• slide nav 1

    Salim Business Group

    Kehidupan terbaik yakni hidup sukses bahagia dan berkah ...
  • slide nav 2

    Ekselensia Training

    Membangun pelatihan yang terbaik dan terpercaya sebagai sarana percepatan dalam mencapai kehidupan terbaik...
  • slide nav 3

    Impian Hari Ini...

    Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok
  • slide nav 4

    Trainer

    Lima Level Trainer...
  • slide nav 5

    Alasan!

    Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan ...
  • slide nav 6

    Memulai Usaha

    Tiga Langkah Menuju Bisnis yang Sukses...

Selamat Datang di Website Salim Business Group

"Kita dibatasi bukan oleh kemampuan kita, tapi oleh visi kita.” Jonathan Swift (1667—1745), pengarang dan sastrawan Irlandia"

Delete this element to display blogger navbar

Tampilkan postingan dengan label Kolom Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Pendidikan. Tampilkan semua postingan

0 Menjadi Sekolah Ideologis yang Laris

Menjadi Sekolah Ideologis yang Laris

Selain mutu akademik, keberhasilan pendidikan di sekolah juga sangat dipengaruhi oleh seberapa besar tingkat kebanggaan para guru dan murid menjadi keluarga besar sekolah tersebut. Rasa bangga menjadi murid di sebuah sekolah, mempengaruhi bagaimana seorang anak menerima, menghayati dan menjalani nilai-nilai, budaya sekolah dan impian besar lembaga yang mendidiknya. Ini sangat penting untuk membangun karakter dan membentuk budaya belajar yang kuat.

Ukuran paling sederhana seberapa besar tingkat kebanggaan terhadap sebuah sekolah dapat dilihat dari seberapa besar minat masyarakat mendaftar ke sekolah tersebut. Semakin besar jumlah peminat yang ingin bersekolah, menunjukkan persepsi masyarakat yang semakin positif terhadap lembaga tersebut. Perasaan yang mendahului ini –initial credibility—menyebabkan sekolah memiliki kredibilitas dan kekuatan dalam membentuk sikap, cara berpikir dan karakter yang kuat, termasuk budaya belajar. Besarnya tingkat kepercayaan murid beserta orangtuanya terhadap sekolah memudahkan proses pembentukan kode perilaku (behavior code) utama. Kode perilaku ini sangat penting bagi tumbuhnya budaya unggul. Kode perilaku juga bermanfaat sekali untuk menciptakan identitas budaya sekolah. Apa artinya? Keunggulan mutu akademik memang tidak bisa ditawar-tawar. Sekolah harus mengembangkan tradisi pembelajaran yang menjamin tercapainya standar mutu akademik yang tinggi. Tetapi sekedar bermutu secara akademik tidak cukup. Tak sekedar mencerdaskan otak, sekolah juga harus membangkitkan jiwa sehingga kelak para murid akan menjadi orang yang kaya inspirasi, kreatif, proaktif dan produktif. Mereka memiliki keyakinan yang kuat dan gigih dalam mewujudkan apa yang mereka yakini. Perasaan sebagai orang pilihan –karena tidak semua bisa diterima di sekolahnya—sangat bermanfaat untuk membentuk berbagai sikap mental tersebut. Tetapi bagaimana mungkin perasaan sebagai orang pilihan akan tumbuh jika sekolahnya memang tidak diminati orang? Bagaimana mungkin kebanggaan itu ada jika sekedar mendaftar jadi murid saja orang malu melakukannya? Karena itu, sudah saatnya sekolah-sekolah Islam belajar dengan serius bagaimana memasarkan sekolah. Kita memang harus mendesain setiap sekolah kita sebagai sekolah ideologis. Tetapi pada saat yang sama, melalui strategi pemasaran yang baik, masyarakat memiliki kepercayaan yang besar terhadap lembaga pendidikan yang kita kelola sehingga menjadi sekolah ideologis yang laris. Sesungguhnya, ukuran keberhasilan minimal dakwah melalui pendidikan adalah seberapa besar antusiasme masyarakat mempercayakan pendidikannya di sekolah kita. Apa manfaat mempelajari dan menerapkan strategi pemasaran sekolah?

 Pertama, sekolah kita bukan sekedar bertahan sebagai lembaga pendidikan, lebih dari itu memiliki nilai tawar yang tinggi di hadapan para murid maupun wali murid. Imbasnya, kita memiliki kekuatan yang lebih besar dalam menjalankan berbagai program, terutama program yang melibatkan wali murid. Umumnya, wali murid memiliki keterlibatan emosi, waktu dan finansial yang tinggi jika merasa sekolah anaknya merupakan sekolah pilihan yang membanggakan. Menjadi wali murid sekolah favorit merupakan keuntungan emosi (emotional benefits) yang mendorong mereka untuk bersedia terlibat lebih banyak. 

Kedua, strategi pemasaran yang tepat bermanfaat untuk meningkatkan citra sekolah sehingga bisa menjadi pilihan utama yang diingat orang (top of mind). Meningkatnya citra positif sekolah akan meningkatkan apresiasi publik. Manfaatnya, sekolah bisa mendapatkan calon murid lebih awal dibanding sekolah lain. Dengan demikian sekolah memperoleh murid baru yang lebih bagus mutunya.

 Ketiga, pemahaman tentang pemasaran memudahkan sekolah untuk merumuskan positioning dengan lebih baik. Sekolah juga bisa lebih tepat menentukan targeting; siapa yang akan dibidik untuk menjadi murid dan wali murid. Kejelasan positioning dan targeting ini memudahkan sekolah melakukan promosi secara kreatif, efektif dan efisien. Tidak menghamburkan dana untuk sasaran yang tidak tepat. Selain itu, antar sekolah Islam bisa bersaing sehat. Tiap sekolah bisa saling membantu promosi sekolah Islam lainnya karena masing-masing telah menentukan positioning dan targetingnya dengan baik. Insya Allah.

M. Fauzil Adhim
Read more

0 Ingatan yang Tajam !

FOTO: ksatriapelangi.wordpress
Oleh Mohammad Fauzil Adhim
Bertanyalah kepada orang yang merasa daya ingatnya rendah, apa yang sulit mereka lupakan. Menarik! Ternyata hampir semua memiliki pengalaman yang tidak mudah mereka hapuskan; mudah sekali teringat setiap kali ada peristiwa yang berkait. Begitu juga, kita menjumpai betapa banyak peristiwa, tindakan, ucapan bahkan tulisan yang dengan mudah mereka rekam dan pahami sekaligus bisa segera mereka ingat tatkala memerlukan. Padahal, mereka merasa daya ingatnya rendah!
Kita melihat di sini sebuah kontradiksi menarik: daya ingat rendah, tetapi susah lupa!
Apakah ini sebuah keanehan? Tidak. Kita merasa aneh semata karena belum memahami prinsip-prinsip yang berada di baliknya. Begitu kita mengetahui bagaimana otak bekerja, segera kita memahami betapa dahsyatnya kemampuan otak yang diberikan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada manusia yang memiliki kecerdasan rata-rata. Apalagi yang memang ditakdirkan sebagai manusia jenius.

Anda sendiri saya kira juga memiliki hal-hal yang sulit dilupakan maupun hal-hal yang sangat mudah diingat. Yang sulit kita lupakan adalah peristiwa yang memiliki bobot emosi sangat kuat. Gempa bumi misalnya, umumnya termasuk peristiwa yang sulit dilupakan. Peristiwa traumatis bahkan bisa menghantui seseorang sepanjang hidupnya sehingga menuntut usaha keras untuk melupakannya, meski peristiwa yang sama tidak menimbulkan efek apa-apa bagi orang lain. Sementara yang mudah kita ingat adalah hal-hal yang kita minati, yang berkaitan dengan tujuan kuat dalam diri kita, baik jangka pendek maupun cita-cita besar di masa mendatang yang benar-benar mempengaruhi diri kita.
Pengagum berat musik rock misalnya, dengan mudah akan hafal –bahkan tanpa menghafalkan—lagu baru yang dilantunkan oleh penyanyi pujaannya, cukup satu kali mendengarkan. Padahal dalam bidang akademik, boleh jadi dia merasa susah mengingat materi pelajaran sederhana yang disampaikan oleh guru paling menarik sekalipun.
Apa sebabnya? Rasa suka. Karena ia sangat mengagumi sang penyanyi, maka muncul antusiasme saat mendengarkan. Antusiasme inilah yang menimbulkan semangat hingga kita bisa menghafal lagu dengan sangat cepat. Tanpa sadar, kita telah belajar dengan mengerahkan kemampuan otak kita secara maksimal. Bukankah salah satu yang menguatkan daya ingat saat belajar adalah perhatian?
Nah, sebuah pelajaran baru saja kita catat, antusiasme menjadikan perhatikan kita meningkat terhadap apa yang kita pelajari.
Jika mencermati bagaimana para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in mendengarkan setiap tutur kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (SAW), kita merasakan betapa besar antusiasme mereka. Ada kecintaan yang luar biasa dalam diri setiap sahabat kepada Rasulullah SAW sehingga secara spontan mereka memperhatikan dengan sungguh-sungguh disertai minat yang sangat tinggi terhadap setiap ucapan dan tindakan Rasulullah.
Selain rasa suka yang membangkitkan antusiasme, tujuan yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap kekuatan daya ingat. Kuatnya tujuan akan menciptakan konteks dalam otak sehingga kita mudah melihat hubungan antar berbagai pokok pembahasan yang kita dengar, lihat, simak dan baca. Ini memudahkan kita memahami sebuah masalah, menguasai konsepnya dengan baik dan memikirkan penerapannya, menganalisis permasalahan secara terampil dan bahkan memadukan bagian-bagian menjadi satu kesatuan pemahaman yang utuh. Ini berarti, kuatnya tujuan memudahkan kita mengingat, mengetahui dengan baik, memahami secara matang hingga melakukan sintesis atas apa yang kita pelajari. Setidaknya, tujuan yang jelas dan kuat menjadikan kita mudah memahami apa yang bagi kebanyakan orang sulit untuk dimengerti.

