritas. Inilah yang paling sulit dibentuk dan sekaligus sangat menentukan kualitas pribadi seorang guru. Tingginya jenjang pendidikan dan ungulnya kompetensi tidak akan bernilai apa-apa jika guru tidak memiliki integritas yang kuat.
Seorang guru harus memiliki kredibilitas yang tinggi. Sekali rusak, kredibilitas itu sulit dipulihkan. Tetapi kredibilitas masih lebih mudah dibangun kembali daripada integritas. Begitu pula motivasi. Meskipun membangun motivasi jauh lebih sulit daripada membangun kompetensi, tetapi masih lebih mudah dibanding membangun integritas. Menyemangati guru melalui training motivasi memang mudah, tetapi membangun pribadi yang memiliki motivasi intrinsik sangat kuat memerlukan perencanaan serta kesediaan untuk bersabar dan bersungguh-sungguh.

Jadi, perhatikan integritas guru dan lembaganya lebih dulu. Baru motivasi guru selaku pengajar, lalu kompetensinya baik dalam bidang yang diajarkan maupun dalam kemampuannya mengajar. Guru yang kurang kompeten, akan mudah mencapai tingkat kemampuan yang diharapkan melalui serangkaian training, proses pendidikan melalui kursus singkat maupun kuliah atau kegiatan belajar otodidak jika mereka memiliki motivasi yang sangat kuat.

Nah, apa yang sudah Anda persiapkan untuk memastikan anak-anak memperoleh pendidikan terbaik?
Selebihnya, ada yang perlu kita perhatikan. Jika sekolah dasar berkewajiban meletakkan dasar-dasar pengetahuan agar anak mampu mengembangkan keterampilan belajar di masa-masa berikutnya serta menguasai konsep dasar yang sangat menentukan bagi upaya untuk menguasai ilmu pengetahuan yang lebih lanjut, maka jenjang pendidikan SLTP merupakan masa dimana anak-anak perlu mengembangkan diri serta memiliki orientasi belajar yang kuat. Pada masa ini, anak memerlukan figur yang kuat. Anak-anak juga memerlukan dasar-dasar berpengetahuan sehingga mereka memiliki kecintaan yang kuat terhadap belajar dan kecenderungan yang besar terhadap ilmu. Ini merupakan tugas guru-guru SD yang perlu memperoleh penguatan di SLTP, sebelum kelak akhirnya mereka mengembangkan kompetensi akademik maupun kecakapan profesional pada jenjang pendidikan SLTA.

Yang Khas Pada Remaja Awal
Satu lagi yang harus kita ingat. Pada masa remaja awal, anak memiliki dorongan kuat dalam beberapa segi. Pertama, mereka mulai menyukai lawan jenis. Ada ketertarikan secara seksual yang sekaligus menandai peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa transisi ini mereka memerlukan orientasi seks yang baik, misal melalui pendidikan yang membangun wawasan keluarga sembari pada saat yang sama mereka belajar tentang etika dan aturan mengenai pergaulan dengan lawan jenis. Jika ini tidak kita perhatikan, mereka akan menyibukkan diri dengan hasrat mereka terhadap lawan jenis.

Kedua, mereka sedang ingin menunjukkan siapa dirinya. Mereka memerlukan kepercayaan untuk bertanggung-jawab sekaligus kesempatan untuk unjuk prestasi. Jika mereka tidak mampu secara akademik, mereka perlu prestasi yang membanggakan di bidang lain. Jika dua-duanya tidak mampu, sementara tidak ada figur yang mereka hormati, maka mereka akan mencari pengakuan melalui kegiatan-kegiatan negatif seperti tawuran.

Ketiga, mereka sedang mempertanyakan nilai-nilai dasar. Pada saat yang sama, mereka sedang berada pada situasi yang sangat bersemangat untuk menjadi manusia idealis. Inilah masa ketika mereka mulai berani menunjukkan pemberontakan. Dan ini merupakan potensi besar jika ada figur kuat yang berpengaruh pada diri mereka. Di sekolah, gurulah yang harus menjadi figur berpengaruh tersebut!

