• slide nav 1

    Salim Business Group

    Kehidupan terbaik yakni hidup sukses bahagia dan berkah ...
  • slide nav 2

    Ekselensia Training

    Membangun pelatihan yang terbaik dan terpercaya sebagai sarana percepatan dalam mencapai kehidupan terbaik...
  • slide nav 3

    Impian Hari Ini...

    Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok
  • slide nav 4

    Trainer

    Lima Level Trainer...
  • slide nav 5

    Alasan!

    Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan ...
  • slide nav 6

    Memulai Usaha

    Tiga Langkah Menuju Bisnis yang Sukses...

Selamat Datang di Website Salim Business Group

"Kita dibatasi bukan oleh kemampuan kita, tapi oleh visi kita.” Jonathan Swift (1667—1745), pengarang dan sastrawan Irlandia"

Delete this element to display blogger navbar

Tampilkan postingan dengan label Taujih Murabbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih Murabbi. Tampilkan semua postingan

0 Surat Di Akhir Tahun

Ujung penanggalan hijriyah telah kita lewati, berganti dengan tahun berikutnya. Hari-harinya telah kita masuki, tapi nyaris tak menyadari bahwa sudah semakin banyak jatah hidup yang kita ambil. Sebentar lagi, penanggalan masehi akan menuju titik pergantian tahun. Tak ada sesuatu yang benar-benar berarti untuk berubah, tetapi betapa banyak yang menghabiskan waktu dengan sia-sia sambil mentertawakan Yang Maha Kuasa. Mereka menyibukkan diri menunggu berubahnya waktu, padahal waktu akan berubah dengan sendirinya tanpa harus ditunggui. Mereka banyak menghabiskan uang, tenaga dan usia. Sementara terhadap tuhannya, hampir-hampir mereka lupa.

Alangkah zalim kita pada diri sendiri. Seakan kita mampu memperpanjang usia kita seukuran kehendak kita. Padahal Allah ‘Azza wa Jalla yang lebih berhak mengakhiri. Dialah Tuhan yang apabila menghendaki sesuatu, cukuplah berkata “Kun! Jadilah!”, maka jadilah apa yang dikehendaki tanpa ada yang bisa menghalangi.

Atas diri kita yang pongah dan menyombongkan kekayaan, Allah Maha Kuasa untuk mencabutnya setiap saat. Atau menghapuskan kenikmatan darinya, sehingga tak berguna lagi, meski ada dalam genggaman kita. Dan tidakkah engkau lihat kesudahan orang-orang sebelum kamu?

Sungguh telah berlalu umat-umat sebelum kita, sebagaimana berlalunya waktu. Telah berlalu kaum Tsamud yang Allah musnahkan mereka dengan air yang menenggelamkan. Telah berlalu pula kaum Aad. Mereka terkubur bersama seluruh kebesaran dan kekayaannya, dengan cara yang begitu cepat dan tak terduga.

Maka, apakah engkau akan mengundang kemurkaan-Nya malam ini dengan tiupan terompet yang memekakkan telinga? Padahal ada tangis-tangis bayi yang kelaparan, dan ada kesengsaraan saudara-saudaramu yang ditimpa bencana! Apakah engkau mengingini suatu masa ketika tiupan terompet berubah menjadi jeritan panjang yang tak terdengar, kecuali oleh ombak-ombak yang menjalankan perintah-Nya dengan penuh ketaatan.

Sungguh, Allah Maha Kuasa untuk membalikkan gunung menjadi serpihan batu-batu pijar yang panas, dan meluapkan air laut sehingga menenggelamkan apa saja yang harus ditenggelamkan.
Maka, apakah engkau masih akan menyelenggarakan pesta-pesta untuk bermaksiat kepada-Nya secara sengaja? Padahal setiap saat rasanya kita lebih banyak bermaksiat daripada berbuat taat, meski kita tidak mengingininya.

Dan apakah engkau masih akan meragukan kekuasaan-Nya, sehingga Allah ‘Azza wa Jalla tunjukkan kedahsyatan yang lebih mengerikan di hadapanmu? Ingatlah kepada seorang manusia yang atas kesanggupannya membuat kapal yang kokoh, lalu mengira ia dapat mengalahkan Tuhannya. Ia pongah terhadap kekuatannya yang tak seberapa, sehingga keluarlah dari mulutnya kata-kata, “Bahkan Tuhan pun tak akan sanggup menenggelamkannya.” Tetapi kita semua telah belajar dari sejarah bagaimana kapal yang disebut Titanic itu, terbelah menjadi dua oleh air tanpa bisa ditolong lagi.

Tak ada waktu bagi kita untuk berhura-hura malam ini, ketika kita tahu ada ribuan anak yang tiba-tiba menjadi yatim di seberang sana. Tak ada waktu bagi kita untuk menghabiskan umur dan kekayaan demi merayakan apa yang seharusnya kita renungi sambil menangis, sementara kita tahu ribuan jiwa membutuhkan uluran tangan dan ketulusan kasih-sayang.

Tak ada waktu bagi kita untuk meniupkan terompet kegembiraan, sementara kita tahu ribuan saudara kita sedang dicekam oleh kesedihan. Mereka tak memiliki harapan. Mereka tak memiliki masa depan. Mereka tak memiliki sanak-saudara. Maka sudah saatnya kita menyapa mereka, memeluk mereka dengan penuh ketulusan meski kita tak sanggup meraih tangannya, dan memberikan kedamaian dengan ikatan iman. Kalau kerabat yang mengikat mereka dengan hubungan darah sudah tiada, maka kitalah saudara mereka karena iman yang sama. Sebab, setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Lalu apakah yang sudah engkau lakukan untuk mereka?

Semoga ada yang dapat kita lakukan untuk mendatangkan ridha Allah Ta’ala. Bukan murka-Nya.

Semoga kita dapat merenungkan hal-hal yang demikian. Semoga pula Allah datangkan kebaikan bagi saudara-saudara kita di berbagai belahan negeri ini. Semoga kita tak semakin pongah sehingga Allah Ta’ala murka kepada kita. Semoga kita mampu menginsyafi kesalahan diri sendiri seraya memohon ampun kepada-Nya. Astaghfirullahal adziim.

Tak ada lagi tempat untuk jumawa. Maka, berhentilah menepuk dada.

(Mohammad Fauzil Adhim)
Read more

0 Wasiat Imam Ghazali

Imam Ghazali terbangun pada dini hari dan sebagaimana biasanya melakukan shalat dan kemudian beliau bertanya pada adiknya, “Hari apakah sekarang ini?” 

Adiknya pun menjawab, “Hari senin.”