Selain tujuan, daya ingat kita juga dipengaruhi oleh makna atau nilai yang kita hayati atas apa yang kita lakukan. Lebih-lebih jika nilai itu sudah menjadi karakter pribadi, kita akan mudah memahami apa yang kita pelajari.
Lalu, darimana makna itu kita peroleh? Ada dua hal. Pertama, penghayatan secara langsung terhadap makna kegiatan kita –dalam hal ini belajar— sehingga kita merasakan, menerima dan mengikatkan diri dengan nilai tersebut. Ini erat kaitannya dengan niat, disamping proses penanaman nilai yang bersifat terus menerus. Dimulai dengan membangun kesadaran sehingga anak-anak memiliki kemampuan untuk memperhatikan sesuatu dengan nilai yang diyakininya, lalu berangsur meningkat kepada partisipasi, penghayatan nilai, membentuk sistem nilai hingga akhirnya terbentuk karakter diri yang kuat. Itu sebabnya, pendidik perlu terus-menerus menyegarkan niat murid maupun dirinya sendiri. Jika guru mengajar dengan niat yang baik dan kuat, ia akan mengajar dengan penuh antusiasme dan kesungguhan. Dan karena antusiasme menular, anak-anak akan memiliki antusiasme yang besar pula!
Kedua, penanaman dan penguatan tujuan. Proses ini bisa dilakukan di rumah maupun sekolah. Akan lebih baik jika orangtua melakukannya dan guru menguatkannya di sekolah, sekaligus memperkaya wawasan siswa. Penguatan tujuan ini juga bisa kita lakukan dengan membangun visi hidup serta orientasi hidup anak. Jika visi hidup berkait dengan harapannya di masa yang akan datang, orientasi hidup adalah bagaimana dia memandang kehidupannya sehari-hari; untuk apa ia hidup.
Masih berkenaan dengan ingatan yang tajam. Daya ingat juga sangat dipengaruhi oleh emosi positif yang bernama optimisme. Salah satu faktor yang mendorong anak untuk optimis adalah keyakinan terhadap pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla; bahwa Tuhan tak pernah tidur dan senantiasa menolong hamba-Nya yang memerlukan. Di sinilah kita bisa membangun pemahaman sekaligus orientasi hidup pada siswa tentang siapa saja orang yang senantiasa mendapat pertolongan dari Allah dan apa saja syaratnya.
Rasa Takut yang Positif
Jika optimisme berpengaruh terhadap daya ingat serta kemampuan memahami, maka kekhawatiran dan rasa takut membuat otak sulit mencerna informasi yang kita terima. Anak-anak yang cemas saat belajar cenderung lamban dalam memahami pelajaran serta lemah dalam mengingat apa yang sudah pelajari. Lebih-lebih jika dibayangi oleh kegagalan, anak akan cenderung stress dan sulit memusatkan perhatian. Di saat konsentrasi lemah seperti itu, pelajaran yang mudah pun akan terasa sangat sulit.

Yang menyedihkan, kita justru sering menuntut mereka agar memperhatikan pelajaran di saat mereka sedang mengalami kesulitan berkonsentrasi. Ini membuat anak merasa semakin cemas. Ia pesimis. Tak berdaya. Ujungnya, ia mulai menunjukkan perilaku menyimpang, nakal dan sejenisnya. Tindakan ini justru menguatkan keyakinan orangtua maupun guru bahwa anak-anaknya tidak bisa diatur, bodoh dan sejenisnya. Sebuah lingkaran setan yang sempurna!
Itu sebabnya, kita perlu memberi motivasi kepada anak-anak dengan membangun kedekatan emosi antara guru (termasuk orangtua) dan anak, membangkitkan antusiasme, menumbuhkan tujuan yang kuat, optimisme serta tanamkan makna dan nilai (meaning & value) yang kokoh. Gugah mereka untuk mempunyai mimpi besar di masa yang akan datang. Mimpi untuk berbuat dan bermakna. Bukan angan-angan untuk mendapatkan dunia melalui kecerdasannya.
Selain motivasi secara langsung, penguatan tujuan juga bisa kita lakukan dengan menciptakan rasa takut yang positif. Apa itu?
Jika rasa takut menghadapi ujian akan melemahkan kemampuan mereka dalam belajar, maka ketakutan yang berpijak pada rasa tanggung-jawab terhadap masa depan umat ini, akan menguatkan tujuan. Semakin efektif kita menanamkan rasa takut yang positif, akan semakin kuat tekad mereka untuk belajar. Kita ajak mereka untuk membayangkan masa depan yang mengerikan bagi bangsa, umat atau keluarga, kecuali jika mereka bersungguh-sungguh merebut masa depan. SUARA HIDAYATULLAH APRIL 2008
Wallahu a’lam bishawab.
Read more

0 Belajar sebagai Kebutuhan

Oleh Mohammad Fauzil Adhim
FOTO: sbelen.wordpress.com
Perasaan kita terhadap sesu¬atu, sangat mempengaruhi bagaimana kita mengambil keputusan, dibanding pengetahuan kita terhadapnya. Perasaan kita sangat dipengaruhi oleh sikap mental dan wawasan kita.
Lho, apa bedanya wawasan dengan pengetahuan? Secara sederhana, wawasan ada¬lah pengetahuan dan pengalaman yang kita hayati. Menambah wawasan berarti meningkat¬kan rentang masalah yang kita ketahui atau alami secara bermakna. Bukan sekadar kita keta¬hui dan pahami dengan baik.
Contoh sederhana. Setiap orangtua hampir pasti tahu betul betapa berharganya be¬kal pendidikan bagi masa depan anaknya, baik yang menyangkut urusan hidup di dunia –termasuk di antaranya masalah profesi— maupun urusan hidup di akhirat. Yang terakhir ini erat kaitannya dengan akhlak; tujuan hidup dan pengelolaan emosi yang jika kita perhatikan betul juga berkait erat dengan kebahagiaan hidup di dunia.
Manfaat pendidikan ini hampir pasti setiap orangtua mengetahui. Setidaknya manfaat pendidikan bagi kesuksesan hidup di dunia. Tetapi apakah ini mempengaruhi sikap orangtua terhadap urusan pendidikan anak? Apakah pengetahuannya tentang pendidikan mempengaruhi keputusannya tentang apa yang harus diberikan di rumah?
Tidak. Orangtua memang tahu pendidikan itu penting. Tetapi perasaannya be¬lum tumbuh, sikap mentalnya belum terbentuk dan tidak memiliki wawasan pendidikan yang memadai –meski pengetahuannya sangat luas— tetap akan merasa berat mengeluarkan seba¬gian hartanya bagi pemuliaan pendidikan anak. Rasanya lebih ringan membelikan baju baru yang harganya bisa mencapai lima atau bahkan sepuluh kali lipat harga buku, dibanding membeli¬kan pensil dan kertas lipat. Kenapa? Karena nilainya terhadap perasaan kita, diri kita dan arah hidup kita.
Membangun Sikap Belajar
Sama seperti orangtua, anak-anak juga kurang bergairah melakukan sesuatu jika ia belum memiliki sikap belajar yang baik. Meskipun ia tahu betul bahwa belajar sangat berman¬faat bagi kehidupannya kelak. Ia tetap akan enggan berkutat di depan buku atau duduk takzim kepada seorang guru menanti tetesan ilmu darinya jika ia belum memiliki perasaan positif ter¬hadap belajar. Itu sebabnya, kita memiliki tugas menanamkan perasaan positif terhadap be¬lajar kepada anak semenjak dini, terutama pada rentang usia 4-8 tahun.

Ini pula yang harus diperhatikan oleh guru TK. Membangun sikap positif terhadap belajar, jauh lebih penting daripada mengajari mereka menyanyi dan menari!
Jadi, sikap belajarlah yang harus kita bangun terlebih dulu. Bukan kecakapan akade¬mik. Usia tujuh tahun belum lancar membaca tidak masalah asalkan ia sudah memiliki sikap belajar yang baik dan kokoh.
Terampil membaca di usia empat tahun karena ada motivasi belajar yang kuat dalam dirinya, adalah hal yang luar biasa hebat. Tetapi terampil membaca di usia yang sama semata karena dilatih oleh gurunya di TK ataupun orangtua di rumah, adalah musibah besar yang keburukannya akan terlihat ketika usianya memasuki 10 atau 14 tahun.

Beruntung jika dampak negatifnya terlihat pada usia 6 tahun, kita bisa segera mela¬kukan tindakan untuk memulihkan kondisi psikis anak. Cara penanganannya relatif masih lebih mudah. Tetapi jika dampak negatif dari salah perlakuan itu baru kita ketahui pada usia 14 tahun, perlu waktu yang lebih lama dan penanganan yang lebih pelik untuk memulihkan minat belajar anak dan kondisi mentalnya secara umum.
Ini sama dengan menghafal. Kita berharap anak-anak kita memiliki hafalan yang banyak atas ayat-ayat al-Qur’an serta Hadits yang mulia. Tetapi banyaknya hafalan tidak men¬jadi penanda bercahayanya jiwa mereka oleh ayat suci.

Besarnya rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) dan Rasul-Nya akan membangkitkan hasrat yang kuat untuk belajar dan menghafal, tetapi banyak¬nya hafalan tidak dengan sendirinya menjadikan anak memiliki kecintaan kepada agama.
Jika cara kita menggembleng mereka untuk menghafal tidak tepat, justru yang terjadi bisa seba¬liknya. Besarnya tekanan untuk menghafal membuat mereka mengalami kebosanan belajar justru di saat mereka memasuki usia emas untuk mengingat, memahami dan mengkaji.
Tentu saja kita boleh mengajari anak-anak kita menghafal. Kita sudah pernah ber¬bincang di forum ini dalam tulisan bertajuk Menguatkan Hafalan tanpa Melemahkan Kecerdasan. Saya hanya ingin mengingatkan kembali dengan keprihatinan yang amat dalam agar tidak salah orientasi. Kita perlu merangsang kekuatan hafalan mereka, tetapi hafalan bukanlah ori¬entasi pendidikan Islam. Bukan untuk itu kita mendidik mereka dan mendirikan sekolah. Apa pun nama sekolah itu.
Jadi, tugas kita yang paling penting dalam kaitannya dengan menumbuhkan minat belajar pada anak adalah membangun sikap positif terhadap belajar. Ini terjadi pada rentang usia 4-8 tahun, meskipun pada usia sebelumnya kita sudah bisa mengaitkan hal-hal yang me¬nyenangkan bagi anak dengan belajar.
Sikap positif itu kita tumbuhkan dengan memberi pe¬ngalaman belajar yang menyenangkan, membangun kedekatan emosi dengan anak, mencip¬takan kondisi belajar yang positif sebelum dan selama anak belajar, menunjukkan dan manfaat be¬lajar. Selain itu, menularkan antusiasme terhadap ilmu, memberi apresiasi terhadap belajar melalui ucap¬an-ucapan kita yang terencana maupun spontan, serta menjadikan diri kita sebagai contoh.