Nah, siapakah guru yang akan mempengaruhi anak Anda
Read more

0 Hari-hari Mendatang Anak Kita

Apakah tantangan yang kita hadapi berbeda dengan tantangan yang dihadapi orang-orang sebelum kita? Sekilas mungkin ya, tetapi jika kita mau mencermati lebih jauh, rasanya tak ada perubahan yang bersifat prinsip. Hari ini sebagian orangtua mungkin sedang resah oleh hiruk-pikuk pornografi yang beredar melalui perangkat elektronik di sekitar kita. Tetapi jika kita mau jujur, generasi sebelum kita juga menghadapi tantangan serupa dalam mendidik anak-anak mereka. Hanya saja bentuknya beda. Sekarang sebagian anak menyaksikan pornografi melalui HP, sedangkan dulu melihat di sungai-sungai atau pemandian umum.

Apakah situasi zaman kita benar-benar sangat berbeda dibanding zaman-zaman terdahulu? Jika benar zaman kita sangat berbeda, niscaya tak ada lagi gunanya kitab suci. Begitu pula berbagai pedoman pendidikan yang ditulis orang-orang terdahulu, tak ada satu pun yang dapat kita ambil sebagai petunjuk. Kita benar-benar menghadapi situasi yang tak dapat kita rumuskan dan karena itu tidak dapat kita duga apa yang akan terjadi. Kita harus memiliki acuan yang sama sekali baru. Tetapi apa yang menjadi dasar dari acuan yang sama sekali baru tersebut? Jika kita mendasarkan pada teori-teori yang telah ada, berarti kita meyakini bahwa ada prinsip-prinsip dasar yang berlaku untuk berbagai zaman yang berbeda.

Jadi, apakah zaman kita sekarang ini benar-benar berbeda? Jika kita meyakini agama ini berlaku hingga akhir zaman, maka kita harus menemukan bahwa sesungguhnya tak ada perubahan yang benar-benar berbeda. Prinsip-prinsip dasar tidak mengalami perubahan. Tetap. Bentuk-bentuk tantangannya saja yang berbeda. Prinsip-prinsip dasar inilah yang perlu kita ketahui, kita pegangi dengan sungguh-sungguh dan kita jadikan pedoman dalam menyiapkan bekal bagi masa depan anak.

Kita mencatat bahwa di setiap zaman, di satu tempat yang sama lahir orang-orang baik maupun orang-orang buruk. Ini berarti, betapa pun lingkungan sangat berpengaruh, tetapi yang paling berperan adalah bagaimana orangtua membekalkan nilai-nilai hidup kepada anak. Bukan lingkungan. Bukan zaman saat ia dibesarkan.
Masalahnya adalah, banyak orangtua yang hanya bersibuk membangun keterampilan dan kemampuan kognitif. Itu pun terkadang lebih dangkal lagi, yakni sekedar prestasi akademik yang kerapkali tidak menunjukkan kompetensi anak, melainkan sekedar kemampuan mengerjakan soal.

Jika anak-anak kita besarkan dengan keterampilan, kemampuan kognitif dan fasilitas semata, mereka akan kehilangan arah begitu menginjak usia remaja atau bahkan sebelum itu. Anak-anak itu tidak bisa mengarahkan dirinya sendiri karena tidak memiliki prinsip-prinsip hidup yang kuat, orientasi hidup yang baik dan nilai hidup yang benar-benar berpengaruh. Tentu saja bukan berarti kita mengabaikan kemampuan kognitif. Tetapi menyibukkan diri dengan aspek kognitif tanpa memperhatikan bagaimana menanamkan nilai-nilai kepada anak, akan membuat mereka kehilangan arah. Tak punya pegangan. Mereka akan menjadi orang yang sangat mudah dipengaruhi oleh trend. Apa yang sedang hangat diperbincangkan, itulah yang menyita perhatian.