Beliau kemudian memintanya untuk mengambilkan sajadah putihnya, lalu beliau menciumnya, Menggelarnya dan kemudian berbaring diatasnya s…ambil berkata lirih, “Ya Allah, hamba mematuhi perintahMu,”

… dan beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya.Di bawah bantalnya mereka menemukan bait-bait berikut, ditulis oleh Al-Ghazali ra., barangkali pada malam sebelumnya.

“Katakan pada para sahabatku, ketika mereka melihatku, mati Menangis untukku dan berduka bagiku

Janganlah mengira bahwa jasad yang kau lihat ini adalah aku

Dengan nama Allah, kukatakan padamu, ini bukanlah aku,

Aku adalah jiwa, sedangkan ini hanyalah seonggok daging

Ini hanyalah rumah dan pakaian ku sementara waktu.

Aku adalah harta karun, jimat yang tersembunyi,
Dibentuk oleh debu ,yang menjadi singgasanaku,

Aku adalah mutiara, yang telah meninggalkan rumahnya,

Aku adalah burung, dan badan ini hanyalah sangkar ku

Dan kini aku lanjut terbang dan badan ini kutinggal sbg kenangan

Puji Tuhan, yang telah membebaskan aku
Dan menyiapkan aku tempat di surga tertinggi,
Hingga hari ini , aku sebelumnya mati, meskipun hidup diantara mu.

Kini aku hidup dalam kebenaran, dan pakaian kubur ku telah ditanggalkan.

Kini aku berbicara dengan para malaikat diatas,
Tanpa hijab, aku bertemu muka dengan Tuhanku.

Aku melihat Lauh Mahfuz, dan didalamnya ku membaca

Apa yang telah, sedang dan akan terjadi.
Biarlah rumahku runtuh, baringkan sangkarku di tanah,

Buanglah sang jimat, itu hanyalah sebuah kenang2an, tidak lebih

Sampingkan jubahku, itu hanyalah baju luar ku,
Letakkan semua itu dalam kubur, biarkanlah terlupakan

Aku telah melanjutkan perjalananku dan kalian semua tertinggal.

Rumah kalian bukanlah tempat ku lagi.
Janganlah berpikir bahwa mati adalah kematian, tapi itu adalah kehidupan,

Kehidupan yang melampaui semua mimpi kita disini,
Di kehidupan ini, kita diberikan tidur,

Kematian adalah tidur, tidur yang diperpanjang
Janganlah takut ketika mati itu mendekat,

Itu hanyalah keberangkatan menuju rumah yang terberkati ini

Ingatlah akan ampunan dan cinta Tuhanmu,
Bersyukurlah pada KaruniaNya dan datanglah tanpa takut.

Aku yang sekarang ini, kau pun dapat menjadi
Karena aku tahu kau dan aku adalah sama
Jiwa-jiwa yang datang dari Tuhannya
Badan badan yang berasal sama
Baik atapun jahat, semua adalah milik kita
Aku sampaikan pada kalian sekarang pesan yang menggembirakan

Semoga kedamaian dan kegembiraan Allah menjadi milikmu selamanya.

Source http://www.ghazali.org/
Read more

0 Tidak Tuhan Kecuali Allah SWT

Seperti seruan adzan, awalnya mengagungkan Allah dan mengakui kebesarannya. Permulaannya kesaksian bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Sesudah itu seruan untuk menegakkan shalat dan merebut kemenangan. Sedangkan ujungnya adalah peneguhan bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah.

Seperti itu juga seharusnya hidup kita….

Awalnya kita bergerak untuk mengagungkan Allah. Setiap jengkal bumi ini, di setiap sudut kampung-kampung dan negeri, harus kita penuhi dengan takbir. Takbir dengan lisan kita dengan menyebut Allahu akbar. Hanya Allah Yang Maha Besar dan Maha Lebih Besar. Tak ada kebesaran yang melebihi kebesaran-Nya. Tak ada tempat bagi kita untuk menganggap kecil orang lain, karena kita melihat pada pencipta-Nya. Sebaliknya, tak ada yang layak kita besar-besarkan atas orang-orang yang membesarkan dirinya di hadapan manusia, karena sebesar apa pun mereka, sesungguhnya Allah Maha Besar.

Berangkat dari kesadaran bahwa hanya Allah Yang Maha Besar, kita menyatakan kesaksian (syahadat) dengan lisan dan hati kita. Kemudian kita mengarahkan diri kita, pikiran kita, hati kita dan tindakan kita agar apa pun yang kita lakukan adalah dalam rangka untuk menyembah Allah. Bukankah kita diciptakan untuk menyembah-Nya?

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzaariyaat, 51: 56-58).

Karenanya, kita perlu berupaya agar seluruh aktivitas dan hidup kita memmpunyai nilai ‘ibadah. Tidaklah kita shalat kecuali untuk Allah. Tidaklah kita mati kecuali untuk Allah. Dan kesadaran ini harus kita hidupkan dalam diri kita. Jika tidak, shalat yang kita lakukan pun bisa terlepas dari kebaikan. Betapa banyak orang yang tampaknya sedang mengagungkan Allah dan menyungkurkan keningnya ke tanah, tetapi sesungguhnya ia sedang menyibukkan diri dengan dunia. Ia basahi lisannya dengan takbir, tetapi ia penuhi hatinya dengan dunia.

Astaghfirullahal ‘azhiim. Atau jangan-jangan, kitalah yang lebih banyak lupa daripada ingat, yang lebih banyak menyibukkan diri dengan dunia daripada menyempatkan berpikir akhirat.

Ah, agaknya kita perlu mengingat kembali firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-An’aam ayat 162-163:

“Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".

Tentu saja ayat ini bukan untuk memalingkan kita dari dunia dan tidak memedulikannya. Tetapi agar seluruh yang kita lakukan, termasuk kerja keras kita dalam mencari nafkah, semata-semata untuk Allah. Kita menggenapi apa yang diperintahkan, menunaikan apa yang diserukan-Nya dan mempergunakan apa yang ada pada kita untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi.

Boleh jadi hari-hari kita penuh dengan kesibukan, sehingga seakan-akan seluruh hidup kita untuk dunia. Tetapi jika ia jadikan itu semua untuk memuji dan menyembah-Nya, mematuhi aturan-Nya dan tidak menentang perintah-Nya, maka ia terhitung sedang melakukan ketaatan. Tetapi sangat berbeda orang yang mengerjakan urusan dunia untuk akhiratnya dengan mereka yang berdalih akhirat agar tampak patut apa yang dikerjakannya terhadap dunia.