Membangun Kepercayaan Diri
Hal lain yang juga perlu kita perhatikan adalah perasaan bahwa anak memiliki kom¬petensi yang layak diandalkan. Sepintar apa pun anak, jika mereka merasa tidak mempunyai kelebihan apa pun yang bisa bermanfaat bagi orang lain dan bahkan bagi dirinya sendiri, akan cenderung lemah percaya dirinya. Ini akan sangat berpengaruh terhadap minat dan kesung¬guhannya belajar.

Secara alamiah, anak akan memiliki antusiasme dan percaya diri yang baik. Secara alamiah pula, anak-anak akan menunjukkan kelebihan mereka dan meminta pengakuan me¬reka. Ini terutama terjadi semenjak anak usia 2 tahun. Meskipun kerap memperoleh tanggapan negatif dari orangtua, percaya diri anak serta perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi (sense of competence) cenderung masih kuat sampai anak usia 6 tahun. Tetapi jika di usia ini masih sering memperoleh komentar negatif, anak akan mulai kehilangan percaya diri dan me¬rasa bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan apa pun.
Sebagian besar yang membuat anak tidak memiliki kemampuan yang layak diandalkan adalah komentar pendidik, baik orangtua maupun guru di sekolah. Pada sebagian kasus, anak kehilangan sense of competence (kesadaran atau perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi) karena komentar guru yang buruk.
Apa yang terjadi jika anak tidak memiliki keyakinan bahwa dirinya memiliki kom¬petensi? Mereka akan malas belajar. Bahkan bisa jadi mereka anti belajar. Sebab segigih apa pun mereka berusaha, mereka merasa akan tetap saja tidak memiliki kelebihan. Sebaliknya, anak akan mengembangkan minat belajarnya jika mereka memiliki sense of competence yang baik.
Alhasil, jika kita ingin menjadikan belajar sebagai kebutuhan anak, dua hal inilah yang perlu kita bangun: sikap positif terhadap belajar dan keyakinan bahwa mereka memi¬liki kompetensi. Selebihnya, kita perlu menumbuhkan harga diri mereka. Wallahu a’lam. SUARA HIDAYATULLAH NOPEMBER 2008
Read more

0 Perlu Alasan untuk Belajar

Oleh Mohammad Fauzil Adhim
Apa yang membuat kita mau berusaha lebih gigih untuk meraih sesuatu? Macam-macam. Banyak hal yang bisa menggerakkan kita untuk bertindak lebih serius. Tak peduli suka atau tidak, kita bersungguh-sungguh mengerjakannya.

Apa yang menjadikan kita bersedia meluangkan waktu lebih banyak dan belajar lebih keras? Sama juga. Ada berbagai faktor yang bisa memaksa kita untuk menekuni sesuatu dan mengabaikan yang lainnya. Sebagaimana ada banyak alasan yang bisa menggairahkan kita untuk bertekun-tekun mengkaji sesuatu. Karena takut, kita bisa bersungguh-sungguh melakukan sesuatu agar terhindar dari bahaya yang mengancam. Karena tekanan, kita bisa bertahan untuk melakukan apa yang tidak kita sukai. Atau karena suka, kita bisa lupa waktu bahwa malam sudah beranjak mendekati pagi. Kita masih asyik membuka-buka buku yang sudah tiga atau empat kali kita nikmati.
Sebagaimana kita, anak-anak melakukan sesuatu juga karena satu alasan. Harus ada yang menjadi penggerak; sebuah alasan mengapa ia harus melakukan sesuatu dan mewujudkan tujuannya. Jika kita membangkitkan dalam diri mereka satu alasan yang kuat, mereka akan belajar dengan sangat serius dan sungguh-sungguh, meskipun kita sedang tertidur lelap. Tetapi jika kita berangkat dari pertanyaan apa yang membuat mereka belajar, maka kita akan sibuk untuk terus-menerus menyuruh atau menyediakan apa yang bisa menggerakkan mereka untuk belajar: terpaksa atau tidak. Bukan berarti kita tidak perlu bertanya apa yang membuat mereka belajar, tetapi pertanyaan ini seharusnya ada setelah kita menumbuhkan dalam diri anak-anak itu alasan mengapa mereka perlu bersungguh-sungguh memeras keringat mereka untuk mencari ‘ilmu dan menanamkan kebanggaan terhadapnya; bangga menjadi orang yang rela lecet kakinya untuk mengejar ilmu.
Menumbuhkan Sikap Belajar
Jika anak-anak memiliki alasan yang kuat untuk belajar, maka usaha untuk membuat mereka nyaman belajar akan mendorong mereka lebih bergairah menyerap ilmu. Keterampilan belajar kita bangun sesudah sikap belajar tumbuh dalam diri anak didik kita. Ini berarti menumbuhkan sikap belajar jauh lebih mendesak daripada kemampuan memahami pelajaran, terutama untuk siswa SD kelas bawah. Sikap belajar yang positif akan membangkitkan antusiasme. Inilah yang menjadikan anak senang belajar. Mereka belajar karena mereka ingin melakukannya. Bukan karena ancaman.

Pertanyaannya, bukankah tanpa ancaman anak-anak cenderung malas belajar? Hemm…. Ancaman memang bisa membuat mereka belajar asalkan rasa takut itu masih ada. Tetapi ketika sudah terbiasa, mereka tak lagi bersedia membuang-buang waktu untuk menyimak buku-buku pelajaran. Akibatnya, kita perlu memberi ancaman yang lebih besar agar mereka bersedia belajar.
Tekanan yang kita berikan kepada mereka juga dapat menjadikan anak-anak lebih tekun belajar. Apalagi jika ada unsur penguat, misalnya mengulang di kelas 6 bersama adiknya jika tidak lulus UASBN. Tetapi segera setelah tekanan itu berlalu, kesediaan mereka untuk belajar akan hilang. Lebih-lebih jika kita sendiri sudah tidak terlalu peduli apakah mereka belajar atau tidak, kesediaan mereka belajar akan lebih merosot lagi. Padahal, kesediaan untuk belajar sangat berbeda dengan kemauan. Mau belajar tidak sama dengan kemauan untuk belajar.
Di luar itu, hilangnya kepedulian kita terhadap kegiatan belajar anak tatkala tidak menghadapi ujian juga menunjukkan bahwa kita sendiri tidak mempunyai cukup alasan kenapa belajar itu penting. Padahal, alasan mengapa (the reason why) perlu belajar jauh lebih penting daripada apa yang bisa menjadikan anak mau belajar. Yang pertama membangkitkan kemauan belajar, sedangkan yang kedua hanya menjadikan mereka mau belajar. Bukan kemauan. Ini berarti, mereka akan segera meninggalkan kegiatan membosankan ini apabila ujian sudah berlalu atau ujian dirasa masih jauh. Sementara ketika ujian sudah dekat, mereka menghadapi stress yang cukup berat.
Lalu, apa yang bisa kita simpulkan jika ternyata stress dan pola belajar keras hanya ketika menghadapi ujian juga dianut oleh guru dan sekolah? Sederhana sekali. Pola ini dengan jelas menunjukkan bahwa sekolah sendiri tidak menaruh perhatian pada pembentukan budaya belajar. Sekolah hanya memperhatikan materi ujian dan prestasi akademik yang bahkan lebih layak disebut kemampuan kognitif semata.
Apa yang terjadi kemudian, bisa kita ramalkan dengan mudah. Tanpa alasan yang kuat, sekolah akan sibuk dengan stress tahunan. Setiap menjelang ujian, tiga atau empat bulan sebelumnya, ada stress massal yang terjadi pada guru, siswa, dan wali siswa. Uniknya, stress massal ini terus-menerus mencengkeram dari tahun ke tahun tanpa ada usaha berarti untuk mengubahnya menjadi gairah. Seakan sudah menjadi suratan takdir. Paling-paling, alih-alih menemukan akar masalahnya dan menyelesaikannya dengan tuntas, kita justru sibuk menyalahkan UASBN – UAN. Padahal, tak ada yang perlu dicemaskan jika anak-anak kita sudah memiliki budaya belajar yang kuat. Mereka memang tidak menjadikan sukses UAN sebagai tujuan, tetapi gairah belajar mereka yang kuat dengan sendirinya menjadikan UAN tak lagi menakutkan.
Pertanyaannya, bagaimana cara menyuntikkan alasan yang kuat dalam diri anak-anak sehingga mereka berhasrat belajar? Cara paling sederhana adalah memotivasi. Bukan sekedar menyemangati. Ada dua pendekatan motivasi yang perlu kita pahami agar bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, yakni motivasi lembut (soft motivation) dan motivasi keras (hard motivation). Yang pertama, menitikberatkan pada penghayatan nilai-nilai hidup melalui dialog antara pendidik dan anak-anak.
Salah satu cara untuk menumbuhkan orientasi hidup yang baik dalam diri anak adalah dengan sering mengajak mereka berpikir tentang apa yang ingin mereka perbuat bagi umat dan agama ini kelak ketika mereka dewasa. Kita memberi rangsangan kepada mereka agar memiliki tekad yang kuat untuk berbuat baik. Keinginan berbuat itulah yang menjadi orientasi hidupnya sekaligus cita-citanya di masa dewasa. Bukan sekadar menjadi apa.
Motivasi lembut memang lebih lambat prosesnya. Tetapi ia lebih kuat pengaruhnya, bisa dilakukan setiap orang, dan tidak memerlukan kemampuan vokal yang bagus. Sedangkan motivasi keras, lebih cepat kelihatan hasilnya sekaligus relatif cepat luntur. Tak menunggu waktu lama untuk melihat pengaruhnya. Belum selesai kegiatan motivasi diberikan, kita sudah bisa melihat betapa terpengaruhnya mereka. Airmata sudah tumpah, tangan sudah mengepal, dan dada mereka sudah menggelegak dengan semangat yang berkobar-kobar. Tekad besar seketika muncul. Kesulitan harus ditaklukkan sekarang juga!!!
Ini bukan berarti tak ada tempat bagi motivasi keras. Ibarat shalat, ada yang perlu seremoni semisal shalat Jumat. Bahkan ada yang perlu seremoni lebih banyak lagi seperti shalat ‘Ied. Tetapi pilar utamanya tetap shalat lima waktu setiap harinya.
Motivasi juga demikian. Kegiatan motivasi yang menggunakan seremoni sekali waktu bisa saja kita selenggarakan untuk menggugah lebih cepat dan menggerakkan lebih dahsyat. Tetapi yang jauh lebih penting adalah motivasi sehari-hari, meskipun namanya bukan motivasi. Kita perlu senantiasa mengingatkan, menumbuhkan dan merawat niat anak didik kita dalam belajar.
Inilah yang perlu diingat oleh para guru. Setiap hari kita perlu menggerakkan hati anak didik kita sebelum memberi pelajaran kepada mereka. Hati yang mengingini akan mudah menerima pengetahuan yang diajarkan. Sebaliknya otak cerdas tanpa keinginan yang cukup, membuat pelajaran yang sederhana pun mudah mereka lupakan.
Kuatnya keinginan terhadap ilmu mendorong kita untuk lebih bersemangat memahami, mengkaji dan mewujudkan. Bukan sekadar mengingat sesaat dan tak berselang lama sudah lupa kembali.
Agaknya, ada yang perlu kita pikirkan berkait dengan pendidikan anak-anak kita di sekolah. Ada alasan yang perlu kita bangun dalam diri anak-anak kita untuk belajar lebih serius, lebih gigih dan lebih bersemangat. Sebuah alasan yang benar-benar mendasar.
Bagaimana…? SUARA HIDYATAULLAH APRIL 2010
Read more