Saya teringat dengan tulisan David Shenk dalam bukunya yang bertajuk Data Smog. Sebagaimana tergambar dalam judulnya, Shenk secara khusus membahas tentang apa yang terjadi jika pikiran kita banyak dijejali dengan data-data yang tidak kita perlukan. Semakin banyak kotoran data (data smog), semakin mudah kita kehilangan arah, semakin mudah pula kita bersikap reaktif terhadap apa-apa yang sedang terjadi. Pikiran kita dibentuk dan ditentukan oleh media. Sebegitu kuatnya media massa mempengaruhi sehingga seakan-akan telah menjadi tuhan, atau kita bahkan telah mempertuhankan media massa tanpa kita sadari. Lihat saja, apa yang terjadi ketika media massa menyerukan untuk bangun malam menyaksikan siaran langsung sepak bola.

Lalu apa yang bisa kita petik? Dalam situasi ketika banjir informasi sedang mengepung kita, justru orangtua perlu lebih serius membekali anak-anak dengan orientasi hidup yang jelas. Akar dari orientasi hidup itu adalah keimanan kepada Allah Ta’ala. Bukan sekedar pengetahuan tentang agama. Masalahnya adalah, anak-anak kita semakin kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan beragama. Yang disebut dengan PAI (pendidikan agama Islam) seringkali hanya berarti pengetahuan umum tentang agama atau bahkan pelajaran menghafal materi-materi agama. Lagi-lagi, kita lebih mengedepankan pendekatan kognitif. Padahal, penguasaan secara kognitif tidak banyak berpengaruh terhadap sikap dan perilaku.

Berakar pada keimanan, kita harus membangun keyakinan yang kuat dalam diri anak terhadap syari’at Allah. Tak ada keraguan sedikit pun. Kita belajar bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia dan penjelas dari petunjuk-petunjuk tersebut. Tetapi apakah setiap manusia dapat mengambil petunjuk darinya? Tidak. Yang dapat mengambil petunjuk hanyalah mereka yang yakin dan tidak ada keraguan dalam dirinya.

Sekali lagi, ini bukan soal kemampuan kognitif. Ini adalah soal keyakinan. Penjelasan panjang lebar tidak member manfaat apa-apa selain hanya menambah pengetahuan jika mereka tidak yakin. Tetapi jika kita memiliki keyakinan yang kuat, maka bertambahnya pengetahuan akan menambah kuatnya keyakinan.

Satu lagi yang harus kita bangun dalam diri anak: budaya belajar. Pilarnya adalah membaca, khususnya membaca yang bertujuan (purposive reading). Bukan menonton

(oleh M Fauzil Adhim)
Read more

0 Nyanyian Anak Kita?

Anak-anak yang keras itu, dengan apakah kita melembutkan hatinya?
Dulu saya percaya seni bisa melunakkannya. Tetapi tak ada satu pun jaminan ilmiah, tidak juga jaminan dari Allah Ta’ala bahwa seni akan melembutkan jiwa, menghaluskan budi, mengasah kepekaan anak-anak maupun orang dewasa untuk lebih hidup empatinya kepada sesama. Tak ada satu pun bukti ilmiah bahwa musik dengan sendirinya, secara pasti akan membuat anak-anak lebih cerdas, perkembangan emosinya lebih baik dan jiwanya lebih hidup. Sebagaimana bukan seni yang bisa membahagiakan manusia.

Musik memang bisa menghibur, tetapi bukan membahagiakan. Sejumlah riset memang menunjukkan bahwa rangsangan musik klasik merangsang kecerdasan anak, terutama yang masih bayi. Tetapi tidak dengan sendirinya setiap musik klasik mencerdaskan. Musik klasik yang variasi ritmenya dinamis memberi rangsang otak yang lebih kaya dibanding musik klasik yang tenang. Ini senada dengan riset Bradley & Caldwell bahwa ibu yang “ramai”, banyak mengajak bayinya bicara, akan mampu meningkatkan kecerdasan si bayi secara mengesankan. Paul Madaule, penulis buku Earobics, memperkuat hal ini. Ia menunjukkan bahwa suara ibu merupakan gizi terbaik untuk jiwa dan pikiran bayi.