Saya teringat dengan sebuah hadis. Rasulullah saww. bersabda, “Allah kagum kepada seseorang yang menggembala kambingnya di atas gunung. Ia azan dan melaksanakan shalat. Allah berfirman, “Lihatlah oleh kalian (wahai para malaikat) hamba-Ku itu! Ia azan dan shalat. Ia takut kepada-Ku. Aku mengampuni dosanya dan aku akan memasukkannya ke dalam surga.”” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’ie & Ahmad).

Hari ini, ketika iman kita terasa amat lemah, semoga kita dapat menggerakkan diri kita untuk menuju ketaatan hanya kepada-Nya. Semoga ujung hidup kita adalah peneguhan bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah.

Ya, tidak ada tuhan kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.

oleh ; M. Fauzil adhim
Read more

0 Berkah Karena Syariah

Karena kita bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, maka konsekuensinya: kita tidak menyembah kecuali Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak berhukum kecuali dengan hukum Allah Ta’ala. Karena kita bersaksi bahwa Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya, nabi penutup seluruh nabi dan tidak ada lagi risalah sesudahnya, maka tidaklah kita mengambil panduan kecuali apa-apa yang diturunkan Allah Ta’ala kepadanya beserta seluruh titah maupun perbuatannya sebagai contoh kongkrit. Sebab, tidaklah Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bertindak kecuali dengan bimbingan dan pengawasan-Nya. Tidaklah nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bertutur dengan mengikuti hawa nafsu, bahkan untuk urusan pribadi. Maka, apa pun yang dikerjakan nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam adalah contoh. Kita bukan saja patut, lebih dari itu seyogyanya mencontoh apa yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, kecuali yang merupakan kekhususan bagi beliau.

Jadi, begitu kita bersyahadat, maka bersamaan dengan itu kita menyatakan kesediaan untuk menerima, menghormati, mengingini dan bersedia hidup sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan dalam syari’ah. Tanpa itu, kita belum berserah diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Padahal, tatkala kita menyatakan diri untuk berislam, salah satu hal penting yang harus ada pada diri kita adalah kesediaan untuk berserah diri, yakni berserah kepada apa yang telah Allah Ta’ala tuntunkan dan perintahkan.

Sebagian dari kita –dan bahkan sebagian besar kita—belum mampu hidup dengan benar-benar sesuai syari’at Islam. Tetapi sangat berbeda orang yang hidup tidak sesuai syari’at Islam karena ketidakmampuannya menjalankan secara penuh, atau karena tidak ada jalan untuk menerapkannya dengan baik, dengan mereka yang memang secara sengaja menolak. Mereka yang tidak mau menerima syari’at secara i’tiqadiyyah, maka rusak syahadatnya. Mungkin mereka sukses meraup dunia, tetapi tak ada barakah di dalamnya.

Apa pentingnya barakah? Apakah hidup yang barakah akan terbebas dari kesulitan? Tidak! Tetapi dalam kehidupan yang penuh barakah, selalu ada kebaikan yang mengalir di dalamnya. Jika kita menghadapi kesulitan, maka ia mengantarkan kita pada kebaikan dan kemuliaan yang lebih tinggi. Sesungguhnya bersama satu kesulitan, ada beberapa kemudahan (inna ma’a al-‘ushri yushran). Jadi kemudahan-kemudahan itu justru melekat pada kesulitan yang kita hadapi dengan sabar dan kita selesaikan dengan sungguh-sungguh, sehingga apa yang hari ini menjadi kesulitan, pada waktu-waktu berikutnya tidak lagi merupakan kesulitan.

Apakah barakah itu? Secara sederhana, barakah sering dimaknai sebagai kebaikan yang sangat banyak. Kerapkali kali juga diartikan sebagai kebaikan yang bertambah-tambah.
Jika sebuah pernikahan penuh barakah –sebagai contoh—maka kesulitan yang mereka jumpai akan menjadi sebab lahirnya kebaikan yang besar. Bersebab kesulitan itu mereka memperoleh jalan kemuliaan. Sebaliknya setiap kemudahan dan kegembiraan, mengantarkan kita kepada pintu-pintu kebaikan. Bukan melenakan.

Apakah pernikahan yang tidak barakah sulit meraih bahagia? Saya tidak menemukan dalil yang menunjukkan bahwa tidak mungkin ada kebahagiaan bagi pernikahan yang tidak barakah. Tetapi dalam barakah ada keselamatan. Selebihnya, kita bisa belajar dari sejarah betapa banyak orang yang tampaknya hidup penuh kebahagiaan meski nyata-nyata menolak syari’at. Tetapi tiba-tiba saja semuanya berubah karena sebab-sebab yang tak terduga sebelumnya.

Jadi, bukan sekedar apa yang kita lakukan. Lebih dari itu kita perlu memperhatikan apa yang menggerakkan kita untuk bertindak dan mengambil sebuah keputusan. Tatkala Anda mengambil keputusan untuk menikah dengan seorang perempuan yang baik akhlaknya dan tinggi ilmu diennya. Tetapi apakah yang menggerakkan Anda untuk memilihnya? Apakah karena pertimbangan keberagamaannya (dzat ad-dien) ataukah karena pertaruhan harga diri? Jika pilihan Anda karena keberagamaannya, kita bisa berharap barakah Allah Ta’ala akan turun berlimpah. Tetapi jika sebab yang menggerakkan terutama karena perkara dunia, maka apa yang tampaknya merupakan kebaikan boleh jadi menjadi pintu kekecewaan. Selebihnya, ada yang perlu diperhatikan dalam proses.

Bagaimana dengan rezeki? Tanpa memperhatikan halal haram, harta berlimpah bisa kita raih. Tetapi harta yang tidak barakah akan membawa kita pada jalan yang penuh dosa. Setidaknya, berat langkah kita membelanjakan harta itu pada jalan yang Allah Ta’ala sukai. Boleh jadi kita seakan-akan menginfakkan di jalan Allah, tetapi tidaklah kita melakukannya kecuali ada perkara yang tidak patut di dalamnya.

Sungguh, jika dunia yang menjadi tujuan, maka dien akan menjadi alat. Jika kaya yang menjadi impian, maka surga yang menjadi agunan. Jika menolong agama Allah yang menjadi kegelisahan dan tekad kuat kita, maka kita akan siap berletih-letih untuk berjuang, termasuk mengumpulkan harta yang banyak agar dapat mengongkosi perjuangan dakwah kita fiLlah, liLlah, ilaLlah.

Nah.

(M. Fauzil Adhim)
Read more

0 Kecil yang Menentukan

Kecil yang Menentukan

Ketika peristiwa hijrah terjadi, ada 120 orang yang berangkat. Mereka pergi dengan tekad yang kuat dan niat bersih. Inilah kekuatan lembut (soft power) yang sangat menentukan. Salah sedikit dalam niat, bisa salah besar dalam akibat meskipun bentuk tindakannya sama antara yang benar niatnya dengan yang keliru. Selain berdampak bagi yang bersangkutan, kesalahan niat besar sekali dampaknya dalam kekuatan jama’ah secara keseluruhan.