0 Ingin anak Anda sukses?

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Ingin anak Anda sukses? Perhatikan, siapa gurunya!
Sebuah riset yang dilakukan oleh S. Paul Wright, Sandra Horn, dan William Sanders (1997) terhadap 60 ribu siswa memberi pelajaran berharga kepada kita betapa pentingnya memperhatikan siapa yang menjadi guru bagi anak-anak kita. Hasil riset yang mereka lakukan menunjukkan bahwa faktor paling penting yang berpengaruh secara langsung terhadap belajar murid adalah guru. Maka, jika anak- anak yang kurang bergairah saat belajar, pertanyaan pertama yang harus dijawab secara tuntas sebelum memanggil orangtua adalah bagaimana guru mengelola kelas dan menjalin hubungan dengan murid-muridnya. Di luar itu, ada pertanyaan lain yang harus dijawab, apakah guru memiliki integritas pribadi atau tidak. Ini berarti, kompetensi saja tak cukup.
Kembali pada riset yang kita perbincangkan di awal tulisan ini. Wright dan kawan-kawan mencatat bahwa, guru-guru yang efektif mampu menjadikan para muridnya berkembang secara efektif. Ini berlaku untuk semua siswa dengan berbagai jenjang prestasi, tidak peduli seberapa majemuk ragam anak-anak di kelas. Jika di kelas banyak anak yang gagal mengembangkan kemampuannya secara efektif, berarti guru tidak mampu mengelola kelas. Bahkan bisa lebih dari itu, yakni tidak mengenali para muridnya dengan baik.
Catatan ini menunjukkan bahwa, kegiatan belajar-mengajar yang efektif sangat sulit terjadi apabila guru tidak mampu mengelola kelas dengan baik. Jika murid banyak yang menunjukkan perilaku menyimpang atau antar murid tidak ada rasa saling hormat, tak ada aturan dan prosedur yang dihormati sebagai panduan perilaku, dan rasa persahabatan antar siswa sangat rendah, maka kekacauan di kelas akan menjadi hal yang wajar. Dalam situasi seperti ini, kata Marzano dalam bukunya yang bertajuk Classroom Management That Works (2003), baik guru maupun murid sama-sama menderita. Guru harus berjuang mati-matian untuk mengajar, dan murid hampir pasti belajar jauh lebih sedikit daripada yang seharusnya mereka lakukan.
Berbagai riset menunjukkan bahwa anak-anak yang kemampuan matematikanya rendah dengan skor 50% ke bawah, meningkat pesat kemampuannya setelah 2 tahun jika ia belajar di sekolah yang efektif dan guru yang juga efektif. Sedangkan anak-anak yang belajar di sekolah rata-rata dengan kemampuan guru mengelola kelas yang juga rata-rata, tidak mengalami perubahan apa pun setelah dua tahun. Tetap saja kemampuannya tidak berkembang dengan baik. Sementara anak-anak yang belajar di sekolah yang tidak efektif dan –celakanya—memperoleh guru yang juga tidak efektif, justru makin lama makin bodoh. Semakin lama ia bersekolah semakin terpuruk prestasinya, semakin tidak mampu ia mengembangkan potensinya.
Pelajaran apa yang bisa kita petik? Setiap anak bisa mengembangkan kemampuannya. Mereka bisa meraih sukses jika memperoleh bimbingan dari guru yang baik; guru yang mampu menjalin hubungan akrab dengan muridnya secara bermartabat, bisa membangkitkan tanggung jawab murid bagi kelangsungan pembelajaran yang penuh semangat, tegas dalam menegakkan disiplin sekaligus dapat melakukan intervensi disiplin secara ketat di kelas, mampu membuat aturan dan prosedur kelas yang menjadi panduan bagi siswa dalam berperilaku, serta memiliki kecakapan membangun sikap mental yang tepat bagi muridnya maupun dirinya sendiri.
Saya perlu menggarisbawahi masalah kemampuan menjalin hubungan akrab secara bermartabat. Apa yang perlu kita perhatikan di sini? Selain terampil menjalin keakraban dengan siswa, yang tidak boleh ditawar-tawar adalah keharusan menjaga batas antara murid dan guru. Akrab dan bersahabat (friendly) memang harus, tetapi harus diingat bahwa guru adalah seorang pendidik dan pembimbing yang bertugas memberi arahan. Ada garis tegas yang perlu diperhatikan agar murid tetap memiliki tata-krama yang baik. Harry K. Wong & Rosemary T. Wong bahkan mengingatkan dalam bukunya yang berjudul How to Be an Effective Teacher: The First Days of School. Buku yang berisi panduan tentang apa yang harus dilakukan oleh guru pada bulan-bulan pertama di sekolah ini menegaskan bahwa setiap guru harus akrab, peduli, penuh cinta, dan sekaligus peka terhadap murid. Tetapi mereka bukanlah teman. Guru harus mampu menjalin hubungan yang bersahabat, tetapi tetap bukan teman yang membuat murid kehilangan tata-krama.
Apa artinya? Menjadi guru efektif yang membuat setiap murid mampu meraih sukses, bukan hanya soal kompetensi. Guru memang harus menguasai bidang studi yang diajarkan. Bukan hanya menang semalam, yakni sekadar belajar lebih awal daripada muridnya. Guru juga harus terampil mengajar. Sangat mumpuni dalam bidang yang diajarkan tetapi tidak mampu menyampaikan dengan baik dan kurang mampu menerangkan secara komunikatif, juga akan berakibat murid mengalami kesulitan belajar. Mereka menjadi bodoh bukan karena tidak memiliki potensi untuk menguasai pelajaran dengan baik, tetapi karena guru gagal dalam memahamkan murid.
Itu sebabnya, kriteria ketuntasan minimal (KKM) dapat dipandang dari dua arah. Pertama, KKM adalah standar minimal yang harus dicapai oleh murid. Jika ada yang tidak mampu mencapai KKM, maka kesalahan sepenuhnya dapat ditimpakan kepada murid dan orangtua. Cara pandang inilah yang banyak dianut sekolah-sekolah kita di negeri ini. Kedua, KKM merupakan target kemampuan murid yang harus dibangun oleh guru. Jika ada murid yang gagal memenuhi KKM, maka guru melakukan evaluasi caranya mengajar dan menangani murid. Cara pandang inilah yang diterapkan di sekolah-sekolah efektif, sehingga guru terbiasa melakukan penilaian, evaluasi, dan meneliti tindakannya di kelas. Ia berusaha menemukan sebab setiap masalah. Apalagi jika jumlah murid yang bermasalah, misalnya gagal memenuhi KKM, merupakan mayoritas.
Tetapi, sekali lagi, penguasaan materi yang baik serta keterampilan mengajar bukan aspek utama yang menjadikan seseorang sebagai guru efektif. Ada aspek lain yang lebih mendasar, yakni motivasi, integritas, dan komitmen. Yang disiplinnya rendah misalnya, meskipun mampu mengajar secara menarik, tetapi mereka tidak patut menjadi guru olah raga. Apalagi guru motivasi. Yang integritasnya rendah, jangan pernah mengambil u pelajaran akidah-akhlak karena keduanya –akidah maupun akhlak—bukan urusan kognitif semata. Ia adalah bagian dari sikap hidup yang harus menyatu dalam setiap helaan nafas kita.
Alhasil, ada yang perlu kita perhatikan. Setiap sekolah perlu memberi perhatian serius untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar. Tetapi ini tidak cukup. Pada saat yang sama, harus ada usaha serius untuk meningkatkan secara terus-menerus kualitas pribadi setiap guru, baik yang berkaitan dengan motivasi, iman, akhlak, komitmennya terhadap agama maupun pendidikan, serta integritas pribadi. Ini semua sangat penting untuk memastikan agar setiap murid mampu meraih sukses. Lebih-lebih untuk sekolah Islam yang telah menyatakan sikap bahwa agama ini yang menjadi ruh dari seluruh kegiatan yang ada di sekolah, peningkatan kualitas pribadi setiap guru tak dapat ditawar-tawar lagi.
Setiap wali murid juga perlu memperhatikan ini sebab di tangan para guru itulah kita serahkan masa depan anak-anak kita!
Box (inspiring word): Harus ada usaha serius untuk meningkatkan secara terus-menerus kualitas pribadi setiap guru, baik yang berkaitan dengan motivasi, iman, akhlak, komitmennya terhadap agama maupun pendidikan, serta integritas pribadi. Ini semua sangat penting untuk memastikan agar setiap murid mampu meraih sukses. Lebih-lebih untuk sekolah Islam yang telah menyatakan sikap bahwa agama ini yang menjadi ruh dari seluruh kegiatan yang ada di sekolah, peningkatan kualitas pribadi setiap guru tak dapat ditawar-tawar lagi. SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2011
Read more