Merujuk catatan Bradley & Caldwell, sering-seringlah mengajak bayi Anda ngobrol, dan berbicaralah kepadanya dengan “meriah” jika Anda ingin punya anak cerdas. Banyak-banyaklah menyempatkan waktu untuk berbincang-bincang, ceritakan kepadanya apa yang sedang Anda lakukan dan tunjukkanlah apa yang ada di sekelilingnya agar otaknya berkembang pesat. Sampaikan kepadanya pesan-pesan Anda karena masa komunikasi pra-simbolik (sebelum anak bisa berbicara) sangat mempengaruhi perkembangan pikiran dan emosi anak di waktu-waktu berikutnya.
Jika ini Anda lakukan, manfaatnya akan jauh lebih besar dibanding musik klasik yang Anda perdengarkan kepadanya. Apalagi yang sekedar senandung tanpa makna, meskipun itu lagu anak-anak. Sebab banyak lagu anak-anak yang tidak bergizi bagi jiwa anak.

Saya bukan mengatakan bahwa seni tidak bisa memberi manfaat. Tetapi harus kita perhatikan bahwa tidak dengan sendirinya setiap seni, setiap musik dan bahkan setiap lagu anak-anak bermanfaat untuk memberi rangsangan kecerdasan yang memadai serta sentuhan emosi yang positif. Sebagian lagu anak-anak justru merusak kemampuan berpikir logis matematis mereka. Lagu berikut ini contohnya:

“Anak monyet di atas pohon. Anak kelinci di bawah tanah.
Anak burung di dalam sangkar. Anak pintar di meja belajar.
Panjang leher namanya Zebra. Panjang hidung namanya gajah.
Panjang tangan itu pencuri. Panjang sabar, kekasih Ilahi.”

Ini berarti bahwa kita selaku orangtua maupun guru harus memperhatikan apa yang kita berikan pada anak-anak kita. Perlu ilmu untuk menjadi orangtua, sebagaimana untuk menjadi seorang guru kita juga harus memiliki ilmu yang memadai agar tidak cuma mengaminkan apa yang dikatakan orang tentang bagaimana harus mendidik anak. Atas pendapat yang tampaknya benar, kita perlu tahu dasar ilmunya agar tidak bertindak gegabah.

Hari ini saya merasakan hal itu!

Kita merasa “keliru” hanya karena tidak mengikuti apa yang “umum” dan yang “umumnya dianggap benar”. Padahal tak ada ilmu yang kita miliki. Salah satu contohnya ya tentang seni tadi. Banyak dari kita mengangguk-anggukkan kepala begitu saja, menganggap benar bahwa menyanyi dengan sendirinya akan melembutkan jiwa, menghaluskan perasaan dan membaguskan budi. Padahal sudah banyak pelajaran di sekeliling kita tentang bagaimana seorang penyanyi harus mengakhiri hidupnya karena tak kuat menahan beban mental. Stress.
Banyak pula yang terlalu menyederhanakan persoalan bahwa gejolak remaja akan terselesaikan apabila mereka menyalurkan energinya dengan olah raga. Padahal sebagian jenis olah raga justru memperkuat syahwat.

Tampaknya kita perlu lebih cerdas menjadi orangtua. Tentu saja bukan dengan menolak apa saja tanpa ilmu, sebab ini sama buruknya dengan menerima apa saja karena ikut-ikutan. Di antara bentuk kesenian, juga ada yang bermanfaat untuk melembutkan jiwa. Sebagaimana olahraga juga banyak manfaatnya. Bukankah Rasulullah saw. menganjurkan kita untuk mengajari anak-anak kita berenang, memanah dan berkuda?

Wallahu a'lam bishawab
M. Fauzil Adhim
Read more
 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More