Sesungguhnya niat yang baik sudah merupakan kebaikan, meski niat itu tidak terlaksana. Sebaliknya, perbuatan baik tanpa berpijak pada niat yang baik akan sia-sia. Kosong dari pahala dan terlepas dari kebaikan. Sesungguhnya niat itu memengaruhi diri kita, dan apabila kita menyatakannya kepada orang lain, maka niat tersebut dapat menggugah manusia untuk berbuat baik.

Secara sederhana, niat adalah keinginan kuat yang diikuti perbuatan untuk mewujudkan apa yang menjadi niatnya. Di dalamnya mencakup tujuan (al-qashd) dan keinginan (al-‘azm). Jika dalam niat terdapat tujuan yang baik dan keinginan yang kuat, maka akan lahir kehendak (al-iradah). Di dalamnya ada harapan (al-masyi’ah) setiap kali berusaha mewujudkan niatnya.

Begitu besarnya pengaruh niat, sehingga nilainya bisa lebih utama daripada perbuatan.

Teringatlah saya dengan sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang yang memperoleh apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena dunia yang ia ingin mendapatkannya, atau karena wanita yang ia ingin menikahinya, maka hijrah itu sesuai yang dia inginkan.” (H.r. Bukhari dan Muslim)

Bersihnya niat, kuatnya tujuan, murninya aqidah merupakan kekuatan lembut (soft power) yang luar biasa besar. Ia memberi arah bagi manusia, menjaga dari kesia-siaan, dan menjauhkan dari kehampaan makna. Ia juga melahirkan keberanian yang akarnya keikhlasan dan buahnya perbuatan baik yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sedangkan rantingnya adalah percaya diri, semangat yang menyala-nyala, dorongan untuk terus belajar, kejujuran dalam kehidupan, ketulusan dalam melayani, kerendahhatian dalam beramal dan berbagai hal lainnya.

Kekuatan lembut inilah yang membuat 120 orang sahabat Nabi Saw memperoleh kepercayaan dan pengaruh di antara mayoritas penduduk Madinah yang ketika itu berjumlah enam ribu orang. Artinya, dua persen memimpin jumlah mayoritas dengan kekuatan lembut. Sama seperti masa keemasan tegaknya khilafah Islam. Jumlah kaum Muslimin saat itu hanya 8% dari keseluruhan jumlah penduduk dalam wilayah khilafah Islam. Tetapi yang 8% dipercaya dan memimpin mayoritas.

Hari ini, kita perlu berpikir kembali untuk merumuskan arah kaderisasi berbagai lembaga Islam. Apakah kita hanya sibuk memperbanyak anggota sehingga majelis-majelis kita dipenuhi tepuk tangan, ataukah kita mematangkan yang sedikit agar menjadi kokoh, mantap, matang dan memiliki kualifikasi terbaik sebagai pemimpin?

Pilihan pertama lebih cepat kelihatan hasilnya, tetapi mudah tercerabut akarnya. Sementara kita cenderung sibuk melayani apa yang menjadi keinginan, bukan menyadarkan apa yang sangat penting untuk mereka inginkan. Kita juga mudah tergelincir oleh tepuk tangan. Sedangkan integritas akan menjadi taruhan yang sangat mahal. Sebab, perlu usaha keras yang terus-menerus untuk membangun integritas. Perlu waktu panjang agar integritas benar-benar terasa kekuatannya. Tetapi, sebentar saja waktu yang diperlukan untuk menghancurkannya. Padahal, sekali hancur, sulit sekali kita membangun kembali integritas yang telah hilang. Atau boleh jadi integritas itu sudah pulih kembali, tetapi kredibilitas sudah tak ada lagi.

Na’udzubillahi min dzaalik.

Adapun pilihan kedua, yakni mematangkan yang sedikit agar memiliki kualifikasi terbaik sebagai pemimpin, lebih lambat prosesnya, sulit dilihat hasilnya dengan segera, dan memerlukan kesabaran yang lebih tinggi. Inilah yang kadang membuat kita enggan untuk istiqamah. Awalnya penjaga moral umat. Begitu memperoleh kepercayaan sedikit saja, sudah lain ceritanya.

Jika ini yang terjadi, kita akan terus-menerus menjadi mayoritas tak berdaya. Tanpa daya, tanpa wibawa.

Sumber : Pages M. Fauzil Adhim
Read more

0 Kukeluhkan Ini Pada-Mu

“Karena mereka memperdayaiku, maka kepada Engkau Wahai Yang Mahaperkasa, tolonglah aku. Karena mereka membodohiku, maka kepada Engkau Wahai Yang Mahabijaksana, bimbinglah aku. Karena mereka melemahkanku, maka kepada Engkau Wahai Yang Mahakuasa, kuatkanlah aku. Karena mereka menipuku, maka kepada Engkau Wahai Yang Maha Pemberi Petunjuk, terangilah hatiku. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik penolong. Sesungguhnya Engkau adalah kawan yang dekat.”

Aku keluhkan ini kepada-Mu, ya Allah. Aku keluhkan kebodohan-kebodohanku sendiri. Engkau telah berjanji dengan janji-janji yang pasti, tetapi aku justru lebih sering memercayai janji-janji manusia yang mereka sendiri tak percaya dengan janjinya. Bahkan mereka tak percaya pernah mengucapkannya karena janji itu memang keluar begitu saja. Tanpa dipikir, tanpa dihayati, tanpa disadari tanggung-jawabnya kepada-Mu. Tetapi ya Allah, alangkah sering lupa hati ini.

Ya Allah, ada gelombang manusia yang datang berbondong-bondong. Di tangan mereka ada impian-impian yang dijejalkan. Mereka pergunakan nama-Mu, ya Allah, tetapi tanpa mengingat-Mu. Mereka berbicara kepada kami seolah-olah berkuasa menentukan hidup dan zaman ini, dapat membalik keadaan dalam sekejap dan mampu membuat setiap manusia meraih surganya di dunia. Mereka bahkan “melebihi-Mu”, ya Allah. Engkau ajarkan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa-apa yang ada pada suatu kaum sehingga (mereka) mengubah apa-apa yang ada pada jiwa mereka”, sementara orang-orang itu mengajarkan kepada kami bahwa hidup akan dengan sendirinya berubah apabila mereka berkuasa. Padahal, mereka sendiri tak kuasa mengubah dirinya. 