0 Ajarkan Mereka Berburu Ilmu, Bukan Angka!


HAMPIR bisa dipastikan, sistem pendidikan modern yang menjadikan angka-angka (nilai-nilai ujian) sebagai standar kesuksesan dalam evaluasi akhir proses pembelajaran bagi para siswa-siswi, sedikit-banyak telah menggeser motivasi para peserta didik dalam menuntut ilmu. Mereka tidak lagi memahami akan urgensi ilmu bagi kehidupan mereka di masa mendatang, namun, lebih disibukkan untuk berburu angka sebesar-besarnya. Karenanya, nilai-nilai norma pun mereka langgar, dengan target tujuan tercacai (mencontek).
Setali tiga uang, para wali murid pun mengalami hal serupa. Tidak sedikit, di antara mereka mendorong buah hatinya untuk giat sekolah namun dengan motivasi yang keliru. Banyak kita temukan orangtua mengatakan, “Belajar yang rajin, biar nanti hasil ulangannya bagus, dan nanti juara satu.”
Tentu bisa dimaklumi jika banyak kasus dikemudian hari adanya melakukan kecurangan-kecurangan demi menggapai target yang telah dibebankan olehnya, baik itu oleh pemerintah sendiri, guru, ataupun orangtuanya.
Peristiwa yang menghebohkan dunia pendidikkan di Jawa Timur, khususnya Surabaya, beberapa waktu lalu, terkait dengan terbongkarnya kasus sontek-menyontek satu sekolahan pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di salah satu SD di kota Pahlawan tersebut, adalah sedikit bukti betapa motivasi (niat) yang keliru dalam menuntut ilmu sangat mempengaruhi perilaku setiap oknum yang terlibat dalam proses pendidikkan.
Sebagaimana diberitakan oleh media massa, seorang wali kelas, tega meminta muridnya untuk berbuat culas, demi ‘kesuksesan’ peserta didiknya yang lain dalam UN. Sungguh memprihatinkan, seorang pendidik yang seharusnya mengajarkan kejujuran demi kebaikkan diri murid, bangsa, dan Negara, justru mendoktrinnya dengan nilai-nilai negatif (curang), demi tercapainya target angka yang menjadi standar kelulusan. Di sisi lain, ini bisa dimaklumi,karena apa yang dilakukan para guru, akibat dari turunan dari atasnya (sistem yang ada).

Kalau sudah begini, lalu siapa yang harus disalahkan? Tidak mudah untuk menentukan kambing hitamnya. Bagaimana pun juga, semua ini berawal dari orientasi yang keliru, yang menjadikan angka-angka sebagai perburuan utama peserta didik. 

Ilmu itu Penuntun 

 Suatu hari, Imam Syafi’I mengadu kepada salah satu gurunya, Waqi’, bahwa dia tengah mengalami kesukaran dalam menghafal. Mendengar pengakuan muridnya, sang-guru menasehati agar imam syafi’i menjauhi kemaksyiatan, karena sesungguhnya ilmu adalah cahaya (petunjuk Allah) yang tidak akan pernah diberikan kepada mereka yang bermaksiat.

Beliau (Waqi’) berujar, “fainni ‘ilma nuurun wa nuruullahi laa yuhdaa li al-‘asyi” (Sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada mereka yang bermaksiat).
Jadi, hakikat ilmu adalah penuntun yang akan mengarahkan pemiliknya kepada kebaikkan. Senada dengan ini, Ali bin Abi Tholib pun telah berujar, bahwa perbedaan antara ilmu dan harta itu ada beberapa macam, dan salah satunya, ilmu itu menjaga si pemiliknya –dari keburukkan-, sedangkan harta itu harus dijaga –agar tidak dicuri orang-.
Lebih tinggi lagi, ilmu itu seharusnya mampu mengenalkan si-pemiliknya kepada Allah, Sang-Pemberi ilmu lebih dalam lagi. Sehingga, dengan ilmunya tersebut dia semakin taat kepada Allah, dan takut untuk melanggar perintah-perintah-Nya.
Firman Allah, وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…”. (QS: Fathir: 28). 

Dan inilah sejatinya tujuan utama dari proses belajar-mengajar seorang mukmin. Yaitu mampu menghantarkan dirinya kepada ma’rifatullah. Selain bertujuan demikian, berarti dia telah keliru dalam melangkah. 

Turunnya ayat pertama surat al-‘Alaq yang berisi perintah membaca (menuntut ilmu) ‘iqra’ (bacalah), itu bergandengan langsung dengan kalimat setelahnya ‘bismi rabbika alladzi khalaq’ (dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan), tanpa ada pemisah sedikit pun. Dan ini, menurut Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, dalam suatu diskusi, bahwa dalam mengkaji suatu ilmu itu harus lurus niatnya, lillahi ta’ala, yang bertujuan untuk ma’rifat kepada-Nya. Dan keduanya, tidak bisa dipisahkan. Setiap kali kita ber-iqra’, maka itu harus ber-bismi rabbika.

Jadi jelas, seorang mukmin, ketika menuntut ilmu, bukan sekedar berburu angka-angka atau pun materi. Dan barangsiapa yang melakukan demikian, maka sungguh dia merupakan pribadi yang lebih buas dari pada singa yang kelaparan.
Kenapa bisa demikian? Karena dengan ilmu yang dia peroleh dia akan membuat kerusakkan, kedzoliman, kesemena-menaan di muka bumi ini. Dia akan mengancam keselamatan siapa saja yang dia anggap sebagai penghalang dalam meraih missinya.
Kalau dia memiliki jabatan, maka jabatannya akan disalahgunakan. Kalau dia memiliki kekuasaan, maka kekuasaannya akan dijadikan media pelicin jalan menggapai impiannya.

Boleh jadi, potret pemimpin negeri ini yang menjadikaan kekuasaan sebagai alat pengeruk uang rakyat, niat mereka menjabat atau mencalonkan diri sebagai pejabat, bukan bismirabbik (atas nama Allah SWT), tapibismilmaali (atas nama harta/pekerjaan).

Dengan Cara Mulia 

Karena ilmu itu adalah sesuatu yang suci, maka cara menggapainya pun harus dengan cara-cara yang mulia pula. Setidaknya terdapat enam perkara yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu, yang menghendaki kemudahan dan kebarokahan. Enam perkara tersebut ialah; kecerdasan, ambisius, uang, menghormati guru, dan waktu yang tidak singkat.

Kesimpulannya, membenahi niat (motivasi) dalam menuntut ilmu, itu sangat penting bagi seorang pelajar, guru, dan wali murid. Ketika terjadi disorientasi, maka, alih-alih anak tersebut akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, tapi bisa jadi, dia justru terjerumus dalam keburukkan karena tekanan-tekanan eksternal yang harus ia penuhi. Tahun ajaran baru telah di depan mata. Mari kita perbaharui niat menyekolahkan anak-anak kita untuk menuntut ilmu, bukan memburu angka-angka. Dengan demikian, ilmu yang bermanfaat akan mereka peroleh, dan angka-angka pun akan mereka dapatkan.
“Sesungguhnya semua amalan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan memperoleh (balasan pahala) sesuai dengan yang ia niatkan. Oleh karena itu, barang siapa yang hijrahnya menuju kepada Allah dan rosul-Nya, maka berarti hijrahnya menuju Allah dan rosul-Nya, dan barang siapa yang hijrohnya karena dunia yang akan diperolehnya atau perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrohnya itu menuju kepada apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallah ‘alam bis-Shawab.*/Robinsah

hidayatullahdotcom
Read more

0 Menjangkau Masa Depan


Tidak ada yang berubah dalam prinsip sejarah. Berpijak pada pengetahuan yang luas dan pemahaman yang mendalam tentang sejarah, kita dapat memba¬yangkan masa depan. Kita bisa membaca gambaran tentang apa yang kira-kira akan terwujud di masa depan jika hari ini keadaannya seperti ini; serta apa yang bisa kita lakukan agar sejarah di masa yang akan datang bisa berbelok ke arah yang lebih baik atau bahkan memutar dari kemungkinan buruk kepada tatanan yang insya-Allah penuh kemuliaan dan kebarakahan.

Prinsip-prinsip sejarah itu pasti dan karenanya bisa menjadi pelajaran yang nyata bi¬jak menata diri dan hidup ini. Masalahnya adalah, peristiwa sejarah berbeda dengan catatan sejarah. Catatan yang sampai kepada kita belum tentu sama persis dengan peristiwa sesungguhnya yang terjadi dalam sejarah. Banyak hal yang mempengaruhi proses pencatatan sejarah, sehingga tidak betul-betul menggambarkan rangkaian peristiwa sejarah yang sesungguhnya dan bahkan menyimpang jauh dari keadaan yang sebenarnya. Kepentingan penguasa meru¬pakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh.

Apa akibatnya jika kita salah mempelajari sejarah? Salah satunya kesalahan memahami prinsip atau bahkan salah dalam menyimpulkan prinsip sejarah. Ini terjadi karena rangkaian peristiwanya tidak utuh lagi. Antara peristiwa pendahuluan dengan peristiwa berikutnya yang merupakan rangkaian akibat, sudah banyak yang berubah sehingga kita salah dalam menyimpulkan. Itu sebabnya, kita perlu sumber belajar yang benar-benar bisa dipertanggung-jawabkan. Semoga dengan itu kita bisa menjangkau masa depan! Kita arif merumuskan langkah ka¬rena memahami hukum sejarah dengan benar dan matang. Kita berhati-hati dalam bertindak karena telah mereguk banyak pelajaran betapa hilangnya sifat hati-hati dapat menyebabkan rusaknya benih-benih kebaikan.

Apakah sumber belajar yang pasti benarnya? Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah. Al-Qur’an menceritakan beberapa peristiwa sejarah yang membawa perubahan besar. Ia menuturkan kepada kita langsung kepada pokok-pokok peristiwa terpenting, peristiwa yang menjadi penentu. Sedangkan As-Sunnah Ash-Shahihah menunjukkan kepada kita kesaksian tentang peristiwa-peristiwa melalui proses transmisi (periwayatan) yang ketat; baik jalur periwayatan, redaksi teks –jika merupakan sabda Nabi saw.—maupun kredibilitas serta integritas periwayatnya.

Dari dua sumber pokok inilah prinsip-prinsip sejarah dirumuskan untuk selanjutnya menjadi pegangan dalam mengembangkan kaidah-kaidah sejarah yang lebih luas. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membangun masa depan jika mampu memahami prinsip-prin¬sip sejarah dengan baik dan mengembangkan kaidah-kaidahnya untuk berbagai bidang kehi¬dupan. Ini pula yang harus kita tanamkan pada anak-anak agar kelak mereka mampu bijak menyikapi hidup. Figur besar seperti Ibnu Khaldun misalnya, mengembangkan prinsip-prinsip sejarah yang digali dari pemahamannya terhadap tuntunan dienul Islam tentang sejarah. Dari sini, Ibnu Khaldun menulis kitabnya yang sangat fenomenal bertajuk Muqaddimah; kitab yang meletakkan dasar-dasar ilmu sosiologi modern.

Hari ini, kalau kita belajar sosiologi modern, kita berhutang jasa pada Ibnu Khaldun. Hari ini, berbagai negeri maju dapat mengembangkan negerinya berkat ilmu sosiologi yang dibangun oleh Ibnu Khaldun, meski sudah berkembang sangat jauh dan bahkan sudah bergeser dari kebenaran. Melalui sosiologi, kita bisa membaca persoalan masyarakat secara lebih sederhana sehingga memudahkan kita dalam mengambil langkah strategis untuk memecahkan persoalan tersebut.

Anak-anak kita kelak insya-Allah akan dapat mengembangkan ilmu yang lebih luas ragamnya melalui pemahaman sejarah yang tepat. Prinsip-prinsip sejarah yang kita gali dari sumber belajar utama, kemudian kita kembangkan dengan melihat berbagai realitas sejarah yang terjadi di masa-masa berikutnya, insya-Allah bisa menjadi bekal untuk mengembangkan ilmu yang mengkaji satu disiplin secara khusus, misalnya tentang perilaku organisasi, pengembangan pendidikan serta berbagai cabang ilmu lainnya.

Nah, apakah yang sudah kita lakukan untuk mengantar anak-anak menjangkau masa depan? Sejarah telah terbentang. Terserah kepada kita, mau mengambil pelajaran atau tidak. (M. Fauzil Adhim)
Read more

0 Berfikir VS Mempertanyakan ?

Ada perbedaan yang sangat tipis antara berpikir dan mempertanyakan. Berpikir menuntun kita memperoleh jawaban menyeluruh yang matang dan mendalam, sehingga berguna bagi kita dalam bersikap dan menentukan tindakan. Semakin matang jawaban yang kita peroleh akan semakin baik kita memahami segala sesuatu, sehingga semakin menyadarkan bahwa sangat banyak hal yang belum kita pahami. Ini berarti semakin tinggi ilmu kita justru semakin menyadarkan betapa sedikit ilmu yang kita miliki, semakin tahu letak ketidaktahuan kita, sehingga atas apa-apa yang kita belum memiliki ilmunya, kita tidak menafikannya.

Berpikir membuat akal kita bekerja. Sedangkan bekerjanya akal membuat kita menyadari keteraturan yang berlaku di alam semesta ini. Selanjutnya, insya-Allah penggunaan akal yang tepat akan mengantarkan kita tunduk kepada Yang Maha Menciptakan.

Mirip dengan berpikir adalah kemampuan mengingat dan memahami penjelasan. Orang yang unggul dalam mengingat dan memahami penjelasan bisa menjadi penceramah yang baik, tetapi tidak bisa mengantarkan seseorang untuk menyadari keteraturan alam semesta ini. Mereka tahu, tapi bukan menyadari. Semakin banyak pengetahuan bukan jaminan akan semakin matangnya diri seseorang. Bahkan bisa mendorong ia untuk banyak mempertanyakan.

Jika kemampuan bertanya merangsang orang untuk berpikir dengan cerdas, maka tidak demikian dengan mempertanyakan. Sikap mempertanyakan mendorong kita untuk menolak kebenaran dan berhenti berpikir maupun meneliti.

Ketika Allah ‘Azza wa Jalla hendak menciptakan khalifah di muka bumi, yakni Adam ‘alaihissalam, malaikat bertanya kepada Allah tentang alasan penciptaan. Ini terekam dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30. Sedangkan syaithan mempertanyakan mengapa harus bersujud kepada Adam. Syaithan mempertanyakan karena merasa tinggi, lebih tinggi kedudukannya daripada Adam. Syaithan tidak bisa melihat bahwa sujudnya kepada Adam sesungguhnya bukanlah menyembah Adam, melainkan ketundukan terhadap yang memberi perintah, yakni Allah ‘Azza wa Jalla.

Apa yang bisa kita petik dari diskusi tentang berpikir? Dalam kaitannya dengan pembelajaran, kita memiliki tugas untuk merangsang anak-anak cerdas dalam bertanya. Sesungguhnya bertanya adalah separo ilmu. Pertanyaan yang bagus akan mengantarkan pada jawaban yang bagus. Pertanyaan yang bagus mengantarkan anak untuk menggali lebih dalam, mempelajari lebih matang dan berpikir lebih mendalam. Sedangkan mempertanyakan cenderung mendorong kita untuk memprotes apa-apa yang kita tidak memiliki ilmunya atau apa yang kita belum sanggup menjangkau.

Ada beberapa langkah yang perlu kita lakukan untuk merangsang anak merenungi penciptaan alam ini.Pertama, memahamkan kepada anak pengetahuan tentang alam semesta untuk selanjutnya meningkat pada pemahaman tentang prinsip-prinsip ilmu alam, keteraturan pada mekanisme alam semesta, anomali hukum alam dan apa yang terjadi jika Allah ‘Azza wa Jalla tidak menciptakan anomali.

Kedua, mengajak anak secara bertahap untuk melihat keteraturan dan segala proses yang terjadi pada alam semesta ini, baik berkait dengan alam semesta secara keseluruhan maupun bagian-bagian kecilnya seperti bagaimana daun menghijau dan menguning, adalah tanda-tanda kekuasaan Allah‘Azza wa Jalla. Bagaimana air laut menguap menjadi awan dan selanjutnya turun sebagai hujan adalah tanda keteraturan hukum alam yang Allah Ta’ala ciptakan. Tetapi apakah hujan akan turun tepat di atas laut yang menguapkan airnya? Malaikat Allah yang bertugas untuk mengaturnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ketiga, selanjutnya guru mengajak murid memasuki wilayah yang bersifat ruhiyah. Apa pun mata pelajarannya, anak diajak untuk banyak mengingat Allah. Anak mengingati sifat Allah yang maha suci bukan terutama karena seringnya guru berucap subhanaLlah, melainkan karena seringnya guru mengajak anak menyadari sifat Allah. Keempat, guru senantiasa berusaha membangkitkan kesadaran tentang amanah penciptaan atas diri mereka. Kita dorong mereka untuk berbuat dan melakukan yang terbaik untuk Allah ‘Azza wa Jalla dan menolong agama-Nya.

Kelima, kita ajak anak-anak untuk melihat betapa seriusnya Allah menciptakan setiap makhluknya dan tidak ada yang sia-sia dengan ciptaan-Nya. Dari ini, kita berharap anak-anak akan bisa bertasbih memuji-Nya. Maha Suci Ia. Sedangkan atas apa-apa yang belum mereka ketahui ilmunya, mereka akan belajar untuk meyakini bahwa pasti ada kebaikan besar di dalamnya.

Pada akhirnya, yang keenam, kita berharap melalui proses pembelajaran semacam ini anak-anak akan semakin besar rasa cintanya kepada Allah, semakin besar ketundukannya dan semakin kuat rasa takutnya disebabkan semakin bertambahnya ilmu mereka. Insya-Allah inilah yang menjaga diri mereka dari perbuatan sia-sia, dan di sisi lain, mendorong mereka untuk bersungguh-sungguh melakukan yang terbaik. Inilah the basic of knowing (dasar berpengetahuan) yang perlu kita tanamkan!

Agar guru bisa menjalankan tugas tersebut, mereka perlu banyak berpikir. Tafakkur. Bukan hanya membaca. Tetapi jika membaca saja tidak pernah, bagaimana kita bisa berharap mereka cerdas dalam berpikir?

Fanpage M Fauzil Adhim
Read more

0 Sekolah yang Mencerdaskan

Mencerdaskan anak bukanlah tugas utama sekolah. Tugas sekolah adalah membentuk pribadi yang memiliki integritas moral sangat tinggi, berakhlak mulia dan produktif dikarenakan kuatnya keyakinan yang berpijak pada fondasi bernama aqidah. Bersebab pada kuatnya aqidah, sekolah juga berkewajiban membakar semangat mereka sehingga akan lahir pemuda-pemuda yang hidup jiwanya dan jelas arah hidupnya. Begitu mereka memiliki motivasi yang kuat dan semangat yang menyala-nyala, maka mereka akan memiliki tekadi besar untuk mencapai apa yang sungguh-sungguh bermanfaat baginya. Ia memiliki daya tahan untuk terus gigih ketika yang lain sudah mulai berguguran. Ia memperoleh makna atas setiap tindakan yang secara sengaja dilakukannya untuk mencapai apa yang baik dan penting. Insya-Allah!