Akan tetapi, alangkah sering hati ini lupa, ya Allah. Hati ini mudah goyah oleh janji-janji yang diucapkan tanpa mengingat tanggung-jawabnya kepada-Mu. Hati ini sering lupa bahwa hidup ini harus diperjuangkan, hanya karena mabuk oleh impian tentang hidup yang berubah tanpa usaha. Astaghfirullahal ‘adzim…. Alangkah tamak hati ini. Dan alangkah heran jiwa ini kepada mereka-mereka yang mempergunakan nama-Mu untuk merebut amanah demi dunia yang sesaat.

Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menzalimi diri sendiri. Kukeluhkan kepada-Mu, ya Allah, jiwaku yang mudah tergesa-gesa oleh gemerlapnya dunia. Kukeluhkan kepada-Mu, ya Allah, hatiku yang mudah terpedaya oleh apa-apa yang tampaknya menjadi kekuatan yang nyata. Kami ajak manusia kepada-Mu, tetapi pada saat yang sama kami sering lupa bahwa Engkau yang memberi kekuatan. 

Jiwa-jiwa kami ini, ya Allah, alangkah sering lalai bahwa Engkau telah kuatkan kami di saat jumlah kami masih sedikit. Tetapi begitu jumlah kami bertambah, kami lupa pada jiwa. Kami lupa pada kuasa-Mu. Seakan-akan tak pernah ada ayat yang turun:

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai” (Q.s. at-Taubah [9]: 25).

Seolah-olah, tak pernah kudengar juga sabda nabi-Mu, “Laa haula wa laa quwwata illa billah. Tidak ada ada dan upaya kecuali dari Allah” (H.r. Bukhari dan Muslim, dari Abu Asyari).

Ya Allah…, ampunilah kami. Di saat kami masih sedikit dan tak punya apa-apa, dekat sekali jiwa kami dengan-Mu. Di saat kami tak mempunyai siapa-siapa untuk berbincang dan mengadu, Engkau saja tempat kami memohon pertolongan. Engkau pula yang menjadi sahabat untuk berkeluh-kesah. Dalam kesendirian, Engkau yang menjadi teman. Dalam ketakberdayaan, Engkau yang menjadi tumpuan kekuatan. Tetapi, begitu segalanya kami miliki atas pertolongan-Mu, langkah kami justru goyah. Kami takut kepada benda. Kami sibuk dengan jumlah. Seakan-akan Engkau sudah tak ada lagi.

Ya Allah, sungguh kami termasuk orang-orang yang zalim dan teperdaya oleh orang-orang yang zalim. Sungguh kami termasuk orang-orang yang bodoh dan terperangkap oleh ucapan orang-orang yang membodohi. Maka kepada-Mu, ya Allah, kami memohon kekuatan, kesadaran dan kebangkitan. Kepada-Mu ya Allah, kami memohon ampunan dan kejayaan hidup di dunia hingga akhirat kelak.

***Catatan sederhana tatkala melihat spanduk, baliho dan pamflet yang bertebaran dari para calon di Pilkada. Juga tatkala melihat tawaran untuk kaya mendadak dengan cara yang Islami. Semoga menjadi pengingat untuk diri sendiri dan yang berkenan.

Oleh : M. Fauzil Adhim
Read more

0 Mendahulukan Surga

Mendahulukan Surga

Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Begitu Allah berpesan dalam Al-Qur`an. Quu anfusakum wa ahlikum naara. Jagalah, agar tak ada dari anggota keluarga yang tersentuh api neraka, meski hanya ujungnya. Raihlah tangannya, meski dengan paksa, dan ajaklah mereka memasuki surga-Nya yang lebih luas dibanding hamparan tujuh langit dan tujuh Bumi.

Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka!

Rawatlah mereka agar tidak tersentuh oleh perkara-perkara yang merusakkan aqidah mereka. Dari hal-hal yang membuat mereka lebih percaya pada kekuatan benda-benda daripada memercayai penciptanya, sementara benda-benda itu tak memiliki kesanggupan sedikit pun untuk mengubah dirinya sendiri. Dan betapa banyak di sekeliling kita peluang-peluang yang dapat membawa kita lebih takut kepada cincin yang kita kenakan, sehingga berhati-hati dalam memakainya dan meletakkan penghormatan yang tinggi kepadanya. Sementara kepada yang menciptakan jari-jemari kita, yang dengan itu cincin indah bisa menghiasi, kita melupakannya.

Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka!

Jagalah mereka mereka dari ucapan-ucapan yang membuat mereka lebih percaya pada diri sendiri daripada kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang yang kuat imannya tidak mudah putus asa dan senantiasa berani menghadapi tantangan, bukan karena percaya diri yang tinggi, tetapi justru karena keyakinannya yang sangat kuat bahwa tiada daya dan upaya selain semata karena Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka yakin bahwa Allah Ta’ala amat dekat dan senantiasa memberi pertolongan, sehingga mereka tak gentar menghadapi kesulitan.

Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka!

Kadang orangtua merasa lemah terhadap apa yang membuatnya merasa kasihan, padahal itu akan menjerumuskan anaknya kepada neraka yang paling dalam. Mereka merasa sayang kepada anaknya; sayang sesayang-sayangnya. Padahal, orangtua semacam inilah yang sangat kejam. Mereka tampak mencintai anaknya. Padahal, sesungguhnya sangat tega terhadap penderitaan tanpa akhir tanpa ujung ketika neraka membakar; yang nyalanya sampai ke ubun-ubun dan bahan bakarnya dari batu dan manusia.

Sebagian orangtua membiarkan anaknya mendekati kekafiran dikarenakan ingin mencari ridha manusia. Mereka lupa bahwa wajah-wajah manusia yang mereka takuti dapat binasa kapan saja, jika Allah menghendaki. Mereka lupa bahwa wajah-wajah yang mereka harapkan ridhanya itu tidak dapat menolong diri mereka sendiri ketika badan sudah rapuh, tubuh telah rentah dan pikiran sudah dimakan usia. Mereka khawatir terhadap rezeki yang terputus, sementara kepada Yang Menciptakan Langit dan Bumi ini mereka tidak mengingatnya. Atau bahkan mungkin mereka tidak mengenalnya, hingga kelak mereka terperangah ketika Bumi dilipat dan langit digulung. Ketika itu semua terjadi, manusia berlari mencari perlindungan. Tetapi, perlindungan siapakah yang lebih baik daripada perlindungan Allah?

Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.

Jagalah! Kecuali jika engkau telah meletakkan dirimu sebagai musuh yang nyata bagi anakmu! Sebagian orang merasa ringan dengan keimanan yang mereka miliki, sementara keluarganya dibiarkan tersesat dalam kekafiran. Atas nama nurani dan hidayah, mereka meridhai keburukan yang nyata. Mereka merasa aman dengan dirinya karena menganggap ibadah mereka akan dapat membawa ke surga! Padahal, tidaklah kaki bergeser dari mahkamah Allah, kecuali setelah kita mempertanggungjawabkan hidup kita, diri kita dan keluarga kita kepada Yang Memberikan Amanah, yakni Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka, apakah yang masih dapat engkau pergunakan sebagai alasan untuk menuduh Tuhanmu? Engkau berdiri seakan menghormatinya. Tetapi ketika kekafiran engkau biarkan tanpa upaya untuk mematuhi apa yang diperintahkan-Nya, maka sejak kapankah engkau berhak mengatakannya sebagai takdir?

Sungguh, berhati-hatilah dalam menisbahkan kata, perbuatan dan sifat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Boleh jadi ada perkataan yang tampak bagus, tetapi di dalamnya terdapat perkara-perkara yang merusak iman.

Wallahu a’lam bishawab.

M.Fauzil Adhim
Read more

0 Mayoritas yang Tak Berdaya

Mayoritas yang Tak Berdaya

Inilah cerita Abdullah bin Suwaid al-Manqary tentang Qais bin Ashim. Ia menuturkan peristiwa yang terjadi pada detik-detik terakhir kehidupan Qais bin Ashim. Qais memanggil anak-anaknya yang berjumlah tiga puluh orang dan semuanya laki-laki, lalu berwasiat kepada mereka

“Wahai anak-anakku,” kata Qais bin Ashim, “jika aku sudah meninggal, angkatlah orang yang paling tua di antara kalian sebagai pemimpin menggantikan ayah kalian dan janganlah mengangkat orang yang paling muda di antara kalian, sehingga hal itu menyinggung orang yang lebih layak untuk itu di antara kalian.”

Qais bin Ashim melanjutkan wasiatnya, “Janganlah kalian menoleransi wanita yang meratap tangis, karena aku pernah mendengar Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam melarang ratap tangis (karena kematian seseorang). Hendaklah kalian mencari harta karena ia merupakan peringatan bagi yang mulia dan dibutuhkan orang yang hina.”

“Janganlah kalian memberikan kepada leher unta kecuali menurut haknya dan janganlah kalian menghalangi haknya. Waspadailah orang yang asal-usul keturunannya buruk, karena meskipun suatu hari ia membuatmu senang, maka dia akan lebih banyak menyakitimu. Waspailah anak-anak musuh kalian, karena mereka pun merupakan musuh kalian yang mengikuti jalan ayah mereka. Jika aku sudah meninggal, kuburlah aku di suatu tempat yang tidak diketahui orang-orang dari Bani Bakar bin Wa’il, karena antara diriku dan mereka ada permusuhan dan perselisihan pada masa Jahiliyah. Aku khawatir mereka menggali kuburku, sehingga merusak dunia dan akhirat mereka,” kata Qais bin Ashim meneruskan.
Kemudian Qais bin Qashim meminta tabung penyimpan anak panah dan memanggil anaknya yang paling besar bernama Ali, lalu ia berkata, “Keluarkanlah satu anak panah dari tabung ini.”

Maka anaknya mengeluarkan satu batang anak panah. Kemudian Qais berkata, “Patahkan!”

Anaknya pun mematahkan anak panah itu. Lalu Qais berkata, “Keluarkan dua batang anak panah!”

Anaknya mengeluarkan dua batang anak panah. Qais berkata, “Patahkan keduanya!”

Anaknya mematahkannya. Kemudian Qais berkata, “Keluarkanlah tiga batang anak panah.”

Anaknya mengeluarkan tiga batang anak panah. Qais berkata, “Ikatlah tiga batang anak panah ini dengan tali!”

Maka anaknya mengingat anak panah tersebut. Lalu Qais berkata, “Patahkan!” 

Tetapi anaknya tidak mampu mematahkan. Maka Qais pun berkata, “Wahai anakku, beginilah kalian apabila bersatu-padu. Begitu pula perumpamaan kalian jika bercerai-berai.”

Kisah menjelang kematian Qais bin Ashim kita hentikan sampai di sini. Ada yang perlu kita ambil dari pesan Qais kepada anak-anaknya tentang mahalnya kesatuan langkah dan kesatuan hati kita sebagai anak panah agama dengan saudara-saudara kita lainnya. Seperti anak panah itu, kalau kita satu ayunan langkah dengan saudara kita yang lain dalam satu bendera kepemimpinan, maka insya-Allah kedudukan kita akan kokoh di hadapan umat manusia. Kita memiliki kehormatan (‘izzah) sebagai umat, sehingga meskipun tak ada yang kita miliki, tetapi kita tetap dapat menegakkan kepala dengan berwibawa.

Sebaliknya, andaikata seluruh kekuatan dan kelebihan diberikan kepada kita, tetapi apabila hati kita saling berselisih, antar kita saling berebut memimpin dan saling menolak untuk dipimpin, maka seluruh kekuatan itu tidak ada artinya apa-apa. Kekuatan yang sangat besar itu bisa tenggelam begitu saja dihadapnya sebuah kekuatan kecil yang bersatu.

Hari ini, kondisi kita rasanya seperti itu. Kita tidak satu langkah dalam berbuat dan satu hati dalam bersikap, sehingga keadaan kita begitu mengenaskan. Sebagai mayoritas, kita justru tak berdaya karena banyak di antara kita yang berebut saling membusungkan dada. Terpecah menjadi dua saja sudah terlalu banyak. Apalagi lebih dari itu!

Semoga kita bisa belajar dari kebodohan kita sendiri.

M. Fauzil Adhim
Read more

0 Agama untuk Semua

Agama untuk Semua

Ikrar kita untuk memeluk agama ini, membawa pada keharusan untuk menebar rahmat ke seluruh alam. Sesungguhnya Islam diturunkan untuk seluruh ummat manusia (kaffatan linnas). Karena agama ini untuk seluruh manusia, maka kita bertanggung-jawab untuk menjadikan semua manusia merasakan manfaat hadirnya Islam di antara mereka. 

Sudah saatnya kita mulai berpikir untuk menghadirkan agama ini bagi semua. Kegersangan jiwa yang merebak di mana-mana, kelaparan ruhani yang menerpa manusia, merupakan isyarat-isyarat yang memanggil kita untuk menebarkan kesejukan dan keindahan agama ini. Sesungguhnya kegersangan jiwa yang rasanya kian merata adalah karena jauhnya kita, umat manusia, dari terpenuhinya kerinduan ruhani kita untuk menemukan “sesuatu” yang sesuai dengan fitrahnya.