Semangat yang berkobar-kobar memungkinkan seseorang mencapai tingkat kecerdasan yang tinggi dan bermanfaat. Saya perlu menambahkan kata bermanfaat karena kepekaan terhadap apa yang sungguh-sungguh bermanfaat bagi diri sendiri dan terutama bagi umat manusia, hari ini sangat sulit kita dapati (bahkan mungkin pada diri kita sendiri). Sebabnya, mereka memang tidak memperoleh pengalaman belajar yang secara sengaja menumbuhkan kepekaan mereka. Alih-alih mengembangkan kapasitas mental, anak-anak itu justru mengalami penganiayaan akademik dalam bentuk pembebanan target-target penguasaan secara kognitif materi-materi pelajaran, terutama yang menjadi materi ujian nasional. Padahal penguasaan materi pelajaran seharusnya merupakan akibat saja dari berkobarnya semangat dan kepekaan terhadap apa yang bermanfaat bagi umat manusia.

Inilah yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita. Kita dorong mereka untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan karena itu mereka harus bersungguh-sungguh pada hal yang bermanfaat baginya. Ada sebuah hadis yang perlu kita renungkan. Rasulullah saww. bersabda, “Bersungguh-sungguhlah pada hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah serta jangan merasa lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan “Seandainya (tempo hari) aku melakukan ini, niscaya begini dan begini.” Katakanlah, “Allah telah menakdirkan dan apa yang Allah kehendaki, maka itu terjadi.” Sesungguhnya kata seandainya akan membuka pintu perbuatan setan.”(HR. Muslim).

Ya, bersungguh-sungguhlah pada hal yang bermanfaat bagimu. Tapi mengapa anak-anak tidak peka terhadap apa yang bermanfaat bagi dirinya? Karena sekolah tidak mengajari mereka tujuan hidup, empati dan integritas. Mereka juga tidak belajar merumuskan visi hidup yang jelas. Mereka hanya dipacu untuk berhasil menciptakan nilai bagus saat ujian. Ironisnya, tidak sedikit orangtua maupun sekolah yang masih berorientasi pada ujian, sehingga tidak mendorong anak untuk “belajar” kecuali saat menghadapi ujian. Mereka tidak mendorong anak haus ilmu dan mengembangkan kecakapan yang bermanfaat. Apatah lagi alasan yang menggerakkan diri untuk berbuat sehingga setiap hal jadi bermakna, sangat jarang disentuh.

Para orangtua dan guru sering menyuruh anak belajar agar pintar. Tetapi mereka tidak mengajarkan untuk apa pintar, atau kepintaran itu seharusnya dipergunakan untuk apa. Lebih ironis lagi, pintar itu sama dengan angka 8, angka 9 untuk yang sangat pintar dan 10 untuk yang luar biasa pintar. Darimana angka itu diperoleh, tidak penting lagi. Dan di sinilah bencana itu bermula. Anak belajar melakukan penipuan bernama mencontek –satu bentuk kejahatan yang lebih sering kita sebut kelalaian.

Apa yang ingin saya sampaikan? Sudah saatnya kita merenungkan kembali pendidikan kita. Tugas sekolah adalah mengantarkan anak didik untuk menjadi manusia, mengerti tugas hidupnya dan mampu memberi manfaat bagi umat manusia. Kita rangsang mereka untuk mampu memegangi nilai hidup yang menggerakkan mereka untuk bertindak. Artinya, nilai hidup itu haruslah menjadi daya penggerak bagi hidup mereka. Bukan sekedar untuk menjadi bahan hafalan yang dicerna secara kognitif belaka. Lebih-lebih jika hanya pada tataran kognitif terendah.

Sekedar menyegarkan ingatan, Benjamin S. Bloom membagi secara berjenjang kemampuan kognitif dalam sebuah taksonomi yang dikenal dengan Taksonomi Bloom. Ada enam jenjang, yakni pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan jenjang tertinggi adalah penilaian. Kemampuan taraf terendah lebih mengacu pada kemampuan mengingat apa yang telah dipelajari secara tepat. Pada taraf ini, meskipun kemampuan mengingatnya sangat tinggi sehingga mampu menjawab soal-soal yang diajukan, tidak membuat seseorang mampu memahami prinsip-prinsip serta mengembangkan pengetahuan yang telah dimilikinya, sehingga dengan mudah akan mengenali dan menguasai apa-apa yang prinsipnya sama maupun mirip.

Bimbingan belajar intensif umumnya hanya berurusan dengan kemampuan kognitif jenjang terendah. Mereka terlihat pandai, tetapi diam-diam membawa resiko serius, yakni tidak berkembangnya kemampuan kognitif pada jenjang di atasnya. Inilah yang sebenarnya tidak boleh terjadi! Itu sebabnya sekolah harus berpikir serius bagaimana memacu prestasi siswa tanpa melakukan penganiayaan akademik, yakni proses pembelajaran yang hanya memperhatikan kemampuan kognitif terendah sebagai pembebanan. Sangat berbeda nilainya antara pembebanan dengan motivasi. Mengejar anjing membangkitkan semangat berkobar ketika nyaris berhasil. Tetapi dikejar anjing sangat menguras tenaga dan membunuh antusiasme, justru ketika berhasil.

Tentu saja bukan berarti ujian akhir nasional tidak boleh ada. Jika sekolah kita memang baik, tidak ada alasan untuk menangis mendengar genderang ujian nasional ditabuh. Justru kita ditantang untuk menunjukkan bahwa pola pendidikan yang kita jalankan, benar-benar mampu mengantarkan siswa meraih sukses secara akademik. Nilai ujian memang tidak boleh menjadi tujuan. Ini musibah besar kalau siswa belajar di sekolah selama enam atau tiga tahun hanya untuk mengejar nilai enam mata pelajaran. Tetapi ujian akhir nasional merupakan parameter sederhana seberapa baik kita menanamkan dasar-dasar kemampuan akademik pada siswa. Artinya, prestasi cemerlang di ujian akhir nasional hanyalah konsekuensi logis pendidikan yang baik.

Berkenaan dengan prestasi akademik ini, ada baiknya kita berbincang sejenak ten¬tang empat tujuan operasional pendidikan. Secara ringkas, mari kita cermati satu per satu:

1. Mastery Goals, proses pembelajaran membuat siswa mampu menguasai mata pelajaran yang diajarkan dengan sangat baik. Siswa mampu memahami prinsip-prinsip, teori dan konsep matematika sehingga mampu memecahkan problem matematika dengan baik.

2. Performance Goals, proses pembelajaran –apa pun mata pelajarannya—harus membuat siswa mampu melakukan aktivitas atau mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Artinya, apa pun mata pelajarannya harus menjadikan siswa sebagai orang yang mampu menyelesaikan tugas-tugas dengan baik, bukan hanya tugas akademik.

3. Social Goals, proses pembelajaran di sekolah secara keseluruhan dimaksudkan untuk membekali siswa dengan kecakapan sosial, termasuk di dalamnya kepekaan sosial dan hasrat untuk memberi manfaat secara sosial. Sekurang-kurangnya, proses pembelajaran menjadikan siswa mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan sosialnya maupun orang-orang yang baru ditemui.

4. Affective Goals, pendidikan adalah proses yang membentuk kekuatan emosi siswa sehingga menjadi pribadi yang empatik, mampu mengendalikan emosi, dapat menunda kesenangan (delayed gratification) demi memperoleh tujuan yang jauh lebih besar di masa mendatang, mampu memotivasi diri sendiri dan memiliki penghayatan nilai yang baik.
Prestasi yang paling mudah diukur adalah kemampuan akademik yang berkait dengan tujuan operasional pertama, yakni mastery goals. Di sinilah letak kesalahan itu biasanya terjadi. Sekolah hanya menyibukkan pada proses pembelajaran yang memberi kecakapan pada siswa untuk mengerjakan soal –bahkan bukan untuk memahami dan menguasai mata pelajaran dengan baik—sehingga menyebabkan siswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya secara utuh. Ini juga menyebabkan kemampuan kognitif siswa bahkan tidak berkembang secara optimal. Padahal, alur yang seharusnya justru kita mulai dari penguatan tujuan afektif dengan mengasah kepekaan, empati, membangun kecerdasan emosi, menata orientasi hidup serta meletakkan visi hidup yang kuat.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar anak-anak memiliki visi hidup yang kuat? Apa yang harus kita rombak dalam proses pendidikan di sekolah? Apakah kita perlu melakukan reformasi total pada sistem pendidikan kita?

Tidak. Reformasi tanpa melakukan perubahan cara pandang dan sikap, hampir pasti tidak akan membawa hasil yang memadai. Perlu upaya terencana untuk mengubah cara pandang dan sikap pelaksana pendidikan secara keseluruhan, terutama guru, tidak terkecuali orangtua sebagai bagian yang tak terpisahkan. Kurikulum mungkin tidak berubah. Tetapi berubahnya cara pandang mampu menghasilkan perubahan dramatis pada antusiasme belajar, orientasi hidup, budaya belajar dan tentu saja akan berpengaruh pada prestasi akademik siswa. Proses perubahan yang lebih memusatkan perhatian pada cara pandang, sikap dan pada akhirnya perilaku inilah yang biasa disebut reinventing.

Saya ingin sekali membahas tentang reinventing sekolah bersama-sama dengan Anda. Tetapi kesempatan belum memungkinkan. Karena itu, izinkan saya menutup perbincangan kita kali ini. Satu hal, dari pembicaraan yang baru saja kita lalui, kunci untuk melejitkan kecerdasan bukan pada melatih kecakapan belajarnya, tetapi justru bagaimana menggerakkan jiwanya untuk memiliki tujuan hidup yang kuat dan kesadaran agar senantiasa menjadi manusia yang bermanfaat.

Wallahu a'lam bish-shawab.
M. Fauzil Adhim
Read more

0 Ingatan yang Tajam !

Bertanyalah kepada orang yang merasa daya ingatnya rendah, apa yang sulit mereka lupakan. Menarik! Ternyata hampir semua memiliki pengalaman yang tidak mudah mereka hapuskan; mudah sekali teringat setiap kali ada peristiwa yang berkait. Begitu juga, kita menjumpai betapa banyak peristiwa, tindakan, ucapan bahkan tulisan yang dengan mudah mereka rekam dan pahami sekaligus bisa segera mereka ingat tatkala memerlukan. Padahal, mereka merasa daya ingatnya rendah!

Kita melihat di sini sebuah kontradiksi menarik: daya ingat rendah, tetapi susah lupa!