Hari-hari ini, kita mendapati diri kita amat jauh dari agama kita sendiri, tidak terkecuali yang menulis renungan ini. Islam menunjukkan kepada kita bahwa agama ini merupakan kebutuhan bagi segenap dan seluruh umat manusia. Tetapi, alangkah sering dakwah kita justru semakin menyempit. Kita tidak lagi memandang setiap manusia sebagai jiwa-jiwa yang layak disantuni agar mendapatkan kesejukan ruhani dan merasakan indahnya ajaran agama ini. 

Sebaliknya, astaghfirullahal ‘adzim, hari-hari ini alangkah banyak di antara kita yang berdakwah hanya untuk kelompoknya sendiri. Majelis-majelis ilmu diselenggarakan hanya untuk golongannya sendiri, kaumnya sendiri, harakahnya sendiri. Bukan untuk segenap dan seluruh umat manusia.
Kita bisa tersenyum kepada orang lain hanya apabila orang tersesebut masuk dalam kelompok kita. Tetapi kita mudah curiga, pendapat dia ditentang begitu saja tanpa memerhatikan dasar-dasarnya, hanya karena mereka datang dari kelompok yang berbeda. Padahal, sama-sama mengakui tiada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Di saat yang sama, ada sebagian saudara kita yang atas nama rahmatan lil ‘alamin justru meniadakan kesucian, keagungan dan keteraturan agama ini demi mendapatkan ridha manusia. Mereka minder dengan agamanya, memandang Islam sebagai penyebab kekerasan hanya karena ada yang menuding agama ini sebagai penyulut kekerasan, demi menutupi kejahatan mereka yang telah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Kita menganggap agama ini harus diluruskan hanya karena ingin mendapatkan pujian dari orang yang sesungguhnya telah menginjak-injak agama ini atas nama perdamaian.

Ini berarti, bagaimana kita menebar kebaikan, keutamaan, kemuliaan dan kesucian kepada segenap umat manusia haruslah dengan berpijak pada bagaimana Allah dan Rasul-Nya membimbing kita. Kita berdiri menghormati iringan jenazah orang kafir yang diantar ke pemakaman misalnya, karena inilah yang dicontohkan oleh Nabi Saw. Kita menjaga hubungan baik dengan tetangga non-Muslim karena menghormati hak-hak mereka sebagai tetangga sebagaimana Islam memerintahkannya kepada kita. Penghormatan itu kita lakukan dengan ‘izzah (harga diri) yang mantap dan kokoh, sehingga manusia merasakan keindahan ajaran ini. Bukan sebaliknya, kita menghormati karena malu apabila dianggap tidak toleran. Yang demikian ini justru menjadikan manusia tidak bisa merasakan kemuliaan dan keindahan Islam. Tidak terkecuali diri kita sendiri sebagai pemeluknya.

Agar mampu bertindak dengan benar dan tepat, ada yang harus kita persiapkan. Sekurang-kurangnya ada dua hal yang perlu kita miliki, yakni persiapan ilmu yang bersifat terus-menerus dan persiapan ruhiyah atau persiapan hati yang juga terus-menerus kita lakukan. Persiapan ilmu kita lakukan agar kita tidak salah dalam menilai serta tidak keliru dalam melangkah. 

Agama ini melingkupi aspek kehidupan yang sangat luas. Tidak hanya mengurusi tata cara berwudhu dan mengurusi jenazah. Kalau kita tidak membuka diri untuk belajar, boleh jadi kita menyesalkan kenapa dalam satu perkara agama tidak mengaturnya, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah masyarakat Muslim yang belum tersentuh oleh ajaran agamanya sendiri.

Adapun persiapan hati yang bersifat terus-menerus, antara lain agar kesucian niat kita terjaga, kekotoran yang ada di dalamnya dapat terhapuskan dan hati kita senantiasa dapat meraih kelembutan. Kita ingatkan saudara kita bukan karena kita membencinya. Tetapi, karena kita sangat menginginkan ia berada dalam kebaikan dan kasih-sayang Allah.

Wallahu a’lam bishawab.

Maka, tatkala saya bertanya tentang zakat profesi, sungguh ada kebutuhan bagi diri saya untuk mengerti agar tidak menjalani agama ini tanpa ilmu. Pada saat yang sama ia merupakan ajakan kepada setiap muslimin untuk turut melakukan amal shalih dengan membagi ilmu yang dipahaminya, sehingga kalau setuju bukan karena membela, kalau menolak bukan karena benci. Setuju dan tidak adalah soal bagaimana mengimani agama ini dengan ilmu dan menegakkan kasih-sayang sesama kita, juga dengan iman dan ilmu.

Semoga Allah menolong kita dan memperbaiki diri kita seluruhnya.

Oleh : Muhammad Fauzil Adhim
Read more

0 Mengutamakan Ibu Kita

Mengutamakan Ibu Kita

Inilah penuturan Abu Hurairah r.a. Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasul Allah, siapakah yang lebih berhak aku berbakti kepadanya dengan baik?”

Rasulullah berkata, “Ibumu.”

Dia berkata, “Lalu siapa lagi?”

“Ibumu,” kata Rasulullah.

Dia berkata, “Kemudian siapa?”

Rasulullah menjawab, “Ibumu.”

Dia berkata, “Lantas siapa lagi?”

Rasulullah Saw menjawab, “Ayahmu” (H.r. Bukhari dan Muslim).

Ada pelajaran dari hadis ini. Seorang ibu memiliki keutamaan untuk kita taati dan kita limpahi kebajikan, tiga kali lebih besar daripada seorang bapak. Tidak ada yang lebih utama untuk kita penuhi panggilannya, kita dengar nasihatnya dan kita limpahi perbuatan baik di dunia ini kecuali ibu. Bahkan andaikata ibu yang melahirkan kita belum beriman kepada Allah, maka kita tetap harus berbuat kepadanya. 

Keharusan untuk berbuat baik kepada ibu yang melahirkan kita, betapapun ia belum beriman kepada Allah misalnya, bukan karena mengikuti nilai kepatutan yang ada di masyarakat. Bukan. Tetapi sebagai wujud ketaatan kita kepada Allah ‘Ázza wa Jalla, karena tidaklah kewajiban berbuat baik itu datang melainkan dari Allah Yang Maha Menciptakan. Ini bukan berarti mengharuskan kita taat kepada apa pun yang diperintahkan oleh orangtua kita, dalam hal ini ibu, melainkan berbuat baik dan menjaga diri dari perkataan yang menyakitkan hati. Apalagi jika lebih dari itu.

Sesungguhnya ketaatan kepada manusia itu hanyalah dalam perkara-perkara yang membawa ketaatan kepada Allah, atau dalam perkara yang tidak menyalahi perintah dan larangan-Nya. Begitu seorang ibu menyuruh kita berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka kita tidak boleh menaati perintahnya dalam perkara tersebut. Itu pun tetap harus dengan cara yang baik. Larangan untuk mentaati perintah yang melanggar aturan Allah tetap harus berjalan seiring dengan kewajiban berbuat baik kepada orangtua, khususnya ibu. Artinya, kita tidak berkata kasar, tidak membentak, tidak berbuat yang menyakitkan hati dan kalau sekiranya perlu menyampaikan penolakan, haruslah dengan perkataan yang mulia.

Seberapa jauh kita harus berbuat baik kepadanya? Sejauh yang kita sanggup. Sesungguhnya, betapa pun kita telah berusaha untuk membalas sedikit saja dari kebaikan ibu yang membesarkan kita tanpa meminta balasan, tak akan dapat menebus kemuliaannya sedikit pun. Setiap kali kita bernafas, maka dalam setiap hembusan nafas itu ada kasih-sayang, kemuliaan dan keutamaan ibu yang mengaliri darah dan hidup kita. Tidaklah kita bisa berdiri dengan tegak, bernafas dengan baik dan memiliki jiwa yang kokoh, kecuali karena tulusnya cinta ibu kita. Kalaupun terkadang harus ada airmata yang jatuh saat mengasuh kita di waktu kecil, itu bukan karena ia tidak ikhlas mengasuh. Tidak. Tetapi airmata itu kadang jatuh justru untuk mempertahankan keikhlasan, agar penatnya berjaga di waktu malam tidak membuatnya merutuki kita dengan keluh kesah panjang.

Sesungguhnya, satu malam kasih-sayang seorang ibu kepada kita, tak akan pernah sanggup kita tebus dengan hadiah yang paling indah. Sebab, tidaklah mereka berjaga, kecuali dengan murninya kasih sayang, tulusnya cinta dan pada saat yang sama sentuhan jiwa untuk membangkitkan jiwa kita. Andaikata seorang bapak menyayangi anaknya dengan turut berjaga semalaman atau bahkan lebih dari itu, niscaya tak akan sanggup menyamai satu malam saja kasih-sayang seorang ibu yang dengan tulus mendidik kita.

Saat-saat kecil, khususnya ketika bayi inilah yang membutuhkan cinta tanpa syarat. Karenanya, nilai doa kita untuk mereka terutama terkait dengan derajat kasih sayang dan pengasuhan mereka di waktu kecil. 

“Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan limpahilah mereka kasih sayang sebagaimana mereka dulu mentarbiyahku di waktu kecil.”

Oleh : Muhammad fauzil Adhim
Read more

0 Kebesaran tanpa Kemegahan

Kebesaran tanpa Kemegahan

Inilah kesaksian Umar bin Khaththab tentang kekasihnya, Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ia memasuki Rasulullah saw., ia dapati Nabi saw. sedang berada di tempat minumnya. Tampaklah guratan-guratan tikar membekas di punggung Rasulullah saw. dan hanya gantangan gandum yang tergantung di rumahnya. Tak terasa, airmata menetes di pelupuk mata Umar bin Khaththab. Ia tak kuat menahan haru. Di hadapannya seorang manusia besar yang amat berpengaruh, tetapi tak ada yang ia miliki di rumah.

Umar bin Khaththab kemudian berkata, “Wahai Rasul Allah, engkau telah mengetahui gaya hidup Kisra dan Kaisar.”

Rasulullah saw. menjawab, “Wahai putra al-Khaththab, relakah engkau jika akhirat menjadi milik kita dan dunia menjadi milik mereka?”

Inilah jawaban Rasulullah saw., memimpin yang sering menghabiskan waktunya untuk menahan lapar dan menangisi ummatnya. Ia sangat murah hati kepada setiap yang membutuhkan. Kedermawanannya telah menghapus airmata orang-orang papa dan menumbuhkan kebahagiaan orang-orang yang tak berpunya. Tetapi terhadap dirinya sendiri, ia kadang bahkan harus menyelipkan beberapa buah batu agar lapar yang melilit itu tak terlalu terasa.

Inilah Nabi saw., pemimpin yang kasih-sayangnya mendahului kemarahannya. Ia lebih mudah luluh, hatinya mudah tersentuh, bahkan terhadap mereka yang tidak mau beriman Allah dan rasul-Nya. Amat pedih dirasakan olehnya penderitaan ummat manusia, dan amat besar keinginannya untuk membawa manusia pada keselamatan. Begitu besarnya keinginan untuk mengantarkan hidayah, sampai-sampai tak dirasakan olehnya hidup yang berat bagi dirinya. Tetapi kalau ia menyaksikan orang lain sedang ditimpa kesusahan, ia lebih dulu mengulurkan bantuannya daripada orang lain.

Inilah Nabi Saw, pemimpin sejati yang selalu memikirkan umat bahkan hingga detik-detik ketika malaikat maut menjemput untuk mencabut ruhnya yang suci. Kepada kita, Nabi Saw mengajarkan tentang betapa kecil dunia dibandingkan kebahagiaan akhirat. Nikmat yang kita rasakan hari ini, tak sebanding bahkan dibanding satu tarikan nafas karunia Allah ’Azza wa Jalla di surga. 

Ini bukan berarti perintah agar kita meninggalkan kehidupan dunia, tetapi agar kita menggunakan dunia sebagai kendaraan untuk menuju kerajaan Allah Yang Tertinggi, yakni surga-Nya yang disediakan untuk para nabi, syuhada, mukhlishin dan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya.

Hari ini, ketika beribu-ribu saudara kita ditimpa kesusahan karena kebutuhan hidup yang semakin tak teraih, rasanya amat besar kerinduan kita terhadap pemimpin-pemimpin sejati seperti Rasulullah Saw. dan para shahabat yang mulia. Kita menanti, kapankah datangnya seorang pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz; seorang khalifah yang sering tidak mendapati makanan yang layak. Padahal, ia telah mengantarkan rakyatnya pada kemakmuran yang luar biasa. Ia menahan diri dari yang halal, kecuali sangat sedikit, hanya karena takut terjatuh pada perbuatan zalim. 

Ia membangun kebesaran tanpa kemegahan dengan kekuatan jiwa dan ruhiyahnya. Sementara di negeri ini, kita mendapati kemegahan tanpa kebesaran. Kita memiliki gedung-gedung megah, tetapi harga diri sudah tak ada lagi. Bahkan, mereka yang disebut ustadz pun tak sedikit yang minder jika tidak kekayaan bertumpuk. Mereka lebih memuliakan orang kaya daripada pejuang yang bertakwa. Akibatnya, dakwah mereka kering dan wibawa mereka nyaris tak ada. Inginnya menjaga muru'ah, tapi justru kehilangan 'izzah dakwah.

Semoga Allah menolong kita.

(Sumber Pages : Muhammad fauzil Adhim )
Read more
 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More