Apakah ini sebuah keanehan? Tidak. Kita merasa aneh semata karena kita belum memahami prinsip-prinsip yang berada di baliknya. Begitu kita mengetahui bagaimana otak bekerja, segera kita memahami betapa dahsyatnya kemampuan otak yang diberikan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada manusia yang memiliki kecerdasan rata-rata. Apalagi yang memang ditakdirkan sebagai manusia jenius.

Anda sendiri saya kira juga memiliki hal-hal yang sulit dilupakan maupun hal-hal yang sangat mudah diingat. Yang sulit kita lupakan adalah peristiwa atau sesuatu yang memiliki bobot emosi sangat kuat. Gempa bumi misalnya, umumnya termasuk peristiwa yang sulit dilupakan. Peristiwa traumatis bahkan bisa menghantui seseorang sepanjang hidupnya sehingga menuntut usaha keras untuk melupakannya –bila perlu harus terapi ke seorang psikolog--, meski peristiwa yang sama tidak menimbulkan efek apa-apa bagi orang lain. Sementara yang mudah kita ingat adalah hal-hal yang kita minati, kita perhatikan atau yang berkaitan dengan tujuan kuat dalam diri kita, baik tujuan jangka pendek maupun cita-cita besar di masa mendatang yang benar-benar mempengaruhi diri kita.

Pengagum berat musik rock misalnya, dengan mudah akan hafal –bahkan tanpa menghafalkan—lagu baru yang dilantunkan oleh penyanyi pujaannya, cukup dengan satu kali mendengarkan. Padahal dalam bidang akademik, boleh jadi dia merasa susah mengingat materi pelajaran sederhana yang disampaikan oleh guru paling menarik sekalipun.
Apa sebabnya? Rasa suka. Karena ia sangat mengagumi sang penyanyi, maka muncul antusiasme saat mendengarkan. Antusiasme inilah yang menimbulkan semangat sehingga kita bisa menghafal lagu dengan sangat cepat. Kita belajar secara efektif bukan karena lagu tersebut ada musiknya, tetapi karena ada gairah besar saat mendengarkan. Tanpa sadar, kita telah belajar dengan mengerahkan kemampuan otak kita secara maksimal. Kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh pada setiap kata yang menyusun syair lagu itu. Hasilnya, otak kita bekerja sangat efektif. Bukankah salah satu yang menguatkan daya ingat saat belajar adalah perhatian?

Nah, sebuah pelajaran baru saja kita catat, antusiasme menjadikan perhatikan kita meningkat terhadap apa yang kita pelajari.

Apakah lagu memang mudah dihafalkan? Tidak. Perbincangan kita tentang lagu hanyalah sekedar menyebut contoh. Saya termasuk orang yang sangat sulit menghafal lagu. Sebabnya, selera musik saya rendah sehingga semenjak SD saya memperoleh nilai yang buruk untuk seni suara. Padahal dalam bidang lain saya bisa mengingat pelajaran dengan sangat baik, tidak terkecuali dialek gurunya saat menerangkan.

Jika mencermati bagaimana para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in mendengarkan setiap tutur kata Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, kita merasakan betapa besar antusiasme mereka. Ada kecintaan yang luar biasa dalam diri setiap sahabat kepada Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sehingga secara spontan mereka memperhatikan dengan sungguh-sungguh disertai minat yang sangat tinggi terhadap setiap ucapan dan tindakan Rasulullah sang kekasih.
Maka, “wajarlah” jika para sahabat memiliki daya ingat yang tinggi terhadap perilaku maupun sabda Nabi, bahkan hingga titik komanya. Mereka mengingat secara persis seperti semut mengingat sarangnya. Apalagi bagi seorang Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang ketika itu tidak punya kesibukan apa pun selain tinggal di masjid dan mengikuti kemana Rasulullah shallaLlahu ‘alahi wa sallam pergi. Sebagai ahlus suffah, seorang yang miskin papa tanpa tempat tinggal, Abu Hurairah mempunyai kesempatan mendengar, mengingat dan menghafal dengan lebih baik dibanding umumnya para sahabat utama yang memikul tanggung-jawab sangat banyak. Apa yang tampak sebagai kemalangan nasib bagi seorang Abu Hurairah, diam-diam merupakan barakah bagi agama ini karena mempunyai seorang penghafal sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang tekun dan total.

Blessing in disguise. Sebuah berkah tersembunyi di balik kemiskinannya.

Selain rasa suka yang membangkitkan antusiasme, tujuan yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap kekuatan daya ingat. Kuatnya tujuan akan menciptakan konteks dalam otak sehingga kita mudah melihat hubungan antar berbagai pokok pembahasan yang kita dengar, lihat, simak dan baca. Ini memudahkan kita memahami sebuah masalah, menguasai konsepnya dengan baik dan memikirkan penerapannya, menganalisis permasalahan secara terampil dan bahkan memadukan bagian-bagian menjadi satu kesatuan pemahaman yang utuh. Ini berarti, kuatnya tujuan memudahkan kita mengingat, mengetahui dengan baik, memahami secara matang hingga melakukan sintesis atas apa yang kita pelajari. Setidaknya, tujuan yang jelas dan kuat menjadikan kita mudah memahami apa yang bagi kebanyakan orang sulit untuk dimengerti.

Selain tujuan, daya ingat kita juga dipengaruhi oleh makna atau nilai yang kita hayati atas apa yang kita lakukan. Lebih-lebih jika nilai itu sudah menjadi karakter pribadi, kita akan mudah memahami apa yang kita pelajari.

Lalu, darimana makna itu kita peroleh? Ada dua hal. Pertama, penghayatan secara langsung terhadap makna kegiatan kita –dalam hal ini belajar— sehingga kita merasakan, menerima dan mengikatkan diri dengan nilai tersebut. Ini erat kaitannya dengan niat, disamping proses penanaman nilai yang bersifat terus menerus. Dimulai dengan membangun kesadaran sehingga anak-anak memiliki kemampuan untuk memperhatikan sesuatu dengan nilai yang diyakininya, lalu berangsur meningkat kepada partisipasi, penghayatan nilai, membentuk sistem nilai hingga akhirnya terbentuk karakter diri yang kuat. Itu sebabnya, pendidik perlu terus-menerus menyegarkan niat murid maupun dirinya sendiri. Jika guru mengajar dengan niat yang baik dan kuat, ia akan mengajar dengan penuh antusiasme dan kesungguhan. Dan karena antusiasme menular, anak-anak akan memiliki antusiasme yang besar pula!

Kedua, penanaman dan penguatan tujuan. Proses ini bisa dilakukan di rumah maupun sekolah. Akan lebih baik jika orangtua melakukannya dan guru menguatkannya di sekolah, sekaligus memperkaya wawasan siswa. Penguatan tujuan ini juga bisa kita lakukan dengan membangun visi hidup serta orientasi hidup anak. Jika visi hidup berkait dengan harapannya di masa yang akan datang, orientasi hidup adalah bagaimana dia memandang kehidupannya sehari-hari; untuk apa ia hidup.

Masih berkenaan dengan ingatan yang tajam. Selain beberapa hal yang baru saja kita bicarakan, daya ingat juga sangat dipengaruhi oleh emosi positif yang bernama optimisme. Salah satu faktor yang mendorong anak untuk optimis adalah keyakinan terhadap pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla; bahwa tuhan tak pernah tidur dan senantiasa menolong hamba-Nya yang memerlukan. Di sinilah kita bisa membangun pemahaman sekaligus orientasi hidup pada siswa tentang siapa saja orang yang senantiasa mendapat pertolongan dari Allah dan apa saja syaratnya.


Rasa Takut yang Positif

Jika optimisme berpengaruh terhadap daya ingat serta kemampuan memahami, maka kekhawatiran dan rasa takut membuat otak sulit mencerna informasi yang kita terima. Anak-anak yang cemas saat belajar cenderung lebih lamban dalam memahami pelajaran serta lemah dalam mengingat apa yang sudah pelajari. Lebih-lebih jika dibayang-bayangi oleh kegagalan, anak akan cenderung stress dan sulit memusatkan perhatian. Di saat konsentrasi lemah seperti itu, pelajaran yang mudah pun akan terasa sangat sulit.

Yang menyedihkan, kita justru sering menuntut mereka agar memperhatikan pelajaran di saat mereka sedang mengalami kesulitan berkonsentrasi. Ini membuat anak merasa semakin cemas. Ia pesimis. Jangankan menghadapi ujian, memahami pelajaran saja ia sudah kewalahan. Tak berdaya. Ujung-ujungnya, ia mulai menunjukkan perilaku menyimpang, nakal dan sejenisnya. Tindakan ini justru menguatkan keyakinan orangtua maupun guru bahwa anak-anaknya tidak bisa diatur, bodoh dan sejenisnya. Sebuah lingkaran setan yang sempurna!

Itu sebabnya, kita perlu memberi motivasi kepada anak-anak dengan membangun kedekatan emosi antara guru (termasuk orangtua) dan anak, membangkitkan antusiasme, menumbuhkan tujuan yang kuat, optimisme serta tanamkan makna dan nilai (meaning & value) yang kokoh. Gugah mereka untuk mempunyai mimpi besar di masa yang akan datang. Mimpi untuk berbuat dan bermakna. Bukan angan-angan untuk mendapatkan dunia melalui kecerdasannya.
Selain motivasi secara langsung, penguatan tujuan juga bisa kita lakukan dengan menciptakan rasa takut yang positif. Apa itu?

Jika rasa takut menghadapi ujian akan melemahkan kemampuan mereka dalam belajar, maka ketakutan yang berpijak pada rasa tanggung-jawab terhadap masa depan ummat ini, akan menguatkan tujuan. Semakin efektif kita menanamkan rasa takut yang positif, akan semakin kuat tekad mereka untuk belajar. Jika perlu, guru merancang kegiatan untuk memberi pengalaman mengesankan sekaligus memotivasi, pengalaman yang sulit mereka lupakan melalui kegiatan yang dramatis. Kita ajak mereka untuk membayangkan masa depan yang mengerikan bagi bangsa, ummat atau keluarga, kecuali jika mereka bersungguh-sungguh merebut masa depan.

Wallahu a’lam bishawab.
M. Fauzil Adhim
Read more
 